Tampilkan postingan dengan label catatan pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan pendek. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Desember 2015

Novel Pulang Tere Liye, Buku Biografi Andy F. Noya, dan Tahun 2015 yang Akan Berakhir

Tahun 2015, akhirnya, akan segera berakhir. Masih lima hari lagi. Sudah lima hari pula saya libur kerja. Hari ini hari keenam, hari terakhir liburan. Libur enam hari itu ternyata sama dengan libur selama seratus empat puluh empat jam. Tapi kenapa rasanya seperti sebentar saja. Heheh.

Desember tahun ini saya tidak pulang ke kampung. Walaupun sebenarnya libur 6 hari itu adalah waktu yang cukup untuk mudik ke tanah kelahiran saya Raha, Kabupaten Muna, di Sulawesi Tenggara sana. Alasan pertama saya tidak mudik adalah karena baru saja bulan November yang lalu saya mengunjungi kampungku itu.  Alasan yang kedua adalah karena masih ada beberapa urusan pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum tahun 2015 berakhir.

Tiga tahun terakhir setiap Desember saya memang selalu pulang memanfaatkan banyaknya hari libur disekitaran hari natal. Tiga tahun terakhir ini setiap tahun saya selalu pulang dua kali, saat Hari Raya Idul Fitri dan liburan natal. Memang, sebaik-baik liburan adalah ke kampung sendiri. Apalagi jika disana kita masih bisa bertemu dan menciumi tangan kedua orang tua kita. Bapak saya selalu bilang, kepulangan kami anak-anaknya adalah obat umur panjang bagi orang tua.

Enam hari libur, saya tidak kemana-mana. Saya di rumah saja. File-file pekerjaan kantor yang akan diselesaikan ikut saya boyong ke rumah. Oh iya, saya menyebut rumah karena sejak satu bulan lalu saya tidak indekos lagi. Saya sekarang tinggal agak jauh sedikit dari pusat kota, menyewa sebuah rumah kecil. Di depan rumah itu saya tanami bibit pohon rambutan pemberian Bapak Kostku sebelumnya. Kata Beliau, pohon rambutan itu sebagai kenang-kenangan agar saya selalu mengingat keluarga kos-kosan.

Liburan kali ini saya memang tidak kemana-mana, saya hanya di rumah saja. Saya membaca habis dua buah buku. Novel berjudul Pulang karya Tere Liye dan Buku Biografi Andy F. Noya, host Acara Kick Andy di Metro TV itu. Dari dua buku yang habis saya baca itu, walaupun saya hanya di rumah saja, tetapi dengan membacanya saya seperti mengunjungi banyak tempat, berjumpa banyak peristiwa, dan mengunjungi dimensi waktu yang banyak pula. Disitulah keajaibannya kalau kita membaca buku.

Walaupun genrenya berbeda, secara garis besar, kedua buku itu sama-sama bercerita tentang pengalaman-pengalaman masa lalu, pencapaian-pencapaian hari ini, dan harapan-harapan di masa depan. Di tulisan ini saya tidak ingin membedah isi kedua buku itu. Anda yang mengikuti novel-novel Tere Liye mungkin saja sudah membaca novel berjudul Pulang tersebut. Saya bukan pengoleksi novel, tapi kalau Anda ingin mengoleksi, saya menyarankan untuk tidak melewatkan karya-karya Tere Liye. Sampai hari ini saya (baru) hanya memiliki empat judul karangannya. Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, Sunset Bersama Rose, Eliana, dan Pulang. Setelah ini saya mungkin akan mencari judul-judul yang lain. Dalam karya-karya Tere Liye banyak disisipkan nasehat-nasehat kehidupan. Menurut saya, akan sangat berguna jika kelak kita bisa mewariskan novel-novel itu ke anak-anak kita.

Kemudian tentang Buku Biografi Andi F. Noya. 

Sebelum membaca buku tersebut, selama ini saya mengira bahwa kata Flores pada nama Andy Flores Noya adalah karena Beliau berasal dari Flores. Tetapi ternyata Andy Noya bukan berasal dari Flores. Kata itu berasal dari bahasa Portugis yang berarti bunga. Di Biografi tersebut, Andy F. Noya menuturkan bahwa ia adalah keturunan campur aduk. “Selain darah Belanda dari Ibuku, aku juga mewarisi “bonus” darah Perancis-Portugis dari ayahku. Ayahku, Ade Wilhelmus Flores Noya, lahir dari pasangan Thobias Noya, asal Hulaliu, sebuah desa di Maluku Tengah, dan Adolfina Josephine Dousse, perempuan Ternate keturunan Perancis. Darah Portugis juga mengalir dari kakekku”, begitu buku itu mengisahkan di halaman-halaman awal.

Buku ini bercerita tentang kehidupan Andy F. Noya sejak dari pengalaman masa kecil di Surabaya, masa remaja di Jayapura, hingga kuliah di Jakarta. Bagaimana kehidupan Keluarganya, Ibunya, Bapaknya, Kakak-kakaknya, kisah bertemu pertama kali dengan perempuan yang sekarang menjadi Isterinya, hingga bagaimana ia meniti karir dari wartawan junior sampai bisa menjadi Pemimpin Redaksi di Metro TV dan menjadi orang kepercayaan Surya Paloh pemilik Media Group. Di buku ini juga diceritakan ide awal Program Acara Kick Andy di Metro TV yang selalu menghadirkan nara sumber-nara sumber yang penuh inspirasi dan telah menginspirasi jutaan pemirsa Indonesia.

Salah satu yang juga menarik dari buku itu, ini mungkin sangat subyektif sekali, adalah karena nama tanah kelahiranku, Raha, sempat diceritakan di dalamnya. Tak perlu Anda susah-susah mencarinya di halaman berapa diceritakan. Saya akan memberitahukannya. Halaman 176 baris ke-10. Wuihh, hafal benar saya, wkwkwk. Menemukan tanah kelahiranku disebut dalam buku itu memang senang rasanya. Karena selama ini jika saya memperkenalkan diri berasal dari Raha, orang-orang selalu salah menebak. Mereka mengira Raha itu adanya di Nusa Tenggara sana. Tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah jika ada yang bertanya Raha itu dimana, adakah di peta Indonesia? Arrggh, sakitnya tuh disini.. Kawan!

Dan tentu saja ada banyak cerita menarik lainnya di dalam buku itu. Kisah yang lebih lengkap silahkan Anda baca sendiri saja. Saya merekomendasikan buku ini untuk Anda baca dengan tuntas dan menjadi salah satu koleksi Anda di rumah.

Saya punya beberapa koleksi buku Biografi di rumah. Dan sepertinya saya akan terus menambah koleksi buku-buku yang bertema Biografi. Saya pernah bilang kepada seorang kawan bahwa buku-buku dengan tema-tema Biografi adalah buku yang layak untuk dimiliki. Waktu itu saya tidak menyampaikan alasannya kenapa.

Belakangan saya menyadari bahwa dengan membaca buku perjalanan hidup seseorang, sebenarnya kita diajak untuk melihat bagaimana Allah merancang kehidupan ini. Bagaimana Allah mempertemukan kita dengan suatu peristiwa untuk kemudian bertemu lagi dengan peristiwa berikutnya. Bagaimana Allah menitipkan kita pada satu keadaan lalu dibawa lagi pada keadaan yang lainnya. Kenapa kemarin kita bertemu dengan si Fulan, bertemu si Fulanah. Kenapa kemarin kita berada di kota sana hari ini di kota sini, kenapa kita bertemu dengan keadaan-keadaan senang, kenapa kita mengalami keadaan-keadaan susah, dan banyak lagi peristiwa-peristiwa hidup lainnya. Tugas kitalah untuk menghubung-hubungkan berbagai peristiwa itu untuk mengambil hikmah dan pelajaran bagi kehidupan kita hari ini dan juga esok. Dan kita wajib percaya bahwa kejadian-kejadian yang hadir dalam kehidupan kita pasti punya makna. Tidaklah Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini dengan sia-sia.

Kalau Allah berkehendak, maka lima hari lagi kita akan bertemu dengan tahun 2016. Kita tidak tahu rencana apa yang Allah telah persiapkan untuk kehidupan kita di tahun 2016 nanti. Mengutip sebuah dialog yang terdapat dalam novel Pulang itu. “Seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait-mengait. Esok lusa kau akan lebih memahaminya”.

Aamiin. (*)


Senin, 07 Desember 2015

Senin (Semangat Nan Indah)

Kalau soal urusan dunia melihatlah ke bawah. Kalau soal urusan akhirat melihatlah ke atas. Begitulah seringkali saya mendapat nasehat.

Dan benar saja, ketika saya dihinggapi perasaan jenuh mengerjakan rutinitas kantor, saya biasanya akan mengingat mereka-mereka yang saya temui di jalan-jalan. Mereka-mereka ini ada yang menjajakan koran, sopir angkot, penjaja minuman dingin, tukang parkir, hingga pemandu kendaraan yang akan memutar arah. Saya membandingkan pekerjaan mereka yang bisa seharian penuh berpanas-panasan di jalan dengan pekerjaan saya yang seharian penuh berada dalam sejuknya ruangan ber-AC.

Sekarang musim hujan telah tiba. Mereka-mereka yang saya temui di jalan-jalan tadi barangkali akan kembali menjalani pekerjaan mereka dengan berhujan-hujanan. Saya pun akan tetap menjalani pekerjaan saya dalam sejuknya ruangan ber-AC, mungkin juga dengan ditemani kopi hangat atau ditemani instrument musik jazz yang tenang.

Dengan membandingkan seperti ini biasanya semangat kerja saya kembali hidup dan rasa syukur menjadi berlimpah. Dalam soal-soal urusan dunia ini, jika kita melihat ke atas maka comparison is the thief of joy. Namun, jika kita melihat ke bawah maka comparison is the ocean of grateful. Begitulah barangkali rumus kehidupan ini. Sederhana sekali. Alhamdulillah. (*)

Rabu, 26 Agustus 2015

Mahasiswa Universitas Kehidupan

Hingga hari ini adik-adik Mahasiswa di jurusanku dulu, Jurusan Matematika Universitas Hasanuddin Makassar, masih sering mengirimi saya sms undangan untuk menghadiri kegiatan mereka. Dari kegiatan penerimaan mahasiswa baru, kegiatan lomba dalam rangka ulang tahun Organisasi Himpunan Mahasiswa, hingga Musyawarah Besar menjelang suksesi pergantian kepengurusan.

Doktrin jaspulisi - jangan sampai putus tali silaturrahiim - terus ditularkan oleh senior-senior kepada adik-adik mahasiswa yang baru masuk. Doktrin ini turun-temurun diwariskan dari angkatan ke angkatan. Maka jika sampai hari ini masih ada sms-sms yang masuk, itu adalah buah dari doktrin tadi. Kami pun sebagai alumni yang telah bertahun-tahun meninggalkan kampus, mendapat sms seperti ini bagaikan diajak untuk mengenang kembali kampus almamater kami. Dan, tentu saja ada perasaan haru dan juga bahagia mengetahui nama kami masih tetap hidup di kampus yang telah lama kami tinggalkan.

Pernah suatu sore, di Manado sini, saya mengunjungi kampus Universitas Samratulangi. Sebenarnya sebelum kunjungan itu saya pernah datang beberapa kali. Hanya saja pada kunjungan saya yang beberapa kali itu, suasana kampus masih sepi. Pada kunjungan saya berikutnya, pada sore itu, suasana kampus lagi ramai-ramainya oleh mahasiswa. Dari halaman parkir saya berdiri memandang gedung Pascasarjana Jurusan Ekonomi. Saya melihat geliat kehidupan kampus begitu kuat menggoda diri ini untuk merasakan kembali berada dalam atmosfer perkuliahan.

Saya kuliah S1 saja susahnya bukan main. Ini malah mau digoda lagi untuk S2. Padahal dulu pas waktu tahun-tahun terakhir kuliah S1, ketika skripsi belum juga kelar-kelar, ada guyonan yang kerapkali kami ucapkan. "Kalau belum bisa nyusun skripsi, nyusun tesis dululah, wkwkwk.." 

Terlepas dari apakah kita pernah kuliah S1, S2, atau S3, bahkan sekalipun kita hanya lulusan SD, sejatinya kita adalah Mahasiswa pada Universitas Kehidupan.

Oh, iya, kalau dipikir-pikir, tujuan kita berkuliah (baca: hidup) sebenarnya untuk apa?

Ayo, mari dipikirkan. Jika sudah selesai dipikir-pikir dan sudah ketemu jawabannya, silahkan dikumpulkan lembar jawabannya. (*)

Kamis, 20 Agustus 2015

Berolahragalah, tapi jangan berlebihan


Kapan terakhir kali kamu berolahraga? Sudah lupa karena saking terlalu lamanya?

* * *

Terakhir kali saya berolahraga adalah sebulan sebelum bulan puasa. Olahraga yang saya maksud disini adalah olahraga yang betul-betul diniatkan untuk berolahraga dan mencari keringat. Bukan berjalan kaki naik tangga dari lantai satu ke lantai dua kantor. Bukan berjalan kaki di mall. Bukan berjalan kaki menuju kendaraan di parkiran, ataupun kegiatan sehari-hari lainnya yang mengharuskan tubuh bergerak.

Untuk mencari keringat, saya punya tiga jenis olahraga. Joging, bersepeda, dan futsal. Sebenarnya masih ada satu lagi, yaitu senam pagi di kantor setiap hari Jum'at. Namun hampir satu tahun terakhir kegiatan senam pagi ini vakum. 

Kapan terakhir kali kamu berolahraga?

Saran saya, kalau sudah terlalu lama berhenti berolahraga jangan langsung memporsir tenaga ketika mulai berolahraga kembali. Ini saya alami di dua pekan terakhir ini.

Hari Minggu dua pekan lalu, saya memulai kembali berolahraga. Saya memilih berjalan kaki. Saya pikir, jalan kaki di pagi hari mungkin jadi pilihan yang tepat untuk memulai kembali kebiasaan berolahraga yang sempat terhenti. Apalagi menikmati Kota Manado memang paling pas di pagi hari di hari Minggu. Jalan-jalan masih sepi, udara masih sejuk, sinar matahari masih teduh. Lebih-lebih kalau kita berjalan di sepanjang kawasan pantai Boulevard Manado, semua yang kita pandang seolah tersenyum kepada kita. Dan sinar matahari yang teduh membuat pagi lambat beranjak. Ohh, nikmatnya.

Lalu apa yang terjadi? Barangkali saya terlampau jauh berjalan. Saya berjalan selama dua jam. Awalnya mungkin tidak ada yang salah dengan berjalan kaki selama itu. Tapi setiba rumah, efek berjalan kaki tadi mulai terasa terutama di daerah otot betis dan paha. Dan benar saja esok paginya di hari Senin, efek berjalan kaki itu mulai direspon oleh seluruh tubuh. Meriang datang menghinggapi badan, tapi untunglah tidak sampai mengganggu rutinitas pekerjaan saya. Hari Selasa besoknya, alhamdulillah gejala meriang akhirnya menghilang.

Kemudian, pada Sabtu lima hari yang lalu, saya mencoba lagi untuk berolahraga. Kali ini dengan bersepeda. Rencananya hari itu kami akan menghidupkan kembali kegiatan bersepeda bersama teman-teman kantor. Kami janjian kumpul di halaman kantor jam setengah enam pagi. Orang yang pertama hadir adalah saya. Akhirnya tanpa harus menunggu lama saya mendapatkan kepastian bahwa sayalah satu-satunya orang yang hadir di pagi itu. Baiklah kalau begitu. Saya bersepeda sendiri saja. Di perjalanan pasti banyak rombongan bersepeda yang akan saya ketemukan.

* * *

Rupanya saya mengulang kembali kesalahan terlalu memporsir tenaga saat jalan pagi pekan sebelumnya. Kali ini saya terlalu jauh mengayuh sepeda. Saya lupa bahwa sama seperti orang berpuasa, ketika tiba waktunya berbuka maka sebaiknya tidak langsung mengkonsumsi menu dengan porsi yang berat. Cukup dengan beberapa biji kurma atau beberapa teguk air putih. Harusnya pelajaran berpuasa tersebut saya terapkan juga saat kembali aktif berolahraga.

Gara-gara bersepeda itu saya jadi melewatkan kemeriahan hari kemerdekaan. Sejak hari Minggu perasaan saya sudah tidak bergairah untuk kemana-mana. Harusnya olahraga membuat tubuh jadi fit, tapi ini malah membuat loyo. Dua hari saya hanya di rumah saja, menghabiskan long weekend dengan menonton beberapa judul film di hardisk komputer saya. Nonton, tidur, bangun tidur nonton lagi.

Olahraga berlebihan memang tidak baik juga untuk tubuh. Berharap sehat, malah sebaliknya.
Barangkali bukan hanya olahraga saja, apapun itu kalau sudah berlebihan jadinya tidak baik. (*)
 


Selasa, 28 April 2015

Orang bodoh sekaligus orang paling bodoh

Mari duduk yang manis. Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang buku. Tentang sesuatu yang disebut sebagai jendela dunia. Sesuatu yang bisa menjadi sebaik-baik teman. Sesuatu yang dunia memperingatinya setiap tanggal 23 April. Dan memang buku itu adalah sesuatu.

Bercerita tentang buku, kami punya satu ungkapan ketika masih mahasiswa dulu yang bisa menggambarkan tentang begitu berharganya sebuah buku. Ungkapan itu bunyinya seperti ini: Orang bodoh adalah orang yang memiliki buku dan meminjamkannya kepada orang lain, tetapi yang paling bodoh lagi adalah orang yang dipinjamkan buku lalu ia mengembalikan buku itu.

Ketika mahasiswa saya termasuk golongan orang yang paling bodoh yang disebutkan dalam ungkapan di atas tadi. Waktu itu boleh dibilang kemampuan saya untuk membeli atau memiliki buku adalah hampir sama dengan nol. Buku yang saya beli, hanyalah buku-buku wajib matakuliah yang di dalamnya berisi modul-modul kuliah umum yang kalau kita membeli buku-buku itu kita bisa memperoleh garansi untuk mendapat nilai B. Selebihnya saya harus meminjam ke Senior-Senior atau ke perpustakaan kampus. Konsekuensi dari meminjam ini adalah harus mengembalikannya. Dan jika meyakini ungkapan di atas tadi, maka konsekuensi berikutnya adalah mengikhlaskan diri untuk disebut sebagai orang yang paling bodoh.

Tapi sudahlah, masa bodoh dengan ungkapan itu, wkwkwk. Mari kita lanjut.

