Selasa, 12 November 2013

Bertemu Keheningan

Ada banyak hari yang membahagiakan. Salah satunya adalah ketika kita berhasil melewati sebuah hari yang sangat sibuk.

Sejak bangun pagi, di kepala kita sudah dipenuhi dengan daftar list pekerjaan kantor yang masih harus diselesaikan. Setiba di kantor, belum pula pekerjaan itu kita kerjakan datang lagi pekerjaan berikutnya yang minta untuk diprioritaskan. Okelah kalau pekerjaan itu on the table saja. Tapi kadang-kadang di tengah pekerjaan on the table yang mendesak itu ada pula interupsi-interupsi pekerjaan on the field yang juga membutuhkan prioritas. Maka kita namakanlah hari itu sebagai Hari Sibuk Tingkat Internasional.

Hari ini saya mengalami hari seperti itu. Hari Sibuk Tingkat Internasional sekaligus Hari yang Membahagiakan.

Kalau siang tadi waktu berlari begitu cepat, maka malam ini waktu sepertinya berjalan begitu tenang. Sangat tenang, sampai-sampai saya bisa mendengar dengan jelas setiap tarikan dan hembusan napas sendiri.

Saya jadi ingat kata-kata yang dikutip seorang teman, yang katanya ia kutip juga. "Sesuatu yang tidak membuatmu mati akan menjadikannmu kuat."

* * *



Jumat, 08 November 2013

Para Pencari Uang

Ini jalan menuju pulang
Diujung hari bertemu petang

Ini jalan menuju pulang
Semakin larut semakin lengang

Ini jalan menuju pulang
Adzan dan fajar berkumandang lantang

Inikah jalan menuju Pulang


* * * 

Kamis, 07 November 2013

Belum Banyak Yang Bisa Diceritakan

Diakhir pekan kemarin saya berada di Ternate. Inilah kota yang ketika pertama kali ke sana saya mengira terpencil seperti apa keadaannya. Ternyata saya salah duga. Kalau kemajuan suatu kota ditandai oleh adanya pusat perbelanjaan seperti mall, Ternate punya Jatiland Mall yang cukup besar, sehingga jika berada di dalamnya kita akan lupa sedang berada di kota mana. Desain mall dimana-mana memang mirip-mirip.

Kalau kemajuan suatu kota ditandai oleh bandara yang cukup megah, Ternate punya Bandara Sultan Babullah. Bandara yang sekarang merupakan bandara baru. Saya bertanya ke salah satu cleaning service disana, katanya baru satu bulan dioperasikan. Pekan kemarin adalah kali keempat saya ke Ternate. Terakhir kali saya datang pada penghujung Agustus tiga bulan lalu. Saat itu Bandara Sultan Babullah masih tampak seperti terminal bus. Ruang tunggu penumpang begitu sempit dan sesak. Panas dan gerah hampir tak tertahankan. Tapi ketika kemarin mendarat di bandara yang baru, saya sempat kaget. Ruang tunggu penumpang sangat sejuk dan adem. Lukisan-lukisan indah banyak terpajang di dinding-dindingnya.

Saat ini di Ternate juga sedang booming perdagangan batu bacan. Batu bacan ini adalah batu warna-warni yang dijadikan mata cincin atau mata kalung. Batu ini naik pamornya sejak Presiden SBY menjadikannya cinderamata yang diberikan kepada Presiden Obama. Harga batu ini bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung jenis dan bentuk ukirannya.

Tapi saya tidak ingin bercerita panjang lebar tentang bagaimana Kota Ternate itu.

Saya hanya gembira saja ketika mendapat tugas berdinas ke daerah lain. Saya jadi bisa sambil menyelam minum air, sambil berdinas sambil bertemu kawan-kawan lama.

Tapi kalau urusan dinas-dinas ke daerah, saya punya seorang teman. Teman ketika kuliah dulu. Ia adalah staf di salah satu kementerian di Jakarta sana. Saya salut dengan teman yang satu ini. Ia memang sering mendapat tugas kunjungan ke daerah-daerah. Hanya saja ia selalu mengajukan agar daerah yang akan dikunjunginya adalah daerah yang ada kawan lama disana. Dan tempat paling jauh di timur Indonesia yang sudah dia kunjungi adalah Manado. Ya, di Manado sini ada si Luqman, pikirnya.

Mendapat kunjungan seperti ini saya pun senang. Kami bisa bercerita kembali ke belakang bertahun-tahun lalu. Bercerita tentang ide-ide besar yang saat itu masih belum berwujud. Hidup ini memang dinamis. Selalu menampakkan perubahan-perubahan. Bertemu kawan lama dan bercerita tentang masa dulu, kita jadi tahu bahwa sebagian mimpi-mimpi dulu, kini telah menjadi nyata.

