Sabtu, 10 Juli 2010

Utak-atik blog

Ada saja yang ingin saya tambahkan setiap kali membuka blog ini. Malam ini, setelah berselancar ke beberapa blog, saya menemukan banner angingmammiri.org. Situs ini merupakan website komunitas blogger Makassar.

Cara menampilkan banner ini pada blog milik kita sangat mudah. Banner ini dapat kita temukan di halaman depan http://angingmammiri.org/. Di bawah banner ini terdapat javascript yang nantinya akan kita copy untuk ditambahkan pada gadget blog kita. Nah, javascript itu seperti ini ...


Sebelumnya, sudah tahu kan, cara menambahkan gadget javascript di halaman blog kita? Jika belum, saya akan beritahu caranya. Silahkan duduk yang manis hehe..

Pada dasboard blog pilih menu Rancangan, setelah kita masuk ke menu ini, pilih Tambah Gadget. Setelah itu pilih gadget HTML/JavaScript. Kemudian paste-lah javascript tadi pada kolom konten yang sudah disediakan. Setelah itu Simpan. Lalu lihatlah blog kita, maka akan nampak tampilan banner seperti di bawah ini ...


Sampai disini, bagaimana? Sudah dicoba? Mudah, kan?

Malam ini saya juga baru menambahkan banner berikut ...

Cara menambahkannya juga sama seperti banner angingmammiri di atas. Untuk mendapatkan javascript-nya silahkan berkujung ke http://www.ayongeblog.com/.

Oh, iya, jika blog kita bukan menggunakan blogger.com, saya kira caranya kurang lebih sama. Silahkan utak-atik blog Anda, dan temukan letak gadget/widget untuk menempatkan javascript tadi.

Okelah kalau begitu, cess. Selamat mencoba ya.. :) Semoga bermanfaat.
Teruslah menulis.

Kamis, 08 Juli 2010

Sepak bola bukan matematika

Karena tertidur saya tidak sempat menonton pertandingan semi final piala dunia subuh tadi antara Spanyol dan Jerman. Setelah membuka-buka situs di internet saya menemukan foto tim Matador Spanyol yang ternyata hampir mirip dengan foto skuad tim saya sewaktu masih mahasiswa.

Sepakbola bukan matematika. Pemenangnya tidak ditentukan oleh hitung-hitungan di atas kertas. Seandainya kita dapat menghitung dengan rumus matematika, maka kita tidak perlu berdebat tentang siapakah yang akan menang pada pertandingan antara Spanyol dan Jerman subuh tadi (pada pertandingan ini Spanyol menang 1-0). Kita hanya bisa memprediksi. Namun siapa yang menang hanya akan ditentukan di atas lapangan hijau.

Walaupun sepakbola bukan matematika, tetapi saya yang sewaktu kuliah mengambil jurusan matematika sangat senang bermain bola. Waktu itu saya ditempatkan pada posisi pemain belakang, memakai kostum nomor 6. Tugas saya adalah menjegal pemain penyerang lawan yang memasuki daerah pertahanan kami. Tugas yang tidak ringan namun tentunya dapat merefresh otak setelah dijejali oleh bermacam-macam rumus matematika.

Di bawah ini adalah foto saya ketika bermain pada Kesebelasan Mahasiswa Matematika Universitas Hasanuddin. Ngomong-ngomong, kalau diadu, tim mana ya.. yang akan menang? Tim Spanyol yang di atas tadi atau tim yang di bawah ini... hehehe.




Sumber
foto atas: fifa.com
foto bawah: koleksi sendiri

Gelisah dan Bang Adi

Seharusnya sore seperti ini adalah waktu yang tepat untuk menenangkan diri. Namun ragaku boleh tenang, tetapi pikiranku tidak. Pikiranku kini gelisah. Setiap kali kegelisahan datang saya selalu teringat kepada teman ini, Bang Adi kami memanggilnya.Waktu itu kami masih mahasiswa. Setiap kami merasa gelisah, Bang Adi ini punya satu pembenaran agar kami tidak resah dengan kegelisahan kami. Menurutnya adalah wajar jika anak muda gelisah. Karena gelisah adalah tabiatnya anak muda. Menyadari ini, maka kami kemudian bergembira terhadap kegelisahan-kegelisahan yang menyinggahi diri muda kami.

Namun kini setelah menghitung-hitung jumlah kegelisahan saya, kegelisahan itu selalu berujung pada dunia. Bagaimana Bang Adi? Apakah dunia memang menggelisahkan?

* * *

Sumber foto: koleksi Bang Adi

Selasa, 06 Juli 2010

Hormati gurumu, sayangi temanmu

@ Warnet Arafah Sungguminasa

Anak-anak sekolah masih liburan. Biasanya jam segini anak-anak yang bersekolah di SMP tepat di depan warnet ini sudah nongkrong mengisi bilik-bilik warnet yang kosong. Tak pernah sebilik seorang. Selalunya berdua, bertiga bahkan hingga berlima. Sudah itu ributnya bukan main. Jika ada yang tak kebagian bilik mereka menunggu. Menunggu dengan tidak tenang sambil mengganggu dan mendesak teman-teman mereka yang lagi nge-net untuk segera berhenti.

Anak-anak itu masuk sekolah siang. Tempat nongkrong mereka sebelum masuk kelas adalah di warnet ini. Tempat bolos belajar juga di warnet ini. Hal ini sudah diketahui oleh guru mereka. Karena itu lima menit sebelum jam masuk kelas, seorang guru mereka selalu bergerilya mencari dan mengarahkan anak-anak itu untuk masuk kelas. Tempat gerilya yang pertama tentu saja ke warnet ini. Jika ada anak yang berniat bolos pada jam itu dan kedapatan oleh guru ini maka saya akan menyaksikan kepanikan yang luar biasa dari anak-anak tadi.

Ah, mengingatkan saya pada masa-masa sekolah dulu.

* * *

Senin, 05 Juli 2010

Membiasakan pulang

@ Warnet Arafah Sungguminasa

Sebenarnya saya tak tega "mengusir" anak-anak itu. Tetapi waktu telah dini hari. Kita sudah harus beristirahat. Saya, anak-anak itu, dan juga komputer-komputer di ruangan warnet ini. Saya bilang ke anak-anak itu: "kembalilah besok hari!"

Awalnya warnet ini buka dari pagi hingga pagi lagi, namun setelah mempelajari kebiasaan pelanggan di area ini yang rata-rata mengakses internet hanya sampai jam 12 malam, maka kami memutuskan untuk menutup warnet tepat jam 2 dini hari. Apalagi sekarang tarif listrik naik. Dengan menutup warnet lebih cepat dari biasanya, maka akan menghemat pemakaian listrik untuk komputer dan pendingin ruangan. Pola tidur kami juga akan lebih teratur dan dengan demikian kondisi stamina tubuh juga akan tetap terjaga. Begitulah harapan kami sehingga mulai bulan Juli ini kami menutup warnet lebih awal.

Kembali ke anak-anak tadi, soal "pengusiran" yang saya lakukan, saya lalu mencari sebuah pembenaran/rasionalisasi terhadap perlakuan saya kepada mereka. Bahwa anak-anak muda seperti saya dan juga mereka memang harus dibiasakan untuk selalu pulang ke rumah, lebih-lebih ketika malam hari. Disitulah fungsi rumah menurut saya. Rumah harus menjadi tempat kita berpulang. Seberapapun jauh kita menjelajah, rumah haruslah menjadi tempat kita kembali untuk menghimpun tenaga, pemikiran dan segala kebutuhan penjelajahan kita di bumi ini besok hari.

Tidak mudah memang untuk kembali ke rumah apalagi jika keindahan di luar rumah begitu menggoda. Itulah barangkali, kepada setiap kerabat yang baru saja melangsungkan hubungan pernikahan kita selalu mendoakan agar mereka menjadi keluarga yang sakinah, mawahdah warahmah. Ya, semoga limpahan kasih sayang Allah selalu tercurahkan kepada keluarga tersebut. Semoga dengan kasih sayang inilah yang akan membentengi kita dari godaan-godaan di luar rumah.

Saya dan juga anak-anak tadi saat ini barangkali tidak sedang membangun sebuah rumah tangga. Namun kebiasaan pulang ini, menurut saya, harus telah membiasa sejak masih muda. Sebab, di rumahlah kita bisa bertemu dengan diri sendiri secara lebih khusyu. Sehingga menciptakan sebuah rumah yang layak sebagai tempat pulang adalah wajib bagi setiap kita.

Maka dengan pembenaran yang saya tulis ini, semoga besok hari ketika anak-anak itu belum juga mau pulang saat malam telah larut, maