Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Oktober 2019

Sabtu Bersama Bapak


Foto ini diambil oleh Isteri saya, hari Sabtu ini, di ruang tengah rumah kami. Setiap Sabtu dan Ahad saya memang punya waktu yang cukup banyak buat putri kecil kami Muthmainnah Lailatul Qadar. Jadilah foto di atas diberi caption Sabtu Bersama Bapak.

Robbi habli minash sholihin.

(*)



Senin, 13 November 2017

Teman Perjalanan bernama Gita

Alhamdulillah, hari ini adalah hari ke dua puluh tiga usia pernikahan kami. Masih baru memang, bahkan belum bisa disebut seumur jagung, karena umur jagung adalah tujuh puluh hari, heheh. Namun di usia pernikahan kami yang baru dua puluh tiga hari ini telah ada begitu banyak hal yang layak ditulis sebagai pengingat bagi saya dan isteri.

Pernah disuatu pagi saya minta dibuatkan sarapan telur mata sapi untuk dimakan di kantor. Saat tiba di kantor, saya mengirim WA ke isteri. 

"Alhamdulillah saya sudah di kantor. Sudah sarapan juga. Enak pake banget telur mata sapinya."

Pernah juga dipagi berikutnya, di meja sarapan, saya bilang ke isteri. Ternyata begini ya enaknya jika punya isteri. Padahal dulu sebelum menikah saya sarapan juga. Tapi beda rasanya jika sarapannya dibuatkan dan dimakan bersama-sama dengan isteri tercinta. Bukan cuma hal sarapan saja. Dari bangun tidur, ngopi atau ngeteh pagi, berangkat kantor,  bertukar kabar saat di kantor, pulang kantor, bahkan sampai ke hal-hal sederhana lainnya, terasa berbeda ketika telah menikah.

Saya mengibaratkan, jika sebelum menikah seperti ada ruang-ruang kosong dalam diri ini, ruang-ruang kosong yang tak kasat mata. Maka setelah menikah, ruang kosong tadi menjadi terisi oleh kehadiran peran seorang isteri.

Saya menyadari bahwa untuk menjadi suami terbaik bagi isteri saya, dan ayah terbaik (insya Allah) bagi anak-anak kami kelak, tidaklah mudah. Tapi saya akan belajar, begitu pula isteri saya. Perjalanan masih jauh. Hari ini baru hari ke dua puluh tiga. Bahtera rumah tangga kami baru saja berlayar. Tapi apapun di depan sana, kami telah mantap untuk memilih menjadi suami isteri.

Sebelumnya kami memang tidak pernah menjalani pacaran. Kami dipertemukan dengan jalan ta'aruf. Dan memang seperti inilah sebenarnya yang telah disyariatkan agama. Setelah menikah kami sepakat menjadi suami isteri sekaligus menjadi teman dan sahabat dalam berbagi.

Pernah disuatu siang isteri saya mengirimkan pesan WA ke saya. Beberapa baris pesan itu tertulis seperti ini:

Terima kasih sudah memilih sy jadi 
istri Mas. Bersusah payah menambah 
amanah utk dijaga, dibina dan 
dilindungi.

Semoga kebersamaan ini dapat saling 
menguatkan, menumbuhkan dan 
mengembangkan masing-masing 
dari kita menjadi pribadi yg lebih baik
dan memberikan manfaat yg lebih 
luas.

Terima kasih Mas, sudah 
menggenapkan separuh agama sy.
Maafkan istrimu ini... dengan segala 
kelemahan, keanehan dan sok
kuatnya.

Ana uhibbuka fillah

* * *

Saya membaca pesan WA isteri saya tadi, tetapi baru sembilan hari kemudian mampu saya kirimkan balasannya. Saya membalasnya dengan sebuah kalimat pendek. Aamiin Allahumma Aamiin. Begitu bunyinya. Semoga Allah mengabulkannya. Walaupun setiap hari bersama dan berkomunikasi, namun untuk beberapa pesan yang hendak kami kenang, kami meyampaikannya lewat pesan tertulis melalui WA. Kadang kami mengirimkan pesan melalui WA, padahal kami sedang duduk berdampingan. Begitulah kami. Kadang lucu juga, wkwkwk.

Sebelum menikah dulu, di pertemuan ta'aruf kami pernah terlibat diskusi singkat tentang apa itu pernikahan. Isteri saya yang saat itu belum menjadi isteri dengan tegas menjawab: Pernikahan itu bukan hanya sekedar bersama di dunia saja, namun berharap kemudian dapat dikumpulkan bersama dengan anak cucu keturunan di syurga-Nya kelak. 

Setelah diskusi itu, beberapa hari kemudian saya bersilaturahim ke kedua orangtuanya. Menyampaikan maksud untuk melamar anak perempuan mereka. Pantun  berbalas, maksud berjawab. Alhamdulillah lamaran saya diterima. Dua bulan kemudian kami menikah. Tanggal 2 Shafar 1439 H. Perjalanan pun dimulai. Bismillah.

Menikah memang bukan perjalanan singkat. Menikah adalah perjalanan jauh, menempuh batas-batas dunia untuk mencari keridhaan Allah sehingga berharap dipertemukan kembali di syurga Allah kelak.

Saya teringat sebuah pepatah yang mengatakan: If  you want to walk fast, walk alone. If you want to walk far, walk together. Jika kamu ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika kamu ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama.

Perjalanan sudah kami mulai. Dan, teman perjalanan jauh ini bernama Gita.

Semoga Allah selalu membimbing langkah kami. Aamiin Allahumma Aamiin. (*)

Jumat, 22 September 2017

Banyak Deadline

Di saat-saat seperti hari ini, benarlah apa yang dipesankan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." 
(HR. Al-Bukhari)

(*)

Kamis, 09 Februari 2017

Heheh

Sejak satu tahun terakhir ini, teman-teman kantor menjadi lebih antusias dan bersemangat setiap kali akhir pekan datang. Sebab, setiap akhir pekan kami punya agenda rutin bermain futsal. Pada awalnya kegiatan main futsal ini hanya sebagai ajang silaturahim teman-teman yang terpisah bekerja di beberapa kantor cabang dan anak perusahaan. Selain sebagai sarana silaturahim, beberapa teman juga punya tujuan lain, ada yang ingin mengasah kembali skill bermain futsalnya, menghilangkan kepenatan karena pekerjaan di kantor, menambah pertemanan baru, atau untuk mengurangi ukuran lingkar perut.

Untuk menjaga kesinambungan agenda futsal mingguan ini, saya bertanggung jawab untuk mencari lawan tanding di setiap pekannya. Lawannya tidak boleh itu-itu saja. Lawannya tidak boleh yang sekedar hanya untuk mencari keringat saja. Lawannya harus punya fighting spirit. Lawannya harus punya visi bermain.

Karena tanggung jawab tersebut, makanya setiap pekan paling lambat hari Kamis, saya sudah harus menemukan lawan tanding yang bersedia main di Jum'at malam atau di Sabtu pagi. Sepak terjang Tim Futsal kami juga sudah mulai diperhitungkan oleh lawan-lawan yang pernah kami hadapi. Seringkali kami ditantang untuk bertanding ulang pada kesempatan berikutnya. Gara-gara futsal ini juga, Alhamdulillah lingkaran pertemanan saya menjadi bertambah luas.

Minggu lalu agenda main futsal kami gagal karena lawan yang awalnya sudah bersedia main tiba-tiba membatalkan janji. Pembatalan itu terjadi di Jum'at pagi. Padahal janji bermain adalah di Jum'at malam sebentar lagi. Dengan sangat menyesal dan meminta maaf, teman saya di Tim Lawan itu menyampaikan kabar pembatalan main. Alasannya karena ada teman mereka yang malam sebelumnya mengalami kecelakaan mobil.

Beberapa minggu sebelumnya, kami juga pernah batal bermain futsal. Kali ini lawannya sudah ada. Janji bermainnya adalah di Jum'at malam juga. Namun hingga selepas Shalat Jum'at, beberapa lapangan futsal yang kami hubungi ternyata sudah full dibooking semua. Saya bahkan meminta barangkali ada lapangan cadangan yang bisa disewakan, ternyata tidak ada juga. Akhirnya, teman-teman kami hubungi ulang. Agenda futsal hari itu batal.

Berbeda dengan dua kejadian di atas tadi, sampai malam ini, malam Jum'at, belum ada satu pun Tim Futsal yang saya hubungi untuk melawan kami. Kami memang berencana tidak main futsal dulu untuk akhir pekan besok. Namun ajaibnya, sehabis Isya tadi ketika saya membuka ponsel, sebuah pesan masuk. Isinya adalah ajakan untuk bermain futsal. Lapangan sudah dibooking. Lawan siap, lapangan siap. Pokoknya tinggal datang bermain saja. Bukan hanya satu ajakan. Kali ini ada dua lawan yang mengajak bermain. Semuanya sudah menyiapkan lapangan. Dan kedua lawan ini bukan lawan sembarangan. Semuanya punya skill yang tidak main-main.

Heheh.. Membaca pesan ajakan bermain futsal selepas Isya tadi, saya jadi merenung dan tersenyum sendiri. Beberapa minggu sebelumnya kami bersusah-payah ingin main futsal, namun akhirnya tidak jadi karena lapangan full-bookingan semua. Sedangkan minggu lalu kami sudah hampir pasti bermain futsal, eh tiba-tiba lawan membatalkan janji tepat di hari H ketika sudah tidak memungkinkan lagi mencari lawan pengganti.

Heheh.. barangkali begitulah kehidupan ini. Kadang-kadang sesuatu itu perlu susah-payah kita usahakan, kadang-kadang pula sesuatu itu datang begitu saja tanpa kita sangka-sangka.

Heheh.. (*)


Rabu, 23 November 2016

Kebaikan-kebaikan sederhana

Hari ini saya banyak mendapat kebaikan-kebaikan sederhana dari orang lain.

Siang tadi, pas mau bayar makan siang di warung langganan saya, uang terkecil di dalam dompet hanyalah dua belas ribu, padahal harga makanan saya tiga belas ribu. Saya ingin membayar dengan uang yang lebih besar, tidak ada kembalian. "Nanti saja Mas seribunya, nanti makan berikutnya lagi", kata si Penjaga Warung.

Setelah makan, saya singgah di Tukang Tambal Ban. Saya hendak melakukan perjalanan motor ke kabupaten sebelah. Ban belakang motor saya sedikit kempes, mau saya tambah anginnya. Ceritanya hampir sama dengan di warung makan sebelumnya. Si Tukang Tambal Ban juga tidak punya uang kembalian. "Dibawa saja dulu duitnya Bang, nanti kalau lewat sini lagi baru dibayar", kata Si Tukang. Alhamdulillah, perjalanan saya ke kabupaten sebelah berjalan mulus dan urusan saya disana juga berjalan lancar. Saya tiba kembali di Manado menjelang maghrib.

Melakukan perjalanan motor ternyata bikin lapar. Malam ini saya singgah di gerobak nasi goreng milik teman kost saya dulu waktu masih indekos. Saya memesan nasi goreng putih pakai telur dadar, tidak pakai kecap, tidak pakai saus, tidak pakai vetsin. Saya makan lahap sekali, tak sebiji nasi pun tersisa di piring. Eh, pas mau bayar, teman ini tidak mau mengambil uang saya. "Dipakai buat beli bensin aja uangnya, Bang", kata teman saya itu.

Setelah dari makan nasi goreng, saya mampir sebentar ke kantor hendak mengambil carger hape yang ketinggalan. Saat mau pulang, teman-teman juga datang dari acara menjamu makan malam Bos dari Kantor Pusat. Eh ternyata, saya kebagian sekotak ikan woku hangat khas Manado. "Pak Luq, ini buat dibawa ke rumah", kata teman saya.

Di perjalanan pulang ke rumah, saya bertanya-tanya, kenapa begitu banyak kebaikan-kebaikan tak terduga yang saya terima hari ini. Lalu saya, kebaikan-kebaikan apa yang sudah saya lakukan hari ini? (*)


Jumat, 23 September 2016

Selamat Pagi

Dua hari yang lalu saya ke toko buku. Kebetulan sedang ada bursa buku murah disana. Saya tak sengaja menemukan sebuah novel, kemudian saya beli. Harganya dua puluh ribu. Soal harga saya selalu bilang, "don't judge a book by it price". Cleo, judul novel itu.

Saya tidak perlu menghabiskan berpuluh-puluh halaman untuk mengetahui kenapa novel itu berjudul Cleo. Cleo itu nama seekor anak kucing betina dari ras Abyssinian. Abyssinian merupakan salah satu ras kucing tertua keturunan jaman Mesir kuno. Cleo diambil dari nama Cleopatra, Ratu Mesir yang terkenal itu. Dalam novel tadi diceritakan bahwa kucing Cleo memiliki keanggunan seperti Ratu Mesir Cleopatra.

Saya baru membaca sampai pada halaman 75. Novel itu bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga di Australia Selandia Baru. Sebuah keluarga kecil dengan dua anak yang juga masih kecil. Sam, 9 tahun, dan adiknya Rob, 6 tahun.

Pada ulang tahunnya yang ke-9, Sam meminta pada ibunya agar tidak perlu ada perayaan besar. Sam hanya minta untuk diizinkan memelihara seekor kucing. Namun tragedi terjadi pada keluarga ini. Beberapa minggu setelah perayaan sederhana ulang tahunnya yang ke-9, Sam meninggal. Siang itu Sam tertabrak mobil. Meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dead on Arrival. Ibunya shock. Tidak percaya.

Saya memang baru sampai pada halaman 75 dari novel itu. Tapi menurut saya, buku ini masuk kategori buku must read atau must have, apalagi bagi penggemar kisah-kisah seputar Kehidupan Keluarga. Di halaman-halaman awal saya sudah menemukan pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang kehidupan ini. Salah satunya adalah pertanyaan dari Ibunda Sam yang belum bisa menerima kematian anaknya. Kematian yang juga sering disebut sebagai pergi untuk selama-lamanya. Ibunda Sam kemudian bertanya, mungkin kepada Tuhan, kepada orang-orang yang datang memberikan penghiburan, atau mungkin bertanya kepada dirinya sendiri. Berapa lama selama-lamanya itu?

Mungkin saya akan mendapatkan jawabannya di halaman-halaman selanjutnya.

Selamat pagi! (*)

Senin, 19 Oktober 2015

Thank God It's Monday

"Saya pegang Persib saja". Begitu bunyi status bbm saya beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. Seperti tidak mau kalah untuk menunjukkan eksistensinya, beberapa teman di daftar kontak saya juga menulis di status mereka, "Sriwijaya FC." Wah, banyak yang berseberangan ternyata. Siap-siap saja menerima pesan masuk, atau apalah, kalau saja nanti Persib kalah, wkwkwk.

Rupanya semalam saya tidak salah memberikan dukungan ke Persib. Saat babak pertama baru memasuki menit ke-13 Persib sudah unggul satu kosong. Dalam keunggulan tersebut iseng-iseng saya mengirim pesan bbm ke beberapa teman yang mendukung Sriwijaya. Pesan saya singkat saja, "Persib dong, Bro, heheh."  Tidak berapa lama, saya menerima pesan balasan. "Adoohh... kalaahh." Teman yang lain lagi membalas seperti ini, "Hahahah.. Anti mainstream." Mungkin karena saking banyaknya yang mendukung Persib makanya teman ini memilih mendukung Sriwijaya, anti maistream katanya. Tapi ada teman yang lain daripada yang lain. Teman ini bukannya mendukung Persib atau Sriwijaya, ia malah mendukung Persipura. Tim mana yang main, tim mana yang didukung. Ah, ada-ada saja. Saya tidak tahu lagi sebutan untuk teman ini, apakah masih termasuk juga anti mainstream atau anti yang mana lagi, ckckckck.

Ngomong-ngomong soal mainstream, ketika Idul Fitri lalu teman-teman mengirimkan ucapan Selamat Idul Fitri dengan merangkai kata-kata melalui sms dan pesan di bbm, saya memilih mengirimkan ucapan dengan sebuah video pendek yang merupakan hasil kiriman seorang teman. Video pendek tadi lalu saya teruskan ke beberapa teman. Salah satu teman tanpa basa-basi langsung membalas, "anti mainstream ya?" Saya hanya senyum-senyum saja memandangi layar hape. Oh, begini ini ya, yang dibilang anti mainstream itu, heheh.

Masih tentang mainstream juga, pernah seorang teman membagikan di akun fesbuknya sebuah gambar tutorial tentang bagaimana memakai sarung. Di gambar yang dibagikan itu teman ini menulis, "karena tutorial memakai jilbab terlalu mainstream." Waktu itu memang di media sosial orang-orang sering sekali memposting tentang tutorial memakai jilbab ini.

Terinspirasi dari cerita-cerita tentang mainstream di atas, pagi tadi saya pun menuliskan sebuah kalimat pendek di akun twitter saya, "Thank God It's Monday karena Thank God It's Friday terlalu mainstream".

Selamat beraktifitas. Salam semangat untuk kita semua. (*)


Jumat, 02 Oktober 2015

Tentang Baju Batik Cokelatku

Hari ini kamu memakai batik warna apa?

Hari ini saya memakai batik warna cokelat. Saya sudah lupa berapa harga belinya. Apakah 30 ribu atau 50 ribu. Saya beli di Tanah Abang Jakarta, lima tahun yang lalu. Kebetulan waktu itu saya sedang mengikuti pendidikan dasar sebagai karyawan baru di perusahaan tempatku bekerja sekarang. 

Ketika mengikuti pendidikan, saya hanya membawa satu baju batik, itupun dipinjam dari teman. Baju batik pinjaman tadi saya pakai saat pembukaan acara. Padahal, saat penutupan kegiatan peserta masih diharuskan memakai batik. Saya tidak mau kalau kostum saya pada pembukaan dan penutupan acara masih dengan batik yang sama. Maka ketika tiba jadwalnya jalan-jalan, salah satu tempat yang saya dan teman-teman datangi waktu itu adalah Pasar Tanah Abang. Seingat saya, waktu itu saya hanya membeli selembar baju batik cokelat yang saya pakai hari ini dan sebuah jam tangan kw yang sekarang sudah innalillahi.

Hingga hari ini saya sudah memiliki beberapa koleksi baju batik. Hampir selusin barangkali. Kebanyakan dari koleksi itu adalah hadiah dan oleh-oleh dari teman. Walaupun baju batik saya sekarang ada beberapa, tapi yang paling sering saya pakai adalah batik cokelatku ini. Alasannya sederhana. Baju batikku ini anti kusut dan tak butuh diseterika. Karena alasan yang sederhana itulah, makanya batik cokelatku ini selalu jadi pilihan pertama yang akan saya masukkan ke dalam ransel ketika akan dinas ke daerah.

* * *

Ada cerita lain yang juga akan selalu saya kenang tentang batik cokelatku ini. Kejadiannya pas Hari Batik tahun 2014 yang lalu. Hari itu saya tidak berniat sama sekali memakai batik. Saya pun sebenarnya lupa kalau hari itu adalah Hari Batik. Biasanya sehari sebelumnya kami diingatkan melalui surat edaran dari kantor pusat untuk mengenakan baju batik. Tapi sepertinya saya tidak mengetahui adanya surat edaran tersebut.

Pagi itu jam masuk kantor sudah mepet sekali, sudah hampir jam setengah delapan. Sedangkan saya hanya baru menyelesaikan mandi. Ketika membuka lemari tak ada kemeja kantor yang layak dipakai kecuali diseterika dulu. Jarak kosan tempat tinggal saya memang hanya lima menit naik motor, tapi kalau harus menyeterika baju dulu maka saya akan menghabiskan alokasi waktu yang lima menit tadi. Saya pasti akan terlambat membubuhkan sidik jari di mesin absensi fingerprint. Tanpa berpikir panjang lagi, saya langsung menyambar baju batik cokelatku ini. Bisa langsung dipakai, tak butuh diseterika.

Sampai di kantor ternyata banyak teman-teman yang tidak tahu, dan lupa memakai batik. Dalam hati saya membatin, sebenarnya saya pun lupa bahwa hari itu Hari Batik. Kebetulan saja saya memakai batik karena kemeja-kemeja yang lain belum diseterika. wkwkwkwk.

Selamat Hari Batik. (*)

Minggu, 17 Mei 2015

Libur Kecil Keluarga Besar Kos-kosan

Rencananya olah raga saya pagi tadi adalah bersepeda. Tetapi baru saja sepeda saya keluarkan dari ruang belakang, saya disapa dan diberitahu oleh tetangga kamar bahwa hari ini kami akan jalan-jalan dan bermain ke pemandian kolam renang. Beramai-ramai.

Sejak empat tahun lalu menghuni kos-kosan, inilah liburan keluarga besar kos-kosan kami untuk pertama kalinya secara beramai-ramai.

Kos-kosan saya ini bukan sekedar tempat tinggal, atau tempat pulang setelah seharian bekerja. Kos-kosan saya ini tidak sekedar bangunan fisiknya saja yang saya tempati, tetapi lebih dari itu adalah suasananya. Saya bisa menyebutnya sebagai home, bukan sekedar house, sebab disini saya menemukan keluarga baru.

Disini ada empat kamar yang disewakan. Berderet-deret membentuk kamar petak. Pada bagian rumah yang terpisah tinggal suami-isteri pemilik kos bersama anak dan menantunya serta dua orang cucu mereka.

Dari deretan kamar petak itu saya menyewa kamar yang paling ujung. Saya penghuni paling lama dibandingkan penghuni di kamar lainnya. Penyewa disini datang silih berganti. Ada yang cuma beberapa bulan saja menyewa kemudian pindah. Kemudian datang lagi penyewa yang baru. Namun untuk komposisi penghuni kos-kosan yang sekarang boleh saya bilang sebagai yang terlama. Rata-rata semuanya sudah hitungan tahun.

Di sebelah kamar saya dihuni sebuah keluarga dengan dua orang anak. Ibunya bekerja di sebuah pusat perbelanjaan, bapaknya bekerja di sebuah perusahaan multivitamin.

Di deretan kamar berikutnya ditempati sebuah keluarga dengan seorang anak. Ibunya penjual jamu gendong, bapaknya penjual es tong-tong.

Lalu, kamar yang terakhir ditempati oleh sebuah keluarga dengan seorang anak. Ibunya bekerja di sebuah department store, bapaknya sebagai teknisi kelistrikan di sebuah pusat perbelanjaan.

Kos-kosan yang saya tempati bukan kos-kosan seperti pada umumnya. Kos-kosan ini memang sangat tepat kalau disebut rumah. Pagi hari ada banyak alarm yang akan membangunkan saya. Jika saya tidak dibangunkan oleh adzan subuh dari mesjid sekitar kos-kosan, maka saya akan terbangun oleh dentingan lonceng gereja. Atau saya akan terbangun oleh bunyi tumbukan dan aroma rempah-rempah bahan jamu-jamuan dari kamar sebelah. Tidak cukup itu saja, suara es batu yang dihancurkan untuk membuat es tong-tong juga sudah akan memecah keheningan pagi jauh sebelum matahari terbit. Lalu sering pula telinga saya akan menemukan suara rengekan adik-adik kecil di kamar sebelah yang terbangun lebih cepat daripada ibu atau bapaknya.

Disini, di kos-kosan kami, roda kehidupan sudah mulai diputar kembali sejak sebelum adzan subuh dikumandangkan. Begitu setiap hari.

Setelah matahari terbit, keriuhan pagi lebih didominasi oleh dialog antara anak-anak dan ibu-ibu mereka. Anak-anak yang semuanya masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayo cepat mandi. Habiskan sarapanmu. Ayo cepat pakai baju sekolahmu. Mana kaos kakiku. Dimana pensilku. Minta uang jajan. Dan lain sebagainya.

Hampir setiap pagi saya mendengarkan dialog-dialog seperti itu. Kadangkala saat saya sedang ngopi atau ngeteh di kamar. Kadangkala saat saya sedang membaca update berita bola semalam dari layar hape. Kadangkala saat saya sedang menunggu antrian kamar mandi.

Pagi tadi beramai-ramai kami menuju ke pemandian kolam renang yang berada sedikit di pinggir kota. Saya menyebut ini sebagai libur kecil. Dan, libur kecil seperti ini anak-anaklah yang paling antusias menyambutnya. Begitu melihat kolam yang airnya sangat jernih, anak-anak tadi langsung tidak sabaran untuk segera menceburkan diri ke dalam kolam.

Bermain ke kolam renang tadi pagi adalah liburan bersama kami untuk pertama kalinya. Agak susah memang menemukan jadwal karena hanya saya sendiri yang libur pada Sabtu dan Minggu. Sementara yang lainnya bekerja dengan sistem shift dimana hari Minggu masih tetap bekerja. Malah, tetangga kamar saya yang menjual es tong-tong justru mengakui bahwa hari Minggu adalah hari dimana omzet penjualan es meningkat karena anak sekolah libur sehingga kompleks perumahan yang dilewatinya akan sering dijumpainya anak-anak membeli es tong-tong.

Semua kami yang menghuni kos-kosan adalah perantau. Mulai dari Bapak kos beserta isterinya, hingga kami yang menyewa petak-petak kamar. Sebagai sesama perantau kami sadar betul bahwa kerja keras adalah salah satu kunci untuk bisa survive dan sukses di kampung orang.

Selain itu, sebagai sesama perantau yang jauh dari keluarga, kami juga berusaha untuk selalu mengamalkan nasehat dari Guru-Guru Kehidupan bahwa keluarga yang paling dekat adalah tetangga. (*)

Jumat, 17 April 2015

Think out of the box

Dua pekan lalu saya ke Bogor mengunjungi beberapa teman yang sedang menempuh kuliah Magister di IPB. Perjalanan ke Bogor ini adalah pengalaman pertama saya menaiki Busway. Juga pengalaman pertama saya menaiki Kereta Commuter. Busway dan Commuter ini adalah dua jenis moda transportasi darat yang diharapkan dapat menghubungkan dan mengurai kemacetan jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota penyangga di sekitarnya.

Dua pekan lalu itu libur Paskah. Tapi Jakarta tetap ramai, kendaraan tetap padat. Dalam perjalanan menuju Bogor saya coba untuk ikut larut dalam salah satu irama kehidupan warga Jakarta. Berdesak-desakan di atas Busway, antri tiket Commuter, berbagi tempat duduk dengan penumpang lain hingga harus melanjutkan perjalanan sambil berdiri dan bergelantungan di dalam gerbong kereta. Seorang teman menyampaikan kepada saya bahwa separuh hidup warga disana ialah di jalan.

Dari pengalaman pertama menaiki Busway dan Commuter itu saya jadi merenung bahwa untuk menjalani separuh hidup di jalan-jalan Jakarta kita barangkali membutuhkan kaki yang tabah untuk berpijak dan tangan yang kuat untuk menggenggam. Dan ini memang saya rasakan sendiri, malamnya pegal-pegal terasa di lengan dan betis saya. Wkwkwk…

Keesokan harinya kami menuju Bandung.  Perjalanan ke Bandung ini adalah pertama kalinya pula saya membuktikan langsung betapa sangat bergunanya teknologi GPS itu. Saat meninggalkan Bogor GPS sudah mulai diaktifkan. Kami berangkat selepas Dzuhur. GPS menunjukkan bahwa jarak tempuh Bogor-Bandung adalah kurang lebih 180 kilometer.

Rute pertama yang kami cari tahu adalah arah menuju pintu tol. Inilah jalan bebas hambatan yang bisa menghubungkan kita ke mana saja. Jarak tempuh 180 km memang bukan jarak yang pendek, apalagi di tengah perjalanan beberapa kali kami bertemu sekawanan hujan lebat. Tapi kegembiraan kami tidak berkurang sedikit pun. Semua tetap  ceria mengamati GPS di tangan masing-masing. Untuk memastikan benar tidaknya jalur tol yang kami pilih, kami seringkali bertanya kepada petugas penjaga pintu tol.

Tepat waktu Ashar kami menepi di sebuah rest area, mengambil sejenak jeda menikmati beberapa teguk kopi hangat. Jika mengikuti petunjuk GPS kami akan sampai di Bandung menjelang Maghrib. Sepertinya Bandung memang masih jauh. Setelah melanjutkan perjalanan setelah ber-rest area kami tak hendak dulu buru-buru menemukan Kota Bandung. Cukuplah saja papan penunjuk arah yang bertuliskan “Bandung”. Karena dari tadi memang belum tampak kelihatan.

Hingga ketika tulisan “Bandung” benar-benar kami temukan terpampang di plang penunjuk jalan, menjadi bertambah-tambahlah kegembiraan perjalanan kami. Spontan saya berteriak Banduungg… Banduungg.. Itu berarti arah kami sudah benar. Gedung Sate, Alun-alun Kota sudah terbayang. Mungkin juga jalan Braga, atau yang lainnya.

Menjelang Maghrib kami benar-benar sampai di Bandung. Sore itu langit Bandung sedang mendung. Matahari baru saja terbenam. Tapi kegembiraan di wajah kami selalu terbit. Lalu lintas mulai padat kembali. Mobil kami berjalan rintik-rintik berbaur dengan kendaraan-kendaraan berplat  D.

Tujuan kami sebenarnya bukan Bandung. Bandung hanyalah persinggahan. Sekedar melihat-lihat, sekedar foto-foto, biar besok-besok saya bisa juga bercerita kalau saya pernah ke Bandung. “Ini foto gue waktu di Bandung, Bung! Hehe..” 

Tujuan kami sebenarnya adalah tempat wisata Kawah Putih di daerah Ciwidey. Setelah puas foto-foto dan menongkrongi Alun-Alun Kota Bandung, jam tiga dini hari kami menuju Ciwidey. Menurut perkiraan kami akan menempuh jarak sekitar dua jam perjalanan. Itu berarti kami akan menemukan Subuh disana.

Memasuki daerah Ciwidey suhu udara semakin dingin. Setelah sarapan bubur ayam di depan Mesjid Besar Ciwidey kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Putih. Pemandangan di kiri dan kanan jalur yang kami tempuh dipenuhi oleh kehijauan tanaman strawberry. Sepertinya selain Kawah Putihnya, Ciwidey juga terkenal dengan strawberrynya. Karena ketika saya mengganti display picture bbm dengan latar belakang Kawah Putih, seorang teman di kontak bb saya tiba-tiba berkomentar: “Lagi main di Ciwidey kayaknya nih, salam sama strawberry  ya..”

Atau, jangan-jangan ciwidey itu adalah strawberry dalam bahasa Sunda. Lihatlah di belakangnya, sama-sama berakhiran huruf  y . Wkwkwk, ah, ngaco. Ah, tak tahulah saya.

Di Ciwidey saya juga foto-foto. Biar besok-besok ada cerita yang bisa dibagi bahwa saya pernah menjejakkan kaki di Kawah Putih Ciwidey.

Jam sembilan pagi kami meninggalkan Kawah Putih karena teman-teman harus mengantarkan saya kembali ke Jakarta untuk mengejar penerbangan pulang ke Manado pada jam enam sore. Saya berharap masih bisa singgah sebentar di Bandung bertemu dengan seorang teman SMU yang sudah menetap disana. Malam sebelumnya ketika saya mengabarkan bahwa saya ada di Bandung, teman ini meminta untuk bertemu besok hari sepulangnya kami dari Kawah Putih. “Kita sarapan di tempat saya saja”, begitu pesannya. Tapi hari sudah tidak pagi lagi. Jam sarapan juga sudah lewat. Dan kami masih berusaha menemukan jalan kembali menuju Bandung. GPS tetap menjadi andalan.

Di tengah perjalanan, teman saya yang tadi ingin bertemu tiba-tiba menelepon. “Bung Luqman sudah dimana?” Oh iya, saya di daerah…. ( saya tidak tahu dimana, saya sebut saja sembarang nama tempat yang tertulis di papan nama kios ataupun toko yang tertangkap mata ini, hehe..). “Kamu ga usah singgah di tempat saya. Langsung aja ke Jakarta. Takutnya kamu tidak bisa sampai tepat waktu di Bandara. Insya Allah panjang umur kita bertemu lagi”.

Maka lanjutlah perjalanan kami ke Jakarta. Di sebuah rest area kami berhenti lagi. Saya numpang mandi disana, mumpung gratis. Wkwkwk.. Lagipula sejak perjalanan siang kemarinnya badan ini belum sekali pun diguyur air.  

Akhirnya jam empat sore kami sampai di Bandara. Saya pamit ke teman-teman. Saya salami teman-teman satu per satu. Penerbangan pulang ke Manado masih dua jam lagi. Besoknya akan bertemu lagi dengan Senin. Bertemu lagi dengan rutinitas.

* * *

Dari tulisan saya yang panjang itu, sebenarnya pendek saja yang mau saya bilang. Sabtu-Minggu besok marilah keluar dari rutinitas kita. Ke toko buku lah, ke pantai lah, ke gunung lah, atau kemana saja atau melakukan apa saja yang penting menjauh dari zona rutinitas. Dengan begitu kita bisa melihat hidup ini, bisa memandang diri kita ini dari perspektif yang berbeda.

Itu saja.

Selamat berakhir pekan. (*)

Rabu, 18 Maret 2015

Gara-gara Cerita Pohon Bambu

: kepada Saya

Tadi malam seorang Sahabat mengirimkan pesan whatsapp kepada saya. Sahabat ini mengabarkan bahwa per hari kemarin ia resmi diterima bekerja. Ia menyampaikan terima kasihnya kepada saya.

Beberapa hari sebelumnya saya dan Sahabat ini memang sempat berbicara melalui telepon. Hari itu saya yang menelepon. Baru satu kali deringan telepon terdengar, panggilan saya langsung dijawabnya. Saya sempat bergurau: call centre saja yang pekerjaannya menjawab panggilan telepon, kita masih harus menunggu paling cepat dua atau tiga deringan, kalah cepat dari Sahabat saya ini. Tawa kami pun meledak.

Sahabat ini memang mengakui kalau timing saya menelepon saat itu pas sekali. Ada banyak cerita yang mau ia bagi. Makanya panggilan saya langsung dijawab pada deringan yang pertama. Hari itu ia baru saja selesai mengikuti sesi wawancara kerja. Ini tes ketiga. Ia sudah melewati dua sesi tes sebelumnya. Untuk sesi wawancara ini ia tidak yakin akan hasilnya. Disitu ia mungkin merasa galau. 

Dari situ pembicaraan dimulai. Ia bercerita kalau sebenarnya ia telah mengirimkan lamaran kerja ke beberapa perusahaan. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang saham sudah menerima salah satu lamarannya. Hanya saja karena proses tes, wawancara dan keputusan diterima-tidaknya yang terbilang cepat, Sahabat saya ini jadi ragu, kok secepat dan semudah itu ia bisa diterima bekerja. Akhirnya ia justru menolak kesempatan bekerja disana.

Ia juga sempat diundang wawancara oleh sebuah perusahaan properti yang pasarnya berada di Australia. Perusahaan ini membidik  orang Indonesia sebagai pembeli. Katanya, banyak orang Indonesia yang suka memiliki aset properti di Australia. Makanya dibutuhkan tenaga marketing untuk memasarkannya di Indonesia. Di perusahaan ini Sahabat saya itu hanya sampai pada wawancara awal saja. Karena sebelum dia sudah ada beberapa orang yang diwawancarai juga. Sudah ada kandidat yang akan diterima. Dari wawancara ini Sahabat saya justru senang. Sebab, walaupun ia tidak jadi kandidat yang akan diterima, tetapi si Pewawancara suka dengan cara berkomunikasi Sahabat saya. Makanya si Pewawancara dengan berat hati dan meminta maaf lalu berjanji akan merekomendasikan Sahabat ini ke perusahaan yang menjadi kenalannya.

Pembicaraan berlanjut lagi. Sahabat ini meminta pendapat saya tentang bagaimana bersetia terhadap pekerjaan yang sedang kita jalani sekarang, dan bagaimana menghadapi tawaran-tawaran kerja dari tempat lain.

Sejujurnya saya merasa belum punya kapasitas untuk memberikan pendapat untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Pengalaman serta lamanya bekerja di perusahaan saya sekarang belum bisa dipakai sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan tadi. Walaupun sejak lima tahun lalu sampai sekarang hanya perusahaan inilah satu-satunya tempat saya mengabdikan diri. Memang ada banyak teman seangkatan kerja dengan saya yang memutuskan untuk resign dan memilih bekerja di perusahaan lain karena tawaran gaji yang lebih tinggi. Kesetiaan saya masih perlu diuji. Soal godaan pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi di luar sana saya anggap sebagai rumput tetangga yang selalu lebih hijau. Godaan-godaan itu akan semakin hijau jika kita tidak pernah khusyuk menghayati rumput di halaman sendiri. Lagipula di pekerjaan sekarang saya merasa menemukan rumah.

* * *
Kepada Sahabat tadi, saya lalu menyinggung kisah tentang Plato dan Gurunya.  Cerita tentang pohon bambu. Saya menyampaikan ringkasan cerita ini kepada Sahabat tadi dalam konteks untuk menemukan dan bersetia pada pekerjaan.

Cerita dalam versi yang umum beredar barangkali seperti ini.

Suatu hari, Plato bertanya kepada Gurunya: "Apa itu Cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?"
Gurunya menjawab: "Kau lihat, disana ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu ranting saja. Jika kamu menemukan ranting yang kau anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta."

Plato pun berjalan ke ladang gandum tersebut, dan tidak lama kemudian ia kembali ke Gurunya dengan tangan hampa. Gurunya pun bertanya: "Mengapa kamu tidak membawa satu ranting pun?"

Plato menjawab: "Karena saya hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan saya tidak diperbolehkan mundur kembali, tetapi sebenarnya tadi saya telah menemukan satu yang paling menakjubkan, tapi saya berpikir, mungkin ada ranting yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi ranting tadi tidak jadi saya ambil. Dan ternyata, ketika saya melanjutkan perjalanan, barulah saya sadari bahwa ranting-ranting yang saya temukan kemudian, tidak sebagus ranting yang tadi. Jadi, akhirnya tidak  sebatang pun yang saya ambil."

Lalu Gurunya menjawab: "Ya, seperti itulah cinta."

Pada kesempatan lain, Plato bertanya sekali lagi pada Gurunya: "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya menjawab: "Kau lihat, ada hutan bambu yang lebat di depan sana. Berjalanlah kamu tanpa boleh mundur kembali, kemudian tebanglah satu pohon saja yang kamu anggap paling bagus.”

Kemudian Plato langsung kembali memasuki hutan. Tidak lama kemudian Plato sudah kembali ke hadapan Gurunya dengan membawa sebatang pohon bambu. Lalu Sang Guru bertanya: “Kenapa kau sudah kembali? Apa kau sudah menemukan pohon yang kau anggap paling bagus? Dan pohon yang kau bawa ini menurutku tidak bagus-bagus amat. Tolong jelaskan ke saya kenapa kau pulang dan memutuskan mengambil pohon ini?”

Plato menjawab: "Sebab berdasarkan pengalaman saya sebelumnya setelah menjelajah hampir setengah ladang, dan ternyata saya kembali dengan tangan hampa. Makanya pada kesempatan ini, saya lihat pohon ini, dan saya rasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi saya putuskan utuk menebangnya dan membawanya kesini. Saya tak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya."

Gurunya pun kemudian menjawab: "Dan… Yah! itulah Perkawinan." 

* * * 
Pesan whatsapp yang saya sebut di awal, bunyi lengkapnya seperti ini: "Gara-gara saran Pak Luq.. Tentang teori pohon bambu, hari ini saya resmi bekerja Pak Luq.. Terima kasih sarannya Pak.. hehe." 

Senang rasanya hati ini membaca pesan Sahabat tadi. Saya tidak menanyakan lagi perusahaan mana yang menerimanya bekerja. Saya hanya membalas pesannya: "Alhamdulillah, Aamiin. Insya Allah berkah, Pak.." 

Besok-besok Sahabat ini barangkali akan sering menasihatkan kembali cerita pohon bambu ini. Kepada saya. 

Hidup ini memang perihal nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. (*)
 

Senin, 20 Oktober 2014

Seringkali saya dihinggapi perasaan bingung

Seringkali saya dihinggapi perasaan bingung. Pasalnya, setelah seharian duduk berhadapan dengan komputer, mondar-mandir dari meja teman yang satu ke meja teman yang lain, mengirim dan menjawab panggilan telepon kiri-kanan, melayani teman yang datang berkonsultasi, lalu tiba-tiba ketika jam pulang tiba saya tidak tahu apa saja yang sudah saya kerjakan sepanjang hari itu.

Akhirnya saya menemukan cara untuk mengatasi kebingungan itu. Saya mencatat semua pekerjaan yang masuk di meja saya. Dari mulai permintaan proposal penawaran dari bagian marketing, verifikasi dan analisa data nasabah, menelepon kantor pusat, menjawab dan mengirim email, hingga hal-hal kecil apapun yang sering masuk di sela-sela daftar rutin harian saya.

Setiap selesai satu pekerjaan, saya melingkari nomor daftar pekerjaan itu. Selesai satu pekerjaan lagi, saya melingkari lagi nomor daftarnya. Begitu seterusnya hingga semua nomor di daftar itu terlingkari. Ada pekerjaan yang masuk lagi, saya tambah lagi nomor daftarnya. Begitu seterusnya. Pekerjaan masuk didaftarkan, pekerjaan selesai daftarnya dilingkari.

Akhirnya setelah waktunya pulang saya akan membuka buku catatan dan memeriksa daftar pekerjaan yang berhasil saya lingkari sepanjang hari itu. Saya akan tersenyum manis, lalu berbicara kepada diri sendiri, "Alhamdulillah, hari ini saya sangat produktif. Ada banyak pekerjaan yang bisa saya selesaikan".

Begitulah cara saya mengatasi kebingungan menghadapi ritme pekerjaan yang datang dan pergi. 

Memang betul kalau pekerjaan itu tidak akan pernah berakhir. Kita harus bisa menjadi bos untuk pekerjaan kita. Jangan sampai pekerjaan yang mengatur kita. Jangan sampai kita seperti apa yang disampaikan oleh Dalai Lama, Pemimpin Spiritual Tibet. Sewaktu ditanya apakah yang paling membingungkan di dunia ini? Beliau menjawab: "Manusia. Karena dia mengorbankan kesehatannya hanya demi uang. Lalu dia mengorbankan uangnya demi kesehatan. Lalu dia sangat khawatir dengan masa depannya sampai dia tidak menikmati masa kini. Akhirnya dia tidak hidup dimasa depan dan dimasa kini. Dia hidup seakan-akan tidak akan mati, lalu dia mati tanpa benar-benar menikmati apa itu hidup."

Bagaimana dengan kamu?

* * *

Selasa, 30 September 2014

Di Penghujung September

Sekitar empat tahun yang lalu, ketika saya dan beberapa teman masih mengurusi usaha warnet kecil-kecilan, hampir di setiap pagi di akhir pekan di depan warnet melintas anak-anak hingga orang-tua yang asyik mengayuh sepeda.

Ketika itu, bagi kebanyakan orang, pagi adalah saat untuk memulai hari. Tapi bagi kami, pagi adalah waktu untuk memulai tidur. Sebelum aktifitas tidur-pagi dimulai saya biasanya menyapu terlebih dahulu ruangan warnet, membersihkan asbak-asbak rokok di setiap bilik, mengepel lantai, hingga menyapu halaman depan ruko kontrakan kami.

Saat menyapu halaman depan ruko itulah saya sering menyaksikan keasyikan orang-orang yang bersepeda. Sempat muncul pertanyaan di benak saya, kapan ya saya bisa asyik bersepeda menikmati pagi seperti orang-orang tadi.

Waktu berputar, akhirnya saya pun punya sepeda. Malah ketika sebenarnya saya sudah mampu untuk mencicil motor, justru sepedalah yang pertama saya beli. Tapi bukankah hidup ini memang punya tahapan? Bukankah motor itu adalah sepeda yang bermesin, makanya ia disebut sepeda-motor? Kalau begitu, apa yang saya lakukan sudah sesuai dengan tahapan tadi, beli dulu sepedanya, baru beli motornya. Heheh. Dan, Alhamdulillah, setelah membeli sepeda, akhirnya saya dimampukan pula untuk mencicil motor.

Pagi tadi adalah rekor tercepat saya memulai bersepeda. Biasanya jam enam saya baru keluar kompleks. Tapi pagi tadi jam setengah enam saya sudah siap meluncur. Headset sudah terpasang di telinga. Instrument Mozart dengan volume yang lembut sudah siap mengiringi setiap putaran roda.

Sebulan terakhir ini saya memang hampir setiap pagi bersepeda, sampai-sampai tetangga kamar di kost-kostan berkomentar: wah tiap pagi olah raga Mas ini. Lalu saya jawab saja dengan enteng: itulah enaknya kalau bangun lebih pagi Mas. Lalu saya pun berlalu mengayuh sepeda hingga tahu-tahu beberapa saat kemudian saya sudah menyusuri jalan-jalan kota yang masih lengang.

Salah satu manfaat bersepeda adalah untuk kesehatan jantung. Selain itu juga dapat menguatkan otot paha dan otot pernapasan di perut. Perbedaannya dapat kita rasakan saat kita menaiki tangga di kantor, misalnya. Begitu menurut pengakuan teman saya yang berhasil saya provokasi untuk membeli sepeda.

Kalau menurut saya, bersepeda itu bisa menambah kebahagian kita. Sebenarnya bukan hanya bersepeda, tetapi segala jenis olah raga bisa menambah kebahagiaan kita. Pasalnya, karena saat berolah raga terjadi peningkatan produksi hormon yang berhubungan dengan kebahagiaan. Bersepeda juga bisa menambah rasa syukur kita, ini juga menurut saya. Apalagi jika bersepeda di pagi hari. Karena disaat orang lain mengisi pagi dengan terburu-buru mengejar jam sekolah atau jam kantor, kita masih berkesempatan menyusuri pagi dengan santai sambil menikmati setiap kayuhan sepeda.

Setiap kita barangkali punya pagi yang sama. Tetapi tidak setiap kita diberikan rasa nikmat yang sama pada pagi kita. Mungkin disinilah rasa syukur itu bekerja. Seperti janji Tuhan kita. Siapa yang bersyukur maka akan ditambahkan nikmat kepadanya. Jangan salah, kata "ditambahkan" disini jangan selalu dilihat dari segi kuantitas atau jumlahnya. Kita bisa keliru kalau melihatnya dari sisi itu.

Kata "ditambahkan" disini barangkali lebih sering berhubungan dengan kualitas. Kita barangkali sama-sama sebagai seorang karyawan dengan besaran gaji yang sama, tetapi nikmatnya kita menjadi karyawan boleh jadi berbeda. Kita barangkali sama-sama mengendarai motor kalau ke kantor, tetapi nikmatnya naik motor kita boleh jadi tidak sama.

Atau, kita sama-sama berada di penghujung September, tetapi nikmatnya ....
Silahkan lanjutkan sendiri saja. (*)

* * *

Selasa, 05 Agustus 2014

Selamat Merayakan Kerja

Ada beberapa kebiasaan di bulan Ramadhan yang sampai hari ini mudah-mudahan bisa tetap saya pertahankan.

Pertama, yaitu kebiasaan bangun subuh.
Kedua, yaitu kebiasaan tidak membawa pulang laptop dan pekerjaan kantor ke rumah.

Makanya, di bulan Ramadhan yang lalu waktu 24 jam sehari yang saya punya terasa begitu berkualitas.
Urusan kantor dibereskan di kantor. Urusan dirumah dinikmati di rumah.

Ramadhan telah berlalu, libur pun telah usai.
Selamat merayakan kerja.
Mohon maaf lahir dan batin.

* * *

Selasa, 07 Januari 2014

Hujan Bulan Januari

Ini sudah hampir jam duabelas malam.
Di luar sana hujan sedang lucu-lucunya.
Siapa pun yang lewat pasti dibasahinya.

Di sini masih Januari.
Hujan mungkin akan turun setiap hari.
Akan berhari-hari hingga selepas tahun baru Imlek nanti.

Santai saja, Idul Fitri sebentar lagi.
Setelah itu Natal pula.
Lalu kita akan lupa kalau ternyata kita telah melalui berkali-kali musim hujan di kota ini.

(Manado, 07/01/2014)

* * *

Selasa, 12 November 2013

Bertemu Keheningan

Ada banyak hari yang membahagiakan. Salah satunya adalah ketika kita berhasil melewati sebuah hari yang sangat sibuk.

Sejak bangun pagi, di kepala kita sudah dipenuhi dengan daftar list pekerjaan kantor yang masih harus diselesaikan. Setiba di kantor, belum pula pekerjaan itu kita kerjakan datang lagi pekerjaan berikutnya yang minta untuk diprioritaskan. Okelah kalau pekerjaan itu on the table saja. Tapi kadang-kadang di tengah pekerjaan on the table yang mendesak itu ada pula interupsi-interupsi pekerjaan on the field yang juga membutuhkan prioritas. Maka kita namakanlah hari itu sebagai Hari Sibuk Tingkat Internasional.

Hari ini saya mengalami hari seperti itu. Hari Sibuk Tingkat Internasional sekaligus Hari yang Membahagiakan.

Kalau siang tadi waktu berlari begitu cepat, maka malam ini waktu sepertinya berjalan begitu tenang. Sangat tenang, sampai-sampai saya bisa mendengar dengan jelas setiap tarikan dan hembusan napas sendiri.

Saya jadi ingat kata-kata yang dikutip seorang teman, yang katanya ia kutip juga. "Sesuatu yang tidak membuatmu mati akan menjadikannmu kuat."

* * *



Selasa, 29 Oktober 2013

Sakit Perut

Tidak gampang untuk mengamalkan nasehat bahwa sepertiga bagian perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk udara. Memang tidak gampang, apalagi jika segala ongkos prosesi mengisi perut tersebut tidak dibebankan pada isi dompetmu. 

Begitulah kira-kira. Semalam saya ditraktir seorang teman. Ia katanya kebetulan lewat di depan kantor saya. Singgahlah ia. Diajaknyalah saya untuk pergi makan. 

"Tunggulah sedikit lagi, masih ada beberapa file di komputer yang harus saya bereskan. Maghrib sepertinya juga sedang menjelang", begitu pesan saya kepada teman ini.

Sebenarnya makanan yang kami makan tadi malam itu biasa-biasa saja. Menu ikan bakar. Makanan nasional yang gampang sekali ditemui di seluruh tanah air kita ini, tak terkecuali di Manado tempatku bermukim sejak tiga tahun lalu. Hanya saja barangkali yang membedakan menu ikan bakar di daerah satu dengan di daerah lain yakni terletak pada bumbu dan sambal yang menemani ikan bakar tadi. Apalah jadinya ikan bakar tanpa sambal yang menendang.

Saya memang sejak dulu hobi makan dengan sambal. Bahkan sejak sambal itu masih dalam bentuk lombok biji. Barangkali disitulah akar persoalannya. Semalam itu menu ikan bakar kami dipadu dengan irisan tomat mentah ditambah dengan lombok biji yang ditumbuk kasar. orang Manado sini bilang dabu-dabu iris. Pernah dengar kan lagu Pulang Jo yang populer dinyayikan oleh Tantowi Yahya? Baiklah saya kutipkan beberapa lirik di lagu itu. Makan batata ubi kayu, rebus di balanga, colo dabu-dabu kapala ikan, ikan roa.... Pulang jo, pulang jo, biar busu-busu ini kampung sandiri. Nah, cita rasa dabu-dabu itulah yang barangkali akan bisa mengajak orang-orang Manado di perantauan sana untuk selalu pulang.

Hmm, dabu-dabu iris. Semalam saya pasti menyantap terlalu lahap dabu-dabu itu. Saking lahapnya saya jadi menambah lagi sepiring nasi. Lalu akhirnya lupalah saya pada nasehat sepertiga perut tadi.

(Beberapa menit setelah menuliskan catatan ini, saya menemukan diri saya sedang nongkrong di dalam toilet kantor sambil memikirkan hari esok dan entah apalagi, sesekali diselingi bunyi "plung" di dasar kloset)

* * *