Ketika mahasiswa saya sering meminjam buku di perpustakaan kampus. Tapi anehnya buku-buku yang saya pinjam lebih banyak berisi judul-judul yang tidak berhubungan langsung dengan konsentrasi jurusan kuliah saya. (waktu kuliah dulu saya mengambil jurusan matematika). Menurut ingatan saya, daftar buku yang pernah saya pinjam diantaranya adalah buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Panggil Aku Kartini Saja. Ada juga novel karya Putu Wijaya: Putri. Lalu, novel karya NH. Dini: Namaku Hiroko. Saya juga senang meminjam buku berisi renungan-renungan kehidupan yang ditulis oleh Gede Prama. Buku-buku filsafat juga tak ketinggalan, serta buku-buku tentang hidup sehat, tentang keorganisasian, dan juga kepemimpinan.

Dari Senior-Senior ataupun Teman-Teman, selain novel atau buku cerita, saya juga suka meminjam buku-buku tentang bagaimana mengenal kepribadian orang lain, bagaimana bergaul dan mendapatkan teman, juga buku-buku agama Islam yang berisi tuntunan praktek hidup sehari-hari.

Sedikit sekali memang saya meminjam buku-buku yang berhubungan dengan disiplin ilmu saya. Melihat kembali daftar buku bacaan saya ketika kuliah dulu mungkin saya telah keliru memilih jurusan. Saya barangkali akan lebih pas jika kuliah di jurusan sastra ataupun sejenisnya.

Tapi sepertinya ini bukan soal keliru ataupun tidak keliru memilih jurusan. Ini lebih kepada persoalan minat baca. Dan saya rasa tidak ada mahasiswa sastra yang memilih buku matematika untuk dibaca saat santai sambil ngopi atau ngeteh. Karenanya saya bersyukur pernah berkuliah di jurusan matematika. Sehingga kalau pikiran sedang badmood, atau kalau lagi mau bersantai saya bisa membaca sebuah buku dengan tema-tema kehidupan.

Hal ini pun terbawa-bawa sampai sekarang. Saat volume pekerjaan yang datang kadangkala menguras pikiran, saya biasanya akan melarikan diri ke dalam halaman-halaman buku bacaan. Dan biasanya ada saja pencerahan-pencerahan baru yang saya dapatkan setelah berdiam diri beberapa saat dalam halaman-halaman buku. Besoknya pikiran fresh kembali.

* * *

Saya pernah punya buku catatan kecil. Semacam diary begitulah. Disitu saya pernah menuliskan daftar 100 cita-cita sederhana yang ingin saya raih. Itu sembilan tahun yang lalu. Sekarang beberapa dari daftar itu sudah tercapai. Seperti misalnya saya ingin bertemu dan bersalaman dengan Presiden Indonesia, atau saya ingin bisa menyetir mobil. Dan cita-cita ingin mempunyai perpustakaan kecil di rumah sepertinya juga perlahan mulai mewujud. Memang saat ini koleksi judul buku yang saya punya belum bisa dibilang banyak, tapi untuk dibilang sedikit juga tidak layak. Program sebulan sebuah buku sepertinya tidak sukar untuk saya jalankan dimasa-masa sekarang. Sehingga untuk tahun ini insya Allah buku-buku tadi akan bertambah 12 judul, tahun depan 12 judul, dan akan bertambah lagi 12 judul, begitu setiap tahunnya.

Berteman dengan buku saya jadi tahu bahwa ada buku-buku yang kita cukup hanya membacanya sekali, ada yang beberapa kali, ada yang berulang-ulang, dan ada yang setiap hari. Saya juga bisa mengerti kenapa orang yang mau meminjamkan bukunya disebut sebagai orang bodoh. Dan, orang paling bodoh lagi adalah yang mau mengembalikan buku pinjamannya.

Makanya, biar tidak terjebak dalam lingkaran kebodohan itu saya akan memilih memberikannya ketimbang meminjamkannya. Atau, saya akan membeli sebuah buku lagi dengan judul yang sama kemudian saya pinjamkan.

Atau, saya akan meminjamkan sebuah buku dan sebagai gantinya saya meminta dipinjamkan sebuah buku yang lain. Hal ini untuk sekedar berjaga-jaga siapa tahu kita adalah murid dari perguruan silat yang sama, orang bodoh sekaligus orang paling bodoh. Wkwkwk. (*)

(Catatan ini sebagai pengingat Hari Buku tanggal 23 April kemarin. Maaf terlambat, hehe)


Jumat, 30 Januari 2015

segala puji hanya bagi-Nya

Saya ingin menutup hari ini dengan mengucapkan banyak terima kasih.
Kepada penemu mesin fax.
Kepada penemu e-mail.
Kepada penemu mesin printer.
Kepada penemu mesin scan.
Kepada penemu ponsel.
Kepada penemu kertas.
Kepada penemu tinta printer.
Kepada penemu komputer.


* * *

Kamis, 04 Desember 2014

Kerja Belum Selesai

Kita belum sampai pada masa seperti pada peribahasa itu.
Bersenang-senang kemudian.

* * *

Senin, 12 Mei 2014

Hei

Hei, hei
Ini sudah bulan mei kan


* * *

Senin, 21 April 2014

(Bukan) Berita Penting

Hari-hari terakhir ini ada banyak berita yang barangkali sudah kita dengar, kita tonton, ataupun kita baca dari berbagai media.

Hari-hari terakhir ini saya rutin mengikuti perkembangan berita politik di Jakarta sana. Dari berita tentang perpecahan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), hingga pergerakan calon-calon presiden dalam mencari mitra koalisi menuju Pemilihan Presiden di bulan Juli nanti.

Hari-hari terakhir ini saya juga rutin mengikuti berita persaingan beberapa klub sepakbola dalam memperebutkan juara di liga masing-masing. Dari berita tentang Liverpool yang tinggal menyisakan dua kemenangan lagi untuk memastikan diri menjadi juara liga Inggris sejak terakhir kali pada 24 tahun yang lalu, hingga berita tentang Timnas U-19 Indonesia yang meliburkan pemainnya untuk mengikuti Ujian Nasional susulan.

Hari-hari terakhir ini kita barangkali telah banyak mendengar, menonton, ataupun membaca berita dari berbagai media. Sehingga kabar yang ingin saya sampaikan berikut ini hanya akan menjadi angin lalu diantara berita-berita yang telah banyak itu.

Barusan saya mendapat kabar kalau di kampung halamanku sudah ada Lapangan Futsal Indoor. Hehe.

* * *

Kamis, 20 Maret 2014

kebiasaan baru

Dua hari belakangan ini saya punya kebiasaan baru. Kebiasaan itu adalah kalau pagi selalu datang ke kantor sebelum setengah delapan. Kalau pagi minum teh, pas sorenya minum kopi. Komposisi kopi dan gulanya pun luar biasa menurut saya. Gulanya dua setengah sendok makan, kopinya satu sendok makan. Dengan komposisi gula dan kopi seperti ini maka akan menghasilkan segelas kopi dengan cita rasa, yang katanya teman-teman, pahit manis. Rasa pahitnya kental, rasa manisnya ikut melekat.

Kebiasaan baru lainnya adalah saya selalu bisa menemukan sinar matahari sore di sepanjang jalan ketika pulang menuju rumah. Dua hari belakangan ini saya pulang sebelum malam.

Sebenarnya hal-hal tadi belum tepat kalau saya sebut sebagai kebiasaan. Soalnya baru dua hari saya kerjakan. Tetapi untuk datang ke kantor sebelum setengah delapan nantinya akan benar-benar menjadi kebiasaan. Soalnya sekarang di kantor sudah menggunakan mesin absensi fingerprint. Lihatlah kehebohan ibu-ibu di kantor yang katanya tidak sempat berdandan di rumah, atau sekedar menggoreskan penghitam alis gara-gara belum terbiasa dengan mesin fingerprint tadi.

Kalau untuk pulang kantor dalam sinaran matahari sore saya tidak bisa menjanjikan akan menjadi sebuah kebiasaan. Begitupun untuk minum kopi pahit manis disore hari, walaupun sore ini ketika menuliskan catatan ini saya memang sedang menikmati kopi pahit manis itu. 

Sekarang begini saja, ayo, mari habiskan kopimu selagi hangat.

* * *

Senin, 10 Maret 2014

sepotong roti

Selalu sisipkan sepotong roti di laci meja kerjamu.
Itu saja, pesanku hari ini.

* * *

Minggu, 22 Desember 2013

Di Italia ada Inter Milan

Saya mau bilang begini. Kepada sesama kita yang menyukai sepakbola. Barangkali kita tak harus ngefans sama semua klub bola. Satu saja sudah cukup menurut saya. Walaupun ada banyak klub bola yang bagus-bagus. 

Tujuan yang paling masuk akal kenapa kita tak harus ngefans sama semua klub bola yang bagus-bagus itu adalah agar kita tidak selalu begadang setiap minggunya menunggui siaran pertandingan klub-klub itu.

Coba bayangkan, malam minggu sudah ada banyak siaran langsung dari berbagai liga di Eropa sana. Sejak mulai lepas isya sampai menjelang subuh. Besok malamnya lagi, malam Senin, juga tidak kalah banyaknya pertandingan-pertandingan yang disiarkan. 

Itu baru pertandingan akhir pekan. Belum lagi pertandingan tengah pekan, hari Rabu dan Kamis.
Oleh karena itu, memang ada baiknya kita cukup ngefans sama satu klub bola saja.

Eh, ngomong-ngomong di Italia sana ada Inter Milan. Itu kesebelasan fanatik saya. Heheh.

* * *

Jumat, 13 Desember 2013

Senyum Sepoi-Sepoi


Senyum sepoi-sepoi itu barangkali seperti angin. Yang masuk dari celah-celah fentilasi di atas jendela kamar kita. Yang menyentuh ujung kaki kita, atau ujung jari kita, atau ujung hidung kita, atau apa saja dari bagian tubuh kita yang lolos dari dekapan selimut saat pagi hampir berlalu.

Senyum sepoi-sepoi itu barangkali seperti angin. Yang berlari di atas pematang sawah. Yang berkejaran susul-menyusul dengan belalang di sela-sela batang padi yang bijinya hampir menguning. Yang singgah di pundak para petani dan berbisik lembut pada telinga mereka, mengabarkan bahwa jam makan siang telah tiba.

Senyum sepoi-sepoi itu barangkali seperti angin. Yang menguapkan peluh di bibir secangkir teh yang sore.

* * *

Rabu, 04 Desember 2013

Apalah Artinya Sebuah Nama

Nama saya Luqman. Tapi saya seringkali dipanggil tidak dengan nama itu. Beberapa teman di kantor ada yang lebih suka menyapa dengan Pak Lucky. Awalnya saya kurang nyaman pada sapaan nama itu. Sebab, saya jadi terdengar lebih tua. Tapi lama-lama, saya pikir-pikir, santai sajalah. Bukannya lucky berarti beruntung? Berarti kalau ada yang menyapa saya dengan Pak Lucky itu sama saja dengan mereka bilang "hai Pak yang beruntung.." Bukankah ada yang bilang nama adalah doa? Kalau begitu setiap kali saya disapa dengan nama itu, maka setiap kali itu juga saya didoakan mendapat keberuntungan. Eh, eh.. tapi jangan lupa, keberuntungan harus pula dibuat mengalir kepada orang-orang di sekitar kita, kepada lingkungan kita.

Tapi seingat kepala ini, panggilan Lucky sepertinya bukan saja baru sekarang saya dengar ditujukan kepada diri ini. Waktu jaman SD dulu, saya juga pernah dipanggil dengan nama Lucky Luke. Waktu itu pas lagi jamannya film Lucky Luke. Seorang koboi yang menggoreng telur di atas batu. Seorang koboi yang kecepatan tangannya memainkan pistol lebih cepat daripada bayangannya.

Kemudian pas SMP, teman-teman memanggil saya dengan nama Luken. Saya tidak tahu juga apa artinya nama itu. Panggilan Luken ini masih lekat sampai sekarang. Terutama oleh teman-teman dekat saya. Kalau suatu waktu kamu mendengar seseorang memanggil dengan nama ini, kamu jangan ragu menduga kalau orang tersebut pastilah teman akrab saya. Aha, beberapa lama kemudian saya mengartikan sendiri nama Luken itu. Lu itu artinya kamu, ken itu asal kata can artinya mampu/bisa, sehingga Luken artinya kamu bisa. Nah, bagaimana? Boleh seperti itu kan?

Eh, ternyata belum selesai sampai disitu. Pas kuliah, saya dapat panggilan baru lagi. Kali ini panggilan itu lebih punya hubungan dengan nama asli saya. Lumbah. Singkatan dari Luqman Bahri. Saya masih ingat, waktu kuliah dulu, dalam satu angkatan saya se-fakultas terdapat 3 orang yang bernama Luqman atau Lukman. Ada Lukman Ali jurusan fisika. Ada Lukman Masnur yang jurusan Matematika. Dan saya yang di Statistika.

Teman saya yang Lukman Masnur tadi kemudian lebih sering dipanggil dengan sapaan Lumas. Sedangkan yang Lukman Ali barangkali tetap Lukman. Atau barangkali, memang sudah budaya kita yang suka mempendek-pendekkan nama panggilan. Teman saya yang lain yang namanya Adi Kurniawan biasa dipanggil Adi Kure. Purnama dipanggil Pure. Ahsan dipanggil Aca. Dan masih banyak lagi.

Kembali ke panggilan Lumbah tadi. Ada beberapa teman yang kalau lagi bercanda biasa memanggil dengan si Lumbah-Lumbah. Tapi anehnya saya tidak marah. Yang pertama, karena mungkin teman saya yang memanggil itu memang teman akrab yang bisa saya candai balik juga. Yang kedua, barangkali karena saya langsung mengasosiasikan kata lumbah-lumbah itu dengan hewan yang hidupnya di air, yang suka menolong itu, yang katanya kalau dalam pelayaran kita melihat lumbah-lumbah berenang di permukaan air maka berarti pelayaran kita akan aman. Saya langsung mengasosiasikannya ke hewan air tadi. Hewan yang suka menolong itu. Sesama teman, bukankah memang harus saling menolong?

Ini masih soal nama pula. Memiliki nama ternyata tidak cukup sampai disitu saja. Kita juga mesti tahu bagaimana memperkenalkan nama kita.

Memperkenalkan nama ini ternyata ada seninya juga. Biar orang yang kita beritahu gampang mengingatnya. Tidak sekedar menyebutkan nama saja.

Tentang seni perkenalan nama ini, saya paling suka cara yang dipakai oleh senior-senior saya waktu kuliah dulu. Cara ini juga yang biasa saya pakai untuk mempekenalkan diri terutama pada acara-acara malam keakraban dengan mahasiswa baru.

Kami biasa memulai perkenalan dengan seperti ini. Nama saya Luqman, lengkapnya Luqman Bahri. Teman-teman biasa memanggil Luqman atau Lumbah, ada yang memanggil Kanda Luqman, ada yang memanggil Kak Luqman, tapi sebenarnya saya lebih suka kalau dipanggil makan.

Biasanya setelah perkenalan singkat itu, suasana menjadi cair. Dari situ barulah kita mulai membahas tentang bagaimana kehidupan kampus itu, bagaimana melewati tahun pertama kuliah, bagaimana mengenal seluk-beluk kampus, dan pembahasan lainnya tentang kampus.

Tapi jujur, tentang apa arti nama Luqman Bahri, mengapa orang tua saya memberikan nama itu, belum sekalipun saya menanyakannya kepada Bapak atau Mamak. Saya hanya menduga-duga, kalau keinginan orang tua saya dengan nama Luqman itu adalah agar saya bisa meneladani seseorang yang di dalam Alqur'an diabadikan namanya menjadi nama sebuah Surah. Seseorang yang menasehati anaknya agar tidak berkata  ah kepada kedua Ibu Bapaknya, apalagi berlaku kasar.

Akhirnya, mereka yang bertanya apalah arti sebuah nama, maka mestilah juga diingatkan pada peribahasa ini:  bahwa manusia mati meninggalkan nama. Dan, nama disini tidak hanya berarti beberapa kata yang tertera di KTP. Nama itu bisa berupa wajah ceria kala menjumpai saudara kita. Menjadi tetangga yang baik. Dan masih banyak lagi.

* * *

Minggu, 01 Desember 2013

Ini Bulan Desember

Baik merangkak, berjalan, berlari, maupun terbang, kita membutuhkan 30 hari lamanya untuk sampai dari pangkal November menuju pangkal Desember. Dan apa-apa yang kita temui di bulan ini pasti selalu ada embel-embel Desembernya. Mulai dari pengingat tanggal di handphone. Karcis yang kita terima dari penjaga parkir mall. Struk belanja. Surat-menyurat di kantor. Struk penarikan uang di ATM. Hingga senyum manis pramugari yang menemanimu pada penerbangan tiga puluh lima ribu kaki di atas permukaan laut.

Ini bulan Desember. Mari lihat apa-apa yang bisa kita petik di bulan ini. Bismillah.

* * *

Rabu, 13 November 2013

Hidup Cuma Rabu-Rabu

Di setiap Sabtu malam tontonlah TVRI. Saya punya acara favorit di malam itu. Acara ini juga pernah populer di TVRI pada periode 1988 hingga 1998. Namanya Berpacu dalam Melodi (BDM). Pembawa acaranya masih tetap sama seperti puluhan tahun yang lalu, Koes Hendratmo. Mas Koes orang memanggilnya.

Usia Mas Koes sekarang sudah 70 tahun. Kalau menghitung ke belakang, ke tahun acara ini pertama kali ditayangkan maka usia Mas Koes pada saat itu baru 45 tahun. Kalau mencoba juga menghitung usia saya waktu itu baru sekitar 4 tahun.

Pada periode 1988-1998 siaran tivi di rumah saya memang hanya TVRI. Jadi sepanjang periode tersebut ingatan saya kepada acara ini begitu melekat. Dan sekarang ketika acara ini kembali tayang dan kembali lagi menjadi salah satu acara favorit saya, itupun karena di kamar kontrakan saya hanya ada tiga siaran tivi yang jernih penangkapan gambarnya. Salah satunya TVRI.

Berpacu dalam Melodi tampaknya memang membidik segmen penonton lama. Penonton lama tersebut barangkali adalah generasi Bapak dan Mamak kita. Dan barangkali pula generasi saya yang pada waktu kecil dulu di rumahnya hanya ada siaran TVRI.

"Kami tidak ingin kehilangan penonton lama, tetapi kami juga ingin rengkuh penonton baru," kata Helmy Yahya, orang lama di belakang BDM yang bersama TVRI menghadirkan kembali acara tersebut. (kompas.com)

Menonton Kuis Berpacu dalam Melodi seperti mengingat kembali masa puluhan tahun dulu. Apalagi bukan saja pembawa acaranya saja, tetapi konduktor musiknya juga masih sama yaitu Ireng Maulana yang kini  sudah berusia 68 tahun.

Saya hafal dan sangat suka dengan kalimat pembuka yang selalu diucapkan diawal acara oleh Mas Koes. "Satu minggu sudah kita berpisah, satu minggu pula usia kita bertambah".

Seandainya saja acara ini selalu tayang setiap minggu sejak pertama kali dulu tahun 1988 hingga 2013 sekarang, maka kalimat pembuka tadi akan sudah diucapkan sebanyak 1.300 kali. Sama banyaknya dengan jumlah minggu sepanjang rentang tahun tersebut.

Izinkan saya mengulang kembali kalimat tadi. Satu minggu sudah kita berpisah, satu minggu pula usia kita bertambah. Tapi nampaknya kita tak mau repot dengan menghitung sudah berapa minggu usia kita bertambah. Kita selalu mengukurnya dengan bilangan tahun. Dengan begitu kita jadi mudah mengingatnya.

Kita memang jadi lebih mudah mengingat usia dengan bilangan tahun. Kita jadi lebih mudah mengingat moment-moment penting dalam hidup ini dengan bilangan tahun. Sama halnya ketika saya mengingat tanggal 11 Desember, karena pada tanggal inilah saya pertama kali mendarat di Manado. Tepatnya 11 Desember 2010. Insya Allah, tanggal 11 Desember nanti genap tiga tahun sudah saya membaktikan hidup di kota ini.

Tiga tahun di Manado, sedikit banyaknya saya sudah bisa akrab dengan aksen dan bahasa disini. Orang-orang disini bilang kalau bahasa Manado itu campur-campur. Ada Belandanya, ada Inggrisnya, ada Indonesianya, ada pula asli lokalnya.

Ada satu kata yang artinya sebentar, yang saya tidak tahu kenapa ia disebut demikian. Kata itu adalah rabu-rabu. Saya kadang menyela ketika ada teman yang bilang, tunggu jo rabu-rabu neh Pak Luqman, (tunggu sebentar ya Pak Luqman). Apa, kau bilang rabu-rabu? Rabu-rabu itu dua hari Rabu, itu satu minggu lamanya. Tapi begitulah. Rabu-rabu itu berarti sebentar. Itulah Manado.

Hari Rabu ke hari Rabu berikutnya itu satu minggu lamanya. Jika kita berpisah hari Rabu ini dan bertemu lagi Rabu pekan depan, maka seperti kata Mas Koes, satu minggu pula usia kita bertambah. 

Kita memang jadi lebih mudah mengingat usia dengan bilangan tahun. Walaupun bilangan usia selalu bertambah setiap saat, bahkan jika kita mampu menghitungnya dengan bilangan detik. 

Sore tadi saya menulis di status BBM. Dari Rabu ke Rabu cuma rabu-rabu, begitu sebentarnya seminggu itu ternyata. (*)

Kamis, 07 November 2013

Belum Banyak Yang Bisa Diceritakan

Diakhir pekan kemarin saya berada di Ternate. Inilah kota yang ketika pertama kali ke sana saya mengira terpencil seperti apa keadaannya. Ternyata saya salah duga. Kalau kemajuan suatu kota ditandai oleh adanya pusat perbelanjaan seperti mall, Ternate punya Jatiland Mall yang cukup besar, sehingga jika berada di dalamnya kita akan lupa sedang berada di kota mana. Desain mall dimana-mana memang mirip-mirip.

Kalau kemajuan suatu kota ditandai oleh bandara yang cukup megah, Ternate punya Bandara Sultan Babullah. Bandara yang sekarang merupakan bandara baru. Saya bertanya ke salah satu cleaning service disana, katanya baru satu bulan dioperasikan. Pekan kemarin adalah kali keempat saya ke Ternate. Terakhir kali saya datang pada penghujung Agustus tiga bulan lalu. Saat itu Bandara Sultan Babullah masih tampak seperti terminal bus. Ruang tunggu penumpang begitu sempit dan sesak. Panas dan gerah hampir tak tertahankan. Tapi ketika kemarin mendarat di bandara yang baru, saya sempat kaget. Ruang tunggu penumpang sangat sejuk dan adem. Lukisan-lukisan indah banyak terpajang di dinding-dindingnya.

Saat ini di Ternate juga sedang booming perdagangan batu bacan. Batu bacan ini adalah batu warna-warni yang dijadikan mata cincin atau mata kalung. Batu ini naik pamornya sejak Presiden SBY menjadikannya cinderamata yang diberikan kepada Presiden Obama. Harga batu ini bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung jenis dan bentuk ukirannya.

Tapi saya tidak ingin bercerita panjang lebar tentang bagaimana Kota Ternate itu.

Saya hanya gembira saja ketika mendapat tugas berdinas ke daerah lain. Saya jadi bisa sambil menyelam minum air, sambil berdinas sambil bertemu kawan-kawan lama.

Tapi kalau urusan dinas-dinas ke daerah, saya punya seorang teman. Teman ketika kuliah dulu. Ia adalah staf di salah satu kementerian di Jakarta sana. Saya salut dengan teman yang satu ini. Ia memang sering mendapat tugas kunjungan ke daerah-daerah. Hanya saja ia selalu mengajukan agar daerah yang akan dikunjunginya adalah daerah yang ada kawan lama disana. Dan tempat paling jauh di timur Indonesia yang sudah dia kunjungi adalah Manado. Ya, di Manado sini ada si Luqman, pikirnya.

Mendapat kunjungan seperti ini saya pun senang. Kami bisa bercerita kembali ke belakang bertahun-tahun lalu. Bercerita tentang ide-ide besar yang saat itu masih belum berwujud. Hidup ini memang dinamis. Selalu menampakkan perubahan-perubahan. Bertemu kawan lama dan bercerita tentang masa dulu, kita jadi tahu bahwa sebagian mimpi-mimpi dulu, kini telah menjadi nyata.

Tapi saya juga tidak ingin bercerita panjang lebar tentang kawan lama saya yang kerja di Jakarta itu.

Ketika di Ternate kemarin saya menghubungi salah satu kawan kuliah dulu yang telah menetap beberapa tahun disana. Sambil menikmati pemandangan sore pantai Ternate, kami saling bertukar cerita. Kami membahas kemungkinan untuk mengadakan reuni dengan teman-teman yang sepertinya sudah terpencar-pencar dari Sabang sampai Merauke. Sesekali juga kami menyinggung sedikit soal pekerjaan. Oleh teman ini saya ditraktir segelas kopi.

Sampai disini dululah. Saat ini belum banyak yang bisa diceritakan. Mungkin besok atau dilain hari.

* * *

Rabu, 06 November 2013

Catatan Sebelum Pulang Kantor

Catatan ini saya tulis sebelum pulang kantor. Pas semua file di laptop sudah saya save, sudah saya close. Sebenarnya jam pulang kantor sudah dari sore tadi. Barangkali biar dibilang karyawan teladan, makanya hingga lepas maghrib saya masih saja di kantor. Padahal kalau mau dituruti, pekerjaan disini tidak akan pernah ada habisnya seberapa larut pun kita berdiam di kantor.

Bukan memang, bukan supaya mau dibilang sebagai karyawan teladan. Salah betul kalau mengira kami berdiam di kantor hingga malam menjelang adalah untuk menyelesaiakan pekerjaan. Obrolan sore dengan teman-teman palingan yang dibahas adalah soal pertandingan liga champion nanti subuh. Siapa yang bakal menang. Siapa yang tersingkir. Kenapa klub ini sekarang mainnya jelek. Dan banyak lagi obrolan ringan lainnya.

Catatan ini saya tulis sebelum pulang kantor. Makanya ketika ada yang menemukan catatan ini, saya barangkali sudah pulang, sudah tiba di rumah, atau barangkali sudah terlelap tidur. Atau barangkali saya sudah ngantor lagi pada keesokan harinya.

Kalau begitu, marilah kita pulang. Marilah pulang.

* * *

Rabu, 23 Oktober 2013

Artikanlah Saja Sendiri!

Tulisan berikut saya kutip dari beranda facebook seorang teman.
"Engkau yang terus tumbuh berpikirlah tentang rubuh. Engkau yang terus terbang berpikirlah tentang hinggap. Engkau yang terus menyelam berpikirlah tentang rembulan." 

* * *




Kamis, 17 Oktober 2013

Hukum Kekekalan Bahagia

Ketika kuliah dulu saya pernah bergabung dengan sebuah organisasi kemahasiswaan. Agar diterima bergabung kami mesti melalui begadang bermalam-malam. Begadang menerima materi pelatihan dasar atau istilahnya basic training. Dimulai selepas Isya dan berakhir menjelang Subuh. Begitu terus hingga beberapa malam. Bisa seminggu barangkali. Tapi memang waktu itu masih fresh-freshnya saya sebagai mahasiswa. Kalau tidak salah ingat sekitar semester 3. Sehingga urusan gadang-begadang masih jagonyalah.

Teman-teman seangkatan saya beberapa orang telah lebih dulu bergabung. Atas bujuk rayu mereka, maka saya pun tertarik untuk mengikuti pelatihan dasar itu. Apalagi kata mereka, pelatihannya tidak dipungut biaya sepeser pun. Malah makan, minum, dan snacknya ditanggung oleh panitia. Wah, bagus juga buat penghematan, pikir saya.

Sejujurnya saya akui, karena mengikuti pelatihan inilah saya jadi suka membaca buku-buku filsafat. Bagaimana tidak, setiap pembicara yang membawakan materi selalu melandaskan teori mereka pada buku "ini" yang ditulis "si ini". Wah, wah, begini toh pengetahuannya orang yang banyak baca. Untuk kampanye gemar membaca, sepertinya mereka berhasil mempengaruhi pikiran mahasiswa baru yang bernama Luqman ini.

Memang asyik juga begadang bermalam-malam dengan dijejali teori-teori filsafat, apalagi selalu terbuka ruang untuk berdiskusi juga berdebat. Sejak itu saya juga jadi suka mengikuti forum-forum diskusi mahasiswa, baik yang formal maupun diskusi-diskusi lepas di kantin kampus.

Dimalam pelatihan itu, kami tiba pada sebuah diskusi tentang Tuhan. Akhh, lihatlah kami makhluk yang terbatas ini mencoba mendiskusikan Engkau yang serba tak terbatas.

"Kita percaya dan yakin bahwa Tuhan itu Maha Kuasa."
"Iya, sepakat!"
"Kalau begitu, bisakah Tuhan menciptakan batu yang tidak bisa diangkatNya?"

Pertanyaan macam mana pula itu, hei. Perdebatan bermunculan. Diskusi pun menjurus panas. Malam yang dingin tak terasa sudah. Pertanyaan itu harus mendapatkan jawaban. Tidak cukup sekedar jawaban. Jangan sampai mempengaruhi tingkat kewarasan kami yang mahasiswa baru ini.

Oke, mari kita tinggalkan pertanyaan yang di atas. Ini masih tentang materi diskusi di pelatihan itu. Bahasannya masih tentang Tuhan. 
"Siapakah Tuhan itu?" 
"Tuhan itu adalah Dia Yang Maha Awal". 
"Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan".
"Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya".
"Dia tidak diciptakan, Dialah Yang Maha Pencipta".

Berbagai jawaban bermunculan. Karena sebagian besar kami yang ikut adalah mahasiswa MIPA, tiba-tiba datang lagi sebuah pertanyaan yang menyentak.

"Kalau begitu, Energi adalah Tuhan. Bukankah Hukum Kekekalan Energi menyebutkan bahwa Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan?"

* * *

Sudahlah. Tulisan yang tidak beraturan diatas sebenarnya dipicu oleh ingatan saya pada Hukum Kekekalan Energi itu. Tadi selepas shalat Maghrib saya merenung. Sebenarnya kebahagiaan seperti apa yang kita cari. Bahkan kita selalu meminta kebahagiaan tadi melalui doa rabbana atina itu. Kita mengulang-ulang doa itu setiap hari. Tapi apakah kita menjadi bahagia.

Saya lalu berpikir apakah Hukum Kebahagiaan sama dengan Hukum Kekalan Energi itu. Bahwa bahagia tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Bahwa bahagia itu hanya dapat diubah dari bahagia yang satu ke bentuk bahagia yang lain.

Ngomong-ngomong tentang bahagia, barangkali ada baiknya kita mencoba mencicipi oleh-oleh khas daerah Gorontalo sana, namanya Pia Bahagia. Makan sebiji kita bisa langsung kenyang. Kenapa ia dinamai Pia Bahagia, mungkin seperti kata teman saya: bahagia itu sederhana, makan lalu kenyang.

Tapi saya tetap percaya bahwa sambil kita selalu berdoa rabbana atina, bahagia itu juga punya hukum kekekalannya sendiri. Ia bisa berupa mendengar suara riang ibu kita diujung telepon sana. Ia bisa berupa menyingkirkan kerikil kecil di tengah jalan. Ia bisa berupa menemukan secangkir teh hangat di pagi yang dingin. Ia bisa berupa apa saja. Seperti kata para bijak: bahagia itu bukan dimana-mana, bahagia itu ada dimana-mana.

* * *