Sabtu, 19 November 2022
Jumat, 12 Juni 2020
Catatan Jum'atan
Mari kita lihat kemana tulisan ini akan membawa dirinya.
Sebenarnya ini bukan waktu yang pas untuk menulis. Ini waktunya makan siang. Apalagi tadi pagi saya memang tidak sarapan. Hanya karena sekarang sedang hujan, berteduhlah saya di basement Masjid Raya Kota Manado. Sholat Jum'at baru saja usai dilalsanakan. Tentunya dengan protokol kesehatan covid-19. Memakai masker, membawa sajadah sendiri, dan menjaga jarak shaf.
Tadi saya sudah membunyikan motor. Sudah sampai di pintu keluar basement. Tapi ternyata diluar sedang turun hujan. Cukup deras. Beberapa hari terakhir ini jadwal turun hujan selalu di siang hari. Antara jam 12 sampai jam 14. Pas sekali sebenarnya, kalau kebetulan saya lagi di kantor ataupun kalau lagi WFH. Hujan di siang hari di jam seperti ini, sangat pas untuk menyeruput kopi hangat, atau pun bersembunyi di balik selimut. Cuman sekarang saya lagi di basement masjid ini, berteduh menunggu hujan reda. Masih harus mencari makan siang.
Biasanya sebelum masa pandemik covid-19, banyak pedagang jajanan dan makanan yang berjualan di lingkungan sekitar masjid. Sekarang mereka tidak jualan. Pengunjung Masjid masih sunyi. Biasanya saya memesan ketoprak di salah satu angkringan disitu. Harganya dua belas ribu per porsi. Hanya saja saya selalu minta dilebihkan sepotong tahu goreng. Saya selalu membayar empat belas ribu. Saya selalu minta dibuatkan agak pedis sedikit. Sedap sekali memang rasanya, apalagi disantap setelah sholat Jum'at.
Tapi sekarang sedang hujan. Pandemik covid juga belum berakhir. Angkringan disini belum ada yang berjualan. Saya masih harus mencari makan siang di tempat lain.
Saya tidak tahu persis, profesi atau bidang mana yang paling terdampak dengan adanya pandemik covid-19 ini.
Cuman menurut saya, yang merasakan dampak yang cukup serius salah satunya adalah pedagang-pedagang angkringan yang berjualan di lingkungan masjid ini. Yang mengharapkan pembeli hanya dari pengunjung masjid yang singgah menunaikan sholat.
Sekarang masjid-masjid sudah mulai menyerukan lagi sholat berjamaah. Mungkin sebentar lagi pedagang-pedagang itu akan mulai berjualan lagi. Pengunjung masjid akan mulai lagi membeli dagangan-dagangan mereka. Lalu, selama ini apakah mereka punya penghasilan ketika tidak berjualan di masjid ini? Atau barangkali mereka mencari lokasi berjualan di tempat lain yang lebih ramai lalu-lintas orang.
Hidup memang butuh perjuangan. Apalagi di masa pandemik covid-19 ini. Tapi manusia adalah makhluk yang adaptif. Siapa yang tidak bisa menyesuaikan diri maka akan tertinggal di belakang. Pemerintah sudah menyerukan kehidupan New Normal. Beraktifitas dalam tatanan Kehidupan Baru. Kegiatan ekonomi sudah mulai dihidupkan kembali. Berharap masyarakat kembali produktif. Memenuhi kebutuhan hidupnya.
Semoga di era New Normal ini kita tidak lupa bahwa yang memberi hidup, dan yang menjamin rezeki kita hanyalah Allah Azza Wajalla. Dialah Tuhan yang menghidupkan dan mematikan kita. Dialah Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah.
Sesungguhnya pandemik covid-19 ini adalah ujian ketauhidan kita. Kepada siapa kita bergantung. Kepada siapa kita berharap. Laa ilaha illa Allah.
* * *
Sekarang hujan sudah reda. Saya masih harus mencari makan siang.
* * *
Sebenarnya ini bukan waktu yang pas untuk menulis. Ini waktunya makan siang. Apalagi tadi pagi saya memang tidak sarapan. Hanya karena sekarang sedang hujan, berteduhlah saya di basement Masjid Raya Kota Manado. Sholat Jum'at baru saja usai dilalsanakan. Tentunya dengan protokol kesehatan covid-19. Memakai masker, membawa sajadah sendiri, dan menjaga jarak shaf.
Tadi saya sudah membunyikan motor. Sudah sampai di pintu keluar basement. Tapi ternyata diluar sedang turun hujan. Cukup deras. Beberapa hari terakhir ini jadwal turun hujan selalu di siang hari. Antara jam 12 sampai jam 14. Pas sekali sebenarnya, kalau kebetulan saya lagi di kantor ataupun kalau lagi WFH. Hujan di siang hari di jam seperti ini, sangat pas untuk menyeruput kopi hangat, atau pun bersembunyi di balik selimut. Cuman sekarang saya lagi di basement masjid ini, berteduh menunggu hujan reda. Masih harus mencari makan siang.
Biasanya sebelum masa pandemik covid-19, banyak pedagang jajanan dan makanan yang berjualan di lingkungan sekitar masjid. Sekarang mereka tidak jualan. Pengunjung Masjid masih sunyi. Biasanya saya memesan ketoprak di salah satu angkringan disitu. Harganya dua belas ribu per porsi. Hanya saja saya selalu minta dilebihkan sepotong tahu goreng. Saya selalu membayar empat belas ribu. Saya selalu minta dibuatkan agak pedis sedikit. Sedap sekali memang rasanya, apalagi disantap setelah sholat Jum'at.
Tapi sekarang sedang hujan. Pandemik covid juga belum berakhir. Angkringan disini belum ada yang berjualan. Saya masih harus mencari makan siang di tempat lain.
Saya tidak tahu persis, profesi atau bidang mana yang paling terdampak dengan adanya pandemik covid-19 ini.
Cuman menurut saya, yang merasakan dampak yang cukup serius salah satunya adalah pedagang-pedagang angkringan yang berjualan di lingkungan masjid ini. Yang mengharapkan pembeli hanya dari pengunjung masjid yang singgah menunaikan sholat.
Sekarang masjid-masjid sudah mulai menyerukan lagi sholat berjamaah. Mungkin sebentar lagi pedagang-pedagang itu akan mulai berjualan lagi. Pengunjung masjid akan mulai lagi membeli dagangan-dagangan mereka. Lalu, selama ini apakah mereka punya penghasilan ketika tidak berjualan di masjid ini? Atau barangkali mereka mencari lokasi berjualan di tempat lain yang lebih ramai lalu-lintas orang.