Tapi saya juga tidak ingin bercerita panjang lebar tentang kawan lama saya yang kerja di Jakarta itu.

Ketika di Ternate kemarin saya menghubungi salah satu kawan kuliah dulu yang telah menetap beberapa tahun disana. Sambil menikmati pemandangan sore pantai Ternate, kami saling bertukar cerita. Kami membahas kemungkinan untuk mengadakan reuni dengan teman-teman yang sepertinya sudah terpencar-pencar dari Sabang sampai Merauke. Sesekali juga kami menyinggung sedikit soal pekerjaan. Oleh teman ini saya ditraktir segelas kopi.

Sampai disini dululah. Saat ini belum banyak yang bisa diceritakan. Mungkin besok atau dilain hari.

* * *

Rabu, 06 November 2013

Catatan Sebelum Pulang Kantor

Catatan ini saya tulis sebelum pulang kantor. Pas semua file di laptop sudah saya save, sudah saya close. Sebenarnya jam pulang kantor sudah dari sore tadi. Barangkali biar dibilang karyawan teladan, makanya hingga lepas maghrib saya masih saja di kantor. Padahal kalau mau dituruti, pekerjaan disini tidak akan pernah ada habisnya seberapa larut pun kita berdiam di kantor.

Bukan memang, bukan supaya mau dibilang sebagai karyawan teladan. Salah betul kalau mengira kami berdiam di kantor hingga malam menjelang adalah untuk menyelesaiakan pekerjaan. Obrolan sore dengan teman-teman palingan yang dibahas adalah soal pertandingan liga champion nanti subuh. Siapa yang bakal menang. Siapa yang tersingkir. Kenapa klub ini sekarang mainnya jelek. Dan banyak lagi obrolan ringan lainnya.

Catatan ini saya tulis sebelum pulang kantor. Makanya ketika ada yang menemukan catatan ini, saya barangkali sudah pulang, sudah tiba di rumah, atau barangkali sudah terlelap tidur. Atau barangkali saya sudah ngantor lagi pada keesokan harinya.

Kalau begitu, marilah kita pulang. Marilah pulang.

* * *

Selasa, 29 Oktober 2013

Sakit Perut

Tidak gampang untuk mengamalkan nasehat bahwa sepertiga bagian perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk udara. Memang tidak gampang, apalagi jika segala ongkos prosesi mengisi perut tersebut tidak dibebankan pada isi dompetmu. 

Begitulah kira-kira. Semalam saya ditraktir seorang teman. Ia katanya kebetulan lewat di depan kantor saya. Singgahlah ia. Diajaknyalah saya untuk pergi makan. 

"Tunggulah sedikit lagi, masih ada beberapa file di komputer yang harus saya bereskan. Maghrib sepertinya juga sedang menjelang", begitu pesan saya kepada teman ini.

Sebenarnya makanan yang kami makan tadi malam itu biasa-biasa saja. Menu ikan bakar. Makanan nasional yang gampang sekali ditemui di seluruh tanah air kita ini, tak terkecuali di Manado tempatku bermukim sejak tiga tahun lalu. Hanya saja barangkali yang membedakan menu ikan bakar di daerah satu dengan di daerah lain yakni terletak pada bumbu dan sambal yang menemani ikan bakar tadi. Apalah jadinya ikan bakar tanpa sambal yang menendang.

Saya memang sejak dulu hobi makan dengan sambal. Bahkan sejak sambal itu masih dalam bentuk lombok biji. Barangkali disitulah akar persoalannya. Semalam itu menu ikan bakar kami dipadu dengan irisan tomat mentah ditambah dengan lombok biji yang ditumbuk kasar. orang Manado sini bilang dabu-dabu iris. Pernah dengar kan lagu Pulang Jo yang populer dinyayikan oleh Tantowi Yahya? Baiklah saya kutipkan beberapa lirik di lagu itu. Makan batata ubi kayu, rebus di balanga, colo dabu-dabu kapala ikan, ikan roa.... Pulang jo, pulang jo, biar busu-busu ini kampung sandiri. Nah, cita rasa dabu-dabu itulah yang barangkali akan bisa mengajak orang-orang Manado di perantauan sana untuk selalu pulang.

Hmm, dabu-dabu iris. Semalam saya pasti menyantap terlalu lahap dabu-dabu itu. Saking lahapnya saya jadi menambah lagi sepiring nasi. Lalu akhirnya lupalah saya pada nasehat sepertiga perut tadi.

(Beberapa menit setelah menuliskan catatan ini, saya menemukan diri saya sedang nongkrong di dalam toilet kantor sambil memikirkan hari esok dan entah apalagi, sesekali diselingi bunyi "plung" di dasar kloset)

* * *