Hidup memang butuh perjuangan. Apalagi di masa pandemik covid-19 ini. Tapi manusia adalah makhluk yang adaptif. Siapa yang tidak bisa menyesuaikan diri maka akan tertinggal di belakang. Pemerintah sudah menyerukan kehidupan New Normal. Beraktifitas dalam tatanan Kehidupan Baru. Kegiatan ekonomi sudah mulai dihidupkan kembali. Berharap masyarakat kembali produktif. Memenuhi kebutuhan hidupnya.
Semoga di era New Normal ini kita tidak lupa bahwa yang memberi hidup, dan yang menjamin rezeki kita hanyalah Allah Azza Wajalla. Dialah Tuhan yang menghidupkan dan mematikan kita. Dialah Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah.
Sesungguhnya pandemik covid-19 ini adalah ujian ketauhidan kita. Kepada siapa kita bergantung. Kepada siapa kita berharap. Laa ilaha illa Allah.
* * *
Sekarang hujan sudah reda. Saya masih harus mencari makan siang.
* * *
Sabtu, 26 Oktober 2019
Sabtu Bersama Bapak
Foto ini diambil oleh Isteri saya, hari Sabtu ini, di ruang tengah rumah kami. Setiap Sabtu dan Ahad saya memang punya waktu yang cukup banyak buat putri kecil kami Muthmainnah Lailatul Qadar. Jadilah foto di atas diberi caption Sabtu Bersama Bapak.
Robbi habli minash sholihin.
(*)
Minggu, 10 Maret 2019
Bulan Maret ini banyak yang Menikah
Bulan Maret ini banyak yang menikah. Pekan lalu kami menghadiri walimatul 'urs teman isteri saya. Malam kemarin kami menghadiri resepsi pernikahan teman saya. Insya Allah dua pekan nanti anak tetangga kami juga akan menikah.
Selain dari ketiga acara pernikahan itu, banyak juga kabar pernikahan dari teman-teman yang lain yang telah ataupun yang akan melangsungkan pernikahan di bulan Maret ini. Tabarakallahu.
Saya sudah banyak menghadiri pesta pernikahan, dari mulai pesta mewah yang diadakan di hotel berbintang, sampai dengan pesta sederhana yang hanya digelar di halaman rumah.
Dari menghadiri pesta-pesta pernikahan itu, saya juga banyak mendapatkan souvenir pernikahan yang dibagikan bagi para tamu undangan. Souvenir yang paling sering adalah kipas. Saya pun ketika menikah souvenirnya kipas, hehehe.
Namun, dari sekian banyak souvenir yang pernah saya dapatkan, ada tiga souvenir yang awet saya gunakan hingga kini. Yang pertama adalah taplak tatakan cangkir. Benda ini saya dapatkan pada pesta pernikahan teman staf sekretaris di kantor saya. Tatakan cangkir ini menjadi alas gelas minum saya di kantor.
Yang kedua adalah talenan. Benda ini saya dapatkan dari pesta pernikahan teman bermain futsal. Waktu itu saya masih bujang. Setelah menikah, talenan ini menjadi sering digunakan bahkan hampir setiap hari oleh isteri saya. Untuk alas mengiris bawang, lombok, sayur, dan bumbu dapur lainnya.
Yang ketiga adalah jam dinding. Benda ini saya dapatkan pada pesta pernikahan salah seorang teman yang ketika kuliah dulu menjadi adik tingkat saya. Waktu itu pestanya diadakan di Manado tempat saya merantau kerja dan berdomisili. Jam dinding ini masih awet hingga sekarang dan menghuni salah satu ruangan di rumah kami.
Souvenir ini sepertinya menjadi salah satu pernak-pernik yang hampir selalu ada disetiap pesta pernikahan, selain photo booth yang juga mulai sering disiapkan di pintu masuk.
Namun, pernikahan bukan soal bagaimana pesta pernikahan kita ataupun bukan soal sovenir apa yang kita siapkan. Yang lebih penting ternyata adalah niat. Kita menikah karena dan untuk apa?
Apakah karena kita sudah bekerja maka harus menikah? Apakah karena teman-teman seangkatan kita sudah banyak menikah maka kita pun harus menikah? Apakah karena orangtua kita sudah kepingin menimang cucu maka kita harus menikah? Apakah karena umur kita sudah memasuki angka tigapuluhan maka menikah sudah tidak boleh ditunda lagi?
Ternyata yang lebih penting dan utama adalah niat. Maka niatkanlah menikah untuk beribadah karena Allah. Begitulah pesan Agama. Bagi yang sudah menikah, belum terlambat untuk memperbaharui niat. Bagi yang belum menikah, belum tibakah saatnya untuk menikah? Semoga saatnya segera tiba, dan ketika saat itu tiba maka niatnya adalah menikah karena Allah. Aamiin Allahumma Aamiin.
Salam dari kami di Manado ...
(*)
Kamis, 17 Januari 2019
Pendidikan Membaca pada Anak
Assalamu'alaikum, apa kabar 2019?
Tulisan berikut ini saya salin dari beranda facebook seorang Teman.
* * *
Dulu, saat saya masih aktif jadi guru privat, saya pernah terkejut saat mendapati anak usia 4 tahun belum bisa menyebutkan nama binatang dan sayuran yang umum dilihat yang ada di sebuah buku cerita anak. Setelah ditelusuri, ternyata anak itu belum pernah dibacakan buku apapun dari bayi. Empat tahun usianya, belum pernah dibacakan buku!
Bukan, saya bukan sedang mengkritisi kecerdasannya. Saya mengkritisi kenapa hingga usia 4 tahun orang tuanya gak pernah membacakan buku apapun ke anaknya. Dan kemudian, tiba-tiba mengeleskan anaknya baca tulis hitung!
Anak usia 4 tahun, sebelumnya gak pernah dibacain buku, lalu mau les calistung!
Masya Allah
Kalo boleh saya ibaratkan, ini sama aja kayak gelas kosong yg dingin lalu tiba2 disiram air panas mendidih dari kompor. Apaa yg terjadi? Retak, pecah, umeb lah otaknya.
Belakangan, seiring bertambah seringnya jam terbang ngelesin, saya semakin terkejut karena kasus seperti ini ternyata UMUM terjadi. Banyak sekali orang tua yg gak pernah membacakan buku pada anaknya dari bayi, kemudian ujug2 tiba2 mengeleskan anaknya membaca. Atau membiarkan anaknya masuk TK/SD untuk diajari membaca. Usia 5tahun, 6tahun, belum pernah dibacain buku dan tiba2 disuruh cepet bisa baca.
Pak, Bu yang bijaksana
Sungguh anak itu bukan kelinci percobaan yang bisa kita coba-coba kemampuan otaknya sesuka hati.
Anak itu baruuu boleh diajarkan membaca saat sudah seriiiiing dibacain buku,
saat sudah luluuus kemampuan pra membacanya seperti menggunting, menghubungkan titik-titik, memahami konsep cerita dll.
Emang apa bedanya anak yg biasa dibacain buku dan yg gak biasa dibacain buku saat mereka belajar membaca?
BEDA. Saya membuktikan sendiri keduanya berbeda.
Anak yg biasa dibacain buku akan fokus MEMAHAMI BACAAN. Sedangkan anak yang gak biasa dibacain buku akan fokus MEMBACA TULISAN.
Misal, ada gambar buku yang di bawahnya bertuliskan B-U-K-U
Anak yg biasa dibacain buku akan dengan spontan berkata BU-KU meski belum diajari mengeja. Dia tahu kalo itu gambar buku, maka tulisan di bawahnya adalah buku.
Sementara anak yg gak biasa dibacain buku, akan dengan susah payah mengeja tulisan itu.
be u BU
ka u KU
BU KU
Ya. Dia fokus pada tulisan. Bukan konteks.
Maka, mengajari anak yg gak biasa dibacain buku ituuu lebih susah karena si anak lebih fokus MEMBACA TULISAN, bukan MEMAHAMI BACAAN.
Yang model begini, kalo udah mahir membaca lalu disuruh membaca satu cerita utuh, dia hanya akan sekadar membaca tulisannya. Saat ditanya, apa isi ceritanya? Dia gak tau.
Murid les saya banyak yg begini.
Beda dengan yg biasa dibacain buku, dia MEMBACA untuk MEMAHAMI. Saat sudah mahir membaca dan disuruh membaca satu cerita utuh, dia akan bisa menjelaskan ulang isi cerita tersebut. Bahkan ditambahin komentarnya tentang cerita tersebut. Atau bahkan melontarkan pertanyaan2 terkait cerita yg dibaca.
See?
Logika yang benar itu, biasain membacakan buku pada anak dulu dari kecil, baruuu ajarin anak membaca.
Bukaaan bisa baca dulu baru dibiasain baca buku!
Efeknya apa di masa depan kalo ujug-ujug diajarin baca?
Yaaa kayak timeline kita sekarang ini. Mudah terprovokasi, mudah diadu domba, mudah tersulut emosi, mudah dipecah belah sama informasi apapun yg dibaca. Karena membacanya hanya sekadar membaca, gak ditelaah dulu, gak di tabayun dulu. Duuuh
Nah, balik lagi ke pentingnya membacakan buku pada anak dari kecil, kita gak mau kan jadi orang tua yg dzalim?
Kita gak mau kan ngerusak otak anak kita sendiri?
Kita gak mau kan anak kita CUMA sekadar bisa MEMBACA?
Maka,
Pak, Bu yang bijaksana
Luangkanlah waktumu sejenak
Tatap beningnya mata anak-anak
Penuhi fitrah cinta ilmu sang anak
Ceritakanlah kisah-kisah teladan penuh hikmah yang membutuhkan semangat menyeruak
Bermainlah bersamanya tunjukkan betapa indahnya dunia sambil mensyukuri ciptaan Sang Rozzak
Bacakanlah satu dua buku untuknya jangan mengelak
Pak, Bu yang baik hatinya
Sediakanlah fasilitas baca yg mumpuni di rumah sendiri
Atau kalo tak bisa, ajaklah balitamu ke perpus kota minimal seminggu sekali
Sekarang jangan banyak beralasan lagi!
Anak kita berhak memiliki orang tua yang peduli pada kecintaan membaca, bukan sekadar mahir membaca.
~Novika Amelia
(*)
Tulisan berikut ini saya salin dari beranda facebook seorang Teman.
* * *
Dulu, saat saya masih aktif jadi guru privat, saya pernah terkejut saat mendapati anak usia 4 tahun belum bisa menyebutkan nama binatang dan sayuran yang umum dilihat yang ada di sebuah buku cerita anak. Setelah ditelusuri, ternyata anak itu belum pernah dibacakan buku apapun dari bayi. Empat tahun usianya, belum pernah dibacakan buku!
Bukan, saya bukan sedang mengkritisi kecerdasannya. Saya mengkritisi kenapa hingga usia 4 tahun orang tuanya gak pernah membacakan buku apapun ke anaknya. Dan kemudian, tiba-tiba mengeleskan anaknya baca tulis hitung!
Anak usia 4 tahun, sebelumnya gak pernah dibacain buku, lalu mau les calistung!
Masya Allah
Kalo boleh saya ibaratkan, ini sama aja kayak gelas kosong yg dingin lalu tiba2 disiram air panas mendidih dari kompor. Apaa yg terjadi? Retak, pecah, umeb lah otaknya.
Belakangan, seiring bertambah seringnya jam terbang ngelesin, saya semakin terkejut karena kasus seperti ini ternyata UMUM terjadi. Banyak sekali orang tua yg gak pernah membacakan buku pada anaknya dari bayi, kemudian ujug2 tiba2 mengeleskan anaknya membaca. Atau membiarkan anaknya masuk TK/SD untuk diajari membaca. Usia 5tahun, 6tahun, belum pernah dibacain buku dan tiba2 disuruh cepet bisa baca.
Pak, Bu yang bijaksana
Sungguh anak itu bukan kelinci percobaan yang bisa kita coba-coba kemampuan otaknya sesuka hati.
Anak itu baruuu boleh diajarkan membaca saat sudah seriiiiing dibacain buku,
saat sudah luluuus kemampuan pra membacanya seperti menggunting, menghubungkan titik-titik, memahami konsep cerita dll.
Emang apa bedanya anak yg biasa dibacain buku dan yg gak biasa dibacain buku saat mereka belajar membaca?
BEDA. Saya membuktikan sendiri keduanya berbeda.
Anak yg biasa dibacain buku akan fokus MEMAHAMI BACAAN. Sedangkan anak yang gak biasa dibacain buku akan fokus MEMBACA TULISAN.
Misal, ada gambar buku yang di bawahnya bertuliskan B-U-K-U
Anak yg biasa dibacain buku akan dengan spontan berkata BU-KU meski belum diajari mengeja. Dia tahu kalo itu gambar buku, maka tulisan di bawahnya adalah buku.
Sementara anak yg gak biasa dibacain buku, akan dengan susah payah mengeja tulisan itu.
be u BU
ka u KU
BU KU
Ya. Dia fokus pada tulisan. Bukan konteks.
Maka, mengajari anak yg gak biasa dibacain buku ituuu lebih susah karena si anak lebih fokus MEMBACA TULISAN, bukan MEMAHAMI BACAAN.
Yang model begini, kalo udah mahir membaca lalu disuruh membaca satu cerita utuh, dia hanya akan sekadar membaca tulisannya. Saat ditanya, apa isi ceritanya? Dia gak tau.
Murid les saya banyak yg begini.
Beda dengan yg biasa dibacain buku, dia MEMBACA untuk MEMAHAMI. Saat sudah mahir membaca dan disuruh membaca satu cerita utuh, dia akan bisa menjelaskan ulang isi cerita tersebut. Bahkan ditambahin komentarnya tentang cerita tersebut. Atau bahkan melontarkan pertanyaan2 terkait cerita yg dibaca.
See?
Logika yang benar itu, biasain membacakan buku pada anak dulu dari kecil, baruuu ajarin anak membaca.
Bukaaan bisa baca dulu baru dibiasain baca buku!
Efeknya apa di masa depan kalo ujug-ujug diajarin baca?
Yaaa kayak timeline kita sekarang ini. Mudah terprovokasi, mudah diadu domba, mudah tersulut emosi, mudah dipecah belah sama informasi apapun yg dibaca. Karena membacanya hanya sekadar membaca, gak ditelaah dulu, gak di tabayun dulu. Duuuh
Nah, balik lagi ke pentingnya membacakan buku pada anak dari kecil, kita gak mau kan jadi orang tua yg dzalim?
Kita gak mau kan ngerusak otak anak kita sendiri?
Kita gak mau kan anak kita CUMA sekadar bisa MEMBACA?
Maka,
Pak, Bu yang bijaksana
Luangkanlah waktumu sejenak
Tatap beningnya mata anak-anak
Penuhi fitrah cinta ilmu sang anak
Ceritakanlah kisah-kisah teladan penuh hikmah yang membutuhkan semangat menyeruak
Bermainlah bersamanya tunjukkan betapa indahnya dunia sambil mensyukuri ciptaan Sang Rozzak
Bacakanlah satu dua buku untuknya jangan mengelak
Pak, Bu yang baik hatinya
Sediakanlah fasilitas baca yg mumpuni di rumah sendiri
Atau kalo tak bisa, ajaklah balitamu ke perpus kota minimal seminggu sekali
Sekarang jangan banyak beralasan lagi!
Anak kita berhak memiliki orang tua yang peduli pada kecintaan membaca, bukan sekadar mahir membaca.
~Novika Amelia
(*)
Selasa, 26 Juni 2018
Libur adalah Kerja
Besok libur lagi. Padahal baru dua hari ini saya ngantor lagi. Besok libur lagi, libur karena pilkada. Padahal di kotaku yang sekarang, Manado, sedang tidak ada pilkada.
Memang asyik Pemerintahan yang sekarang. Nama kabinetnya: Kabinet Kerja. Slogannya: Kerja, Kerja, Kerja. Namun seingat saya, Pemerintahan yang sekaranglah yang paling banyak memberikan kebijakan hari libur nasional.
Besok libur lagi. Walaupun begitu, libur besok bukan berarti kita tidak bikin apa-apa. Bagi yang di daerahnya ada pilkada, datangilah Tempat Pemungutan Suara. Siapa pun Pilihan Anda, pokoknya besok ke TPS, jangan Golput. Begitu pesan Teman saya.
Tulisan ini saya buat saat saya sedang nongkrong disebuah lapak pangkas rambut. Setiap saya berada di pangkas rambut, saya selalu teringat nasehat ini. Salah memilih Pangkas Rambut menyesal selama dua minggu. Salah memilih di pilkada, menyesal selama lima tahun.
Besok libur lagi. Pilihan kita di pilkada besok akan mewarnai kerja kita lima tahun kedepan.
Dan setelah besok, setelah hari-hari sudah mulai bekerja lagi. Mampirlah di lapak Pangkas Rambut kami ini. (*)
Memang asyik Pemerintahan yang sekarang. Nama kabinetnya: Kabinet Kerja. Slogannya: Kerja, Kerja, Kerja. Namun seingat saya, Pemerintahan yang sekaranglah yang paling banyak memberikan kebijakan hari libur nasional.
Besok libur lagi. Walaupun begitu, libur besok bukan berarti kita tidak bikin apa-apa. Bagi yang di daerahnya ada pilkada, datangilah Tempat Pemungutan Suara. Siapa pun Pilihan Anda, pokoknya besok ke TPS, jangan Golput. Begitu pesan Teman saya.
Tulisan ini saya buat saat saya sedang nongkrong disebuah lapak pangkas rambut. Setiap saya berada di pangkas rambut, saya selalu teringat nasehat ini. Salah memilih Pangkas Rambut menyesal selama dua minggu. Salah memilih di pilkada, menyesal selama lima tahun.
Besok libur lagi. Pilihan kita di pilkada besok akan mewarnai kerja kita lima tahun kedepan.
Dan setelah besok, setelah hari-hari sudah mulai bekerja lagi. Mampirlah di lapak Pangkas Rambut kami ini. (*)
Senin, 13 November 2017
Teman Perjalanan bernama Gita
Alhamdulillah, hari ini adalah hari ke dua puluh tiga usia pernikahan kami. Masih baru memang, bahkan belum bisa disebut seumur jagung, karena umur jagung adalah tujuh puluh hari, heheh. Namun di usia pernikahan kami yang baru dua puluh tiga hari ini telah ada begitu banyak hal yang layak ditulis sebagai pengingat bagi saya dan isteri.
Pernah disuatu pagi saya minta dibuatkan sarapan telur mata sapi untuk dimakan di kantor. Saat tiba di kantor, saya mengirim WA ke isteri.
Pernah disuatu pagi saya minta dibuatkan sarapan telur mata sapi untuk dimakan di kantor. Saat tiba di kantor, saya mengirim WA ke isteri.
"Alhamdulillah saya sudah di kantor. Sudah sarapan juga. Enak pake banget telur mata sapinya."
Pernah juga dipagi berikutnya, di meja sarapan, saya bilang ke isteri. Ternyata begini ya enaknya jika punya isteri. Padahal dulu sebelum menikah saya sarapan juga. Tapi beda rasanya jika sarapannya dibuatkan dan dimakan bersama-sama dengan isteri tercinta. Bukan cuma hal sarapan saja. Dari bangun tidur, ngopi atau ngeteh pagi, berangkat kantor, bertukar kabar saat di kantor, pulang kantor, bahkan sampai ke hal-hal sederhana lainnya, terasa berbeda ketika telah menikah.
Saya mengibaratkan, jika sebelum menikah seperti ada ruang-ruang kosong dalam diri ini, ruang-ruang kosong yang tak kasat mata. Maka setelah menikah, ruang kosong tadi menjadi terisi oleh kehadiran peran seorang isteri.
Saya menyadari bahwa untuk menjadi suami terbaik bagi isteri saya, dan ayah terbaik (insya Allah) bagi anak-anak kami kelak, tidaklah mudah. Tapi saya akan belajar, begitu pula isteri saya. Perjalanan masih jauh. Hari ini baru hari ke dua puluh tiga. Bahtera rumah tangga kami baru saja berlayar. Tapi apapun di depan sana, kami telah mantap untuk memilih menjadi suami isteri.
Sebelumnya kami memang tidak pernah menjalani pacaran. Kami dipertemukan dengan jalan ta'aruf. Dan memang seperti inilah sebenarnya yang telah disyariatkan agama. Setelah menikah kami sepakat menjadi suami isteri sekaligus menjadi teman dan sahabat dalam berbagi.
Pernah disuatu siang isteri saya mengirimkan pesan WA ke saya. Beberapa baris pesan itu tertulis seperti ini:
Terima kasih sudah memilih sy jadi
istri Mas. Bersusah payah menambah
amanah utk dijaga, dibina dan
dilindungi.
Semoga kebersamaan ini dapat saling
menguatkan, menumbuhkan dan
mengembangkan masing-masing
dari kita menjadi pribadi yg lebih baik
dan memberikan manfaat yg lebih
luas.
Terima kasih Mas, sudah
menggenapkan separuh agama sy.
Maafkan istrimu ini... dengan segala
kelemahan, keanehan dan sok
kuatnya.
Ana uhibbuka fillah
* * *
Saya membaca pesan WA isteri saya tadi, tetapi baru sembilan hari kemudian mampu saya kirimkan balasannya. Saya membalasnya dengan sebuah kalimat pendek. Aamiin Allahumma Aamiin. Begitu bunyinya. Semoga Allah mengabulkannya. Walaupun setiap hari bersama dan berkomunikasi, namun untuk beberapa pesan yang hendak kami kenang, kami meyampaikannya lewat pesan tertulis melalui WA. Kadang kami mengirimkan pesan melalui WA, padahal kami sedang duduk berdampingan. Begitulah kami. Kadang lucu juga, wkwkwk.
Sebelum menikah dulu, di pertemuan ta'aruf kami pernah terlibat diskusi singkat tentang apa itu pernikahan. Isteri saya yang saat itu belum menjadi isteri dengan tegas menjawab: Pernikahan itu bukan hanya sekedar bersama di dunia saja, namun berharap kemudian dapat dikumpulkan bersama dengan anak cucu keturunan di syurga-Nya kelak.
Setelah diskusi itu, beberapa hari kemudian saya bersilaturahim ke kedua orangtuanya. Menyampaikan maksud untuk melamar anak perempuan mereka. Pantun berbalas, maksud berjawab. Alhamdulillah lamaran saya diterima. Dua bulan kemudian kami menikah. Tanggal 2 Shafar 1439 H. Perjalanan pun dimulai. Bismillah.
Menikah memang bukan perjalanan singkat. Menikah adalah perjalanan jauh, menempuh batas-batas dunia untuk mencari keridhaan Allah sehingga berharap dipertemukan kembali di syurga Allah kelak.
Saya teringat sebuah pepatah yang mengatakan: If you want to walk fast, walk alone. If you want to walk far, walk together. Jika kamu ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika kamu ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama.
Perjalanan sudah kami mulai. Dan, teman perjalanan jauh ini bernama Gita.
Semoga Allah selalu membimbing langkah kami. Aamiin Allahumma Aamiin. (*)
Jumat, 22 September 2017
Banyak Deadline
Di saat-saat seperti hari ini, benarlah apa yang dipesankan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang."
(HR. Al-Bukhari)
(*)
Sabtu, 20 Mei 2017
Kamis, 09 Februari 2017
Heheh
Sejak satu tahun terakhir ini, teman-teman kantor menjadi lebih antusias dan bersemangat setiap kali akhir pekan datang. Sebab, setiap akhir pekan kami punya agenda rutin bermain futsal. Pada awalnya kegiatan main futsal ini hanya sebagai ajang silaturahim teman-teman yang terpisah bekerja di beberapa kantor cabang dan anak perusahaan. Selain sebagai sarana silaturahim, beberapa teman juga punya tujuan lain, ada yang ingin mengasah kembali skill bermain futsalnya, menghilangkan kepenatan karena pekerjaan di kantor, menambah pertemanan baru, atau untuk mengurangi ukuran lingkar perut.
Untuk menjaga kesinambungan agenda futsal mingguan ini, saya bertanggung jawab untuk mencari lawan tanding di setiap pekannya. Lawannya tidak boleh itu-itu saja. Lawannya tidak boleh yang sekedar hanya untuk mencari keringat saja. Lawannya harus punya fighting spirit. Lawannya harus punya visi bermain.
Karena tanggung jawab tersebut, makanya setiap pekan paling lambat hari Kamis, saya sudah harus menemukan lawan tanding yang bersedia main di Jum'at malam atau di Sabtu pagi. Sepak terjang Tim Futsal kami juga sudah mulai diperhitungkan oleh lawan-lawan yang pernah kami hadapi. Seringkali kami ditantang untuk bertanding ulang pada kesempatan berikutnya. Gara-gara futsal ini juga, Alhamdulillah lingkaran pertemanan saya menjadi bertambah luas.
Minggu lalu agenda main futsal kami gagal karena lawan yang awalnya sudah bersedia main tiba-tiba membatalkan janji. Pembatalan itu terjadi di Jum'at pagi. Padahal janji bermain adalah di Jum'at malam sebentar lagi. Dengan sangat menyesal dan meminta maaf, teman saya di Tim Lawan itu menyampaikan kabar pembatalan main. Alasannya karena ada teman mereka yang malam sebelumnya mengalami kecelakaan mobil.
Beberapa minggu sebelumnya, kami juga pernah batal bermain futsal. Kali ini lawannya sudah ada. Janji bermainnya adalah di Jum'at malam juga. Namun hingga selepas Shalat Jum'at, beberapa lapangan futsal yang kami hubungi ternyata sudah full dibooking semua. Saya bahkan meminta barangkali ada lapangan cadangan yang bisa disewakan, ternyata tidak ada juga. Akhirnya, teman-teman kami hubungi ulang. Agenda futsal hari itu batal.
Berbeda dengan dua kejadian di atas tadi, sampai malam ini, malam Jum'at, belum ada satu pun Tim Futsal yang saya hubungi untuk melawan kami. Kami memang berencana tidak main futsal dulu untuk akhir pekan besok. Namun ajaibnya, sehabis Isya tadi ketika saya membuka ponsel, sebuah pesan masuk. Isinya adalah ajakan untuk bermain futsal. Lapangan sudah dibooking. Lawan siap, lapangan siap. Pokoknya tinggal datang bermain saja. Bukan hanya satu ajakan. Kali ini ada dua lawan yang mengajak bermain. Semuanya sudah menyiapkan lapangan. Dan kedua lawan ini bukan lawan sembarangan. Semuanya punya skill yang tidak main-main.
Heheh.. Membaca pesan ajakan bermain futsal selepas Isya tadi, saya jadi merenung dan tersenyum sendiri. Beberapa minggu sebelumnya kami bersusah-payah ingin main futsal, namun akhirnya tidak jadi karena lapangan full-bookingan semua. Sedangkan minggu lalu kami sudah hampir pasti bermain futsal, eh tiba-tiba lawan membatalkan janji tepat di hari H ketika sudah tidak memungkinkan lagi mencari lawan pengganti.
Heheh.. barangkali begitulah kehidupan ini. Kadang-kadang sesuatu itu perlu susah-payah kita usahakan, kadang-kadang pula sesuatu itu datang begitu saja tanpa kita sangka-sangka.
Heheh.. (*)
Rabu, 23 November 2016
Kebaikan-kebaikan sederhana
Hari ini saya banyak mendapat kebaikan-kebaikan sederhana dari orang lain.
Siang tadi, pas mau bayar makan siang di warung langganan saya, uang terkecil di dalam dompet hanyalah dua belas ribu, padahal harga makanan saya tiga belas ribu. Saya ingin membayar dengan uang yang lebih besar, tidak ada kembalian. "Nanti saja Mas seribunya, nanti makan berikutnya lagi", kata si Penjaga Warung.
Setelah makan, saya singgah di Tukang Tambal Ban. Saya hendak melakukan perjalanan motor ke kabupaten sebelah. Ban belakang motor saya sedikit kempes, mau saya tambah anginnya. Ceritanya hampir sama dengan di warung makan sebelumnya. Si Tukang Tambal Ban juga tidak punya uang kembalian. "Dibawa saja dulu duitnya Bang, nanti kalau lewat sini lagi baru dibayar", kata Si Tukang. Alhamdulillah, perjalanan saya ke kabupaten sebelah berjalan mulus dan urusan saya disana juga berjalan lancar. Saya tiba kembali di Manado menjelang maghrib.
Melakukan perjalanan motor ternyata bikin lapar. Malam ini saya singgah di gerobak nasi goreng milik teman kost saya dulu waktu masih indekos. Saya memesan nasi goreng putih pakai telur dadar, tidak pakai kecap, tidak pakai saus, tidak pakai vetsin. Saya makan lahap sekali, tak sebiji nasi pun tersisa di piring. Eh, pas mau bayar, teman ini tidak mau mengambil uang saya. "Dipakai buat beli bensin aja uangnya, Bang", kata teman saya itu.
Setelah dari makan nasi goreng, saya mampir sebentar ke kantor hendak mengambil carger hape yang ketinggalan. Saat mau pulang, teman-teman juga datang dari acara menjamu makan malam Bos dari Kantor Pusat. Eh ternyata, saya kebagian sekotak ikan woku hangat khas Manado. "Pak Luq, ini buat dibawa ke rumah", kata teman saya.
Di perjalanan pulang ke rumah, saya bertanya-tanya, kenapa begitu banyak kebaikan-kebaikan tak terduga yang saya terima hari ini. Lalu saya, kebaikan-kebaikan apa yang sudah saya lakukan hari ini? (*)
Kamis, 06 Oktober 2016
Memandangi Hujan
![]() |
| Gambar ilustrasi. Sumber: mediashift.org |
Musim hujan datang berember-ember
Orang-orang melangkah bergegas-gegas
Hujan mengguyur menghapus jejak-jejak
Kita berteduh membasuh peluh sejenak
Saling memandang kita saling bertanya
Apakah harus melanjutkan perjalanan
Atau membiarkan hujan hingga mereda
Kita hanya diam memandangi hujan
Ini bulan-bulan berakhir ber
(*)
Senin, 03 Oktober 2016
Jumat, 23 September 2016
Selamat Pagi
Dua hari yang lalu saya ke toko buku. Kebetulan sedang ada bursa buku murah disana. Saya tak sengaja menemukan sebuah novel, kemudian saya beli. Harganya dua puluh ribu. Soal harga saya selalu bilang, "don't judge a book by it price". Cleo, judul novel itu.
Saya tidak perlu menghabiskan berpuluh-puluh halaman untuk mengetahui kenapa novel itu berjudul Cleo. Cleo itu nama seekor anak kucing betina dari ras Abyssinian. Abyssinian merupakan salah satu ras kucing tertua keturunan jaman Mesir kuno. Cleo diambil dari nama Cleopatra, Ratu Mesir yang terkenal itu. Dalam novel tadi diceritakan bahwa kucing Cleo memiliki keanggunan seperti Ratu Mesir Cleopatra.
Saya baru membaca sampai pada halaman 75. Novel itu bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga di Australia Selandia Baru. Sebuah keluarga kecil dengan dua anak yang juga masih kecil. Sam, 9 tahun, dan adiknya Rob, 6 tahun.
Pada ulang tahunnya yang ke-9, Sam meminta pada ibunya agar tidak perlu ada perayaan besar. Sam hanya minta untuk diizinkan memelihara seekor kucing. Namun tragedi terjadi pada keluarga ini. Beberapa minggu setelah perayaan sederhana ulang tahunnya yang ke-9, Sam meninggal. Siang itu Sam tertabrak mobil. Meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dead on Arrival. Ibunya shock. Tidak percaya.
Saya memang baru sampai pada halaman 75 dari novel itu. Tapi menurut saya, buku ini masuk kategori buku must read atau must have, apalagi bagi penggemar kisah-kisah seputar Kehidupan Keluarga. Di halaman-halaman awal saya sudah menemukan pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang kehidupan ini. Salah satunya adalah pertanyaan dari Ibunda Sam yang belum bisa menerima kematian anaknya. Kematian yang juga sering disebut sebagai pergi untuk selama-lamanya. Ibunda Sam kemudian bertanya, mungkin kepada Tuhan, kepada orang-orang yang datang memberikan penghiburan, atau mungkin bertanya kepada dirinya sendiri. Berapa lama selama-lamanya itu?
Mungkin saya akan mendapatkan jawabannya di halaman-halaman selanjutnya.
Selamat pagi! (*)
Selasa, 26 April 2016
Selasa, 22 Maret 2016
Saya Selalu Menyukai Sepakbola
Sabtu, 30 Januari 2016
11 Website bagi Pencinta Buku
Berikut ini adalah daftar 11 website, menurut www.idntimes.com, yang membuat kamu para pencinta buku merasa ada di surga.
- en.bookfi.org
- ibookpile.com
- perpusonline.com
- ebook.bike
- goodreads.com
- freebookspot.es
- ebookee.org
- bukukita.org
- parcelbuku.net
- bukuindie.com
- iJakarta.id
Minggu, 27 Desember 2015
Novel Pulang Tere Liye, Buku Biografi Andy F. Noya, dan Tahun 2015 yang Akan Berakhir
Tahun
2015, akhirnya, akan segera berakhir. Masih lima hari lagi. Sudah lima hari
pula saya libur kerja. Hari ini hari keenam, hari terakhir liburan. Libur enam
hari itu ternyata sama dengan libur selama seratus empat puluh empat jam. Tapi
kenapa rasanya seperti sebentar saja. Heheh.
Desember
tahun ini saya tidak pulang ke kampung. Walaupun sebenarnya libur 6 hari itu
adalah waktu yang cukup untuk mudik ke tanah kelahiran saya Raha, Kabupaten
Muna, di Sulawesi Tenggara sana. Alasan pertama saya tidak mudik adalah karena
baru saja bulan November yang lalu saya mengunjungi kampungku itu. Alasan yang kedua adalah karena masih ada
beberapa urusan pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum tahun 2015 berakhir.
Tiga
tahun terakhir setiap Desember saya memang selalu pulang memanfaatkan banyaknya
hari libur disekitaran hari natal. Tiga tahun terakhir ini setiap tahun saya
selalu pulang dua kali, saat Hari Raya Idul Fitri dan liburan natal. Memang,
sebaik-baik liburan adalah ke kampung sendiri. Apalagi jika disana kita masih
bisa bertemu dan menciumi tangan kedua orang tua kita. Bapak saya selalu
bilang, kepulangan kami anak-anaknya adalah obat umur panjang bagi orang tua.
Enam
hari libur, saya tidak kemana-mana. Saya di rumah saja. File-file pekerjaan
kantor yang akan diselesaikan ikut saya boyong ke rumah. Oh iya, saya menyebut
rumah karena sejak satu bulan lalu saya tidak indekos lagi. Saya sekarang
tinggal agak jauh sedikit dari pusat kota, menyewa sebuah rumah kecil. Di depan
rumah itu saya tanami bibit pohon rambutan pemberian Bapak Kostku sebelumnya. Kata
Beliau, pohon rambutan itu sebagai kenang-kenangan agar saya selalu mengingat
keluarga kos-kosan.
Liburan
kali ini saya memang tidak kemana-mana, saya hanya di rumah saja. Saya membaca
habis dua buah buku. Novel berjudul Pulang
karya Tere Liye dan Buku Biografi Andy F.
Noya, host Acara Kick Andy di Metro TV itu. Dari dua buku yang habis saya
baca itu, walaupun saya hanya di rumah saja, tetapi dengan membacanya saya
seperti mengunjungi banyak tempat, berjumpa banyak peristiwa, dan mengunjungi
dimensi waktu yang banyak pula. Disitulah keajaibannya kalau kita membaca buku.
Walaupun genrenya berbeda, secara
garis besar, kedua buku itu sama-sama bercerita tentang pengalaman-pengalaman
masa lalu, pencapaian-pencapaian hari ini, dan harapan-harapan di masa depan. Di tulisan
ini saya tidak ingin membedah isi kedua buku itu. Anda yang mengikuti
novel-novel Tere Liye mungkin saja sudah membaca novel berjudul Pulang tersebut. Saya bukan pengoleksi
novel, tapi kalau Anda ingin mengoleksi, saya menyarankan untuk tidak
melewatkan karya-karya Tere Liye. Sampai hari ini saya (baru) hanya memiliki
empat judul karangannya. Rembulan
Tenggelam Di Wajahmu, Sunset Bersama Rose, Eliana, dan Pulang. Setelah ini saya mungkin akan mencari judul-judul yang
lain. Dalam karya-karya Tere Liye banyak disisipkan nasehat-nasehat kehidupan. Menurut
saya, akan sangat berguna jika kelak kita bisa mewariskan novel-novel itu ke
anak-anak kita.
Kemudian
tentang Buku Biografi Andi F. Noya.
Sebelum
membaca buku tersebut, selama ini saya mengira bahwa kata Flores pada nama Andy
Flores Noya adalah karena Beliau berasal dari Flores. Tetapi ternyata Andy Noya bukan berasal dari Flores. Kata itu
berasal dari bahasa Portugis yang berarti bunga. Di Biografi tersebut, Andy F.
Noya menuturkan bahwa ia adalah keturunan campur aduk. “Selain darah Belanda dari Ibuku, aku juga mewarisi “bonus” darah
Perancis-Portugis dari ayahku. Ayahku, Ade Wilhelmus Flores Noya, lahir dari
pasangan Thobias Noya, asal Hulaliu, sebuah desa di Maluku Tengah, dan Adolfina
Josephine Dousse, perempuan Ternate keturunan Perancis. Darah Portugis juga
mengalir dari kakekku”, begitu buku itu mengisahkan di halaman-halaman
awal.
Buku
ini bercerita tentang kehidupan Andy F. Noya sejak dari pengalaman masa kecil
di Surabaya, masa remaja di Jayapura, hingga kuliah di Jakarta. Bagaimana
kehidupan Keluarganya, Ibunya, Bapaknya, Kakak-kakaknya, kisah bertemu pertama kali dengan perempuan yang sekarang menjadi Isterinya, hingga
bagaimana ia meniti karir dari wartawan junior sampai bisa menjadi Pemimpin
Redaksi di Metro TV dan menjadi orang kepercayaan Surya Paloh pemilik Media
Group. Di buku ini juga diceritakan ide awal Program Acara Kick Andy di Metro
TV yang selalu menghadirkan nara sumber-nara sumber yang penuh inspirasi dan telah menginspirasi jutaan pemirsa Indonesia.
Salah
satu yang juga menarik dari buku itu, ini mungkin sangat subyektif sekali,
adalah karena nama tanah kelahiranku, Raha, sempat diceritakan di dalamnya. Tak
perlu Anda susah-susah mencarinya di halaman berapa diceritakan. Saya akan
memberitahukannya. Halaman 176 baris ke-10. Wuihh, hafal benar saya, wkwkwk.
Menemukan tanah kelahiranku disebut dalam buku itu memang senang rasanya.
Karena selama ini jika saya memperkenalkan diri berasal dari Raha, orang-orang
selalu salah menebak. Mereka mengira Raha itu adanya di Nusa Tenggara sana. Tapi
yang lebih menyakitkan lagi adalah jika ada yang bertanya Raha itu dimana,
adakah di peta Indonesia? Arrggh, sakitnya tuh disini.. Kawan!
Dan
tentu saja ada banyak cerita menarik lainnya di dalam buku itu. Kisah yang
lebih lengkap silahkan Anda baca sendiri saja. Saya merekomendasikan buku ini
untuk Anda baca dengan tuntas dan menjadi salah satu koleksi Anda di rumah.
Saya
punya beberapa koleksi buku Biografi di rumah. Dan sepertinya saya akan terus
menambah koleksi buku-buku yang bertema Biografi. Saya pernah bilang kepada
seorang kawan bahwa buku-buku dengan tema-tema Biografi adalah buku yang layak
untuk dimiliki. Waktu itu saya tidak menyampaikan alasannya kenapa.
Belakangan
saya menyadari bahwa dengan membaca buku perjalanan hidup seseorang, sebenarnya
kita diajak untuk melihat bagaimana Allah merancang kehidupan ini. Bagaimana
Allah mempertemukan kita dengan suatu peristiwa untuk kemudian bertemu lagi
dengan peristiwa berikutnya. Bagaimana Allah menitipkan kita pada satu keadaan
lalu dibawa lagi pada keadaan yang lainnya. Kenapa kemarin kita bertemu dengan
si Fulan, bertemu si Fulanah. Kenapa kemarin kita berada di kota sana hari ini
di kota sini, kenapa kita bertemu dengan keadaan-keadaan senang, kenapa kita
mengalami keadaan-keadaan susah, dan banyak lagi peristiwa-peristiwa hidup
lainnya. Tugas kitalah untuk menghubung-hubungkan berbagai peristiwa itu untuk
mengambil hikmah dan pelajaran bagi kehidupan kita hari ini dan juga esok.
Dan kita wajib percaya bahwa kejadian-kejadian yang hadir dalam kehidupan kita
pasti punya makna. Tidaklah Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini
dengan sia-sia.
Kalau Allah berkehendak, maka lima hari lagi kita akan bertemu dengan tahun 2016. Kita tidak tahu rencana apa yang Allah telah persiapkan untuk kehidupan kita di tahun 2016 nanti. Mengutip sebuah dialog yang terdapat dalam novel Pulang itu. “Seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait-mengait. Esok lusa kau akan lebih memahaminya”.
Kalau Allah berkehendak, maka lima hari lagi kita akan bertemu dengan tahun 2016. Kita tidak tahu rencana apa yang Allah telah persiapkan untuk kehidupan kita di tahun 2016 nanti. Mengutip sebuah dialog yang terdapat dalam novel Pulang itu. “Seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait-mengait. Esok lusa kau akan lebih memahaminya”.
Aamiin. (*)
Senin, 07 Desember 2015
Senin (Semangat Nan Indah)
Kalau soal urusan dunia melihatlah ke bawah. Kalau soal urusan akhirat melihatlah ke atas. Begitulah seringkali saya mendapat nasehat.
Dan benar saja, ketika saya dihinggapi perasaan jenuh mengerjakan rutinitas kantor, saya biasanya akan mengingat mereka-mereka yang saya temui di jalan-jalan. Mereka-mereka ini ada yang menjajakan koran, sopir angkot, penjaja minuman dingin, tukang parkir, hingga pemandu kendaraan yang akan memutar arah. Saya membandingkan pekerjaan mereka yang bisa seharian penuh berpanas-panasan di jalan dengan pekerjaan saya yang seharian penuh berada dalam sejuknya ruangan ber-AC.
Dan benar saja, ketika saya dihinggapi perasaan jenuh mengerjakan rutinitas kantor, saya biasanya akan mengingat mereka-mereka yang saya temui di jalan-jalan. Mereka-mereka ini ada yang menjajakan koran, sopir angkot, penjaja minuman dingin, tukang parkir, hingga pemandu kendaraan yang akan memutar arah. Saya membandingkan pekerjaan mereka yang bisa seharian penuh berpanas-panasan di jalan dengan pekerjaan saya yang seharian penuh berada dalam sejuknya ruangan ber-AC.
Sekarang musim hujan telah tiba. Mereka-mereka yang saya temui di jalan-jalan tadi barangkali akan kembali menjalani pekerjaan mereka dengan berhujan-hujanan. Saya pun akan tetap menjalani pekerjaan saya dalam sejuknya ruangan ber-AC, mungkin juga dengan ditemani kopi hangat atau ditemani instrument musik jazz yang tenang.
Dengan membandingkan seperti ini biasanya semangat kerja saya kembali hidup dan rasa syukur menjadi berlimpah. Dalam soal-soal urusan dunia ini, jika kita melihat ke atas maka comparison is the thief of joy. Namun, jika kita melihat ke bawah maka comparison is the ocean of grateful. Begitulah barangkali rumus kehidupan ini. Sederhana sekali. Alhamdulillah. (*)
Jumat, 04 Desember 2015
Langganan:
Postingan (Atom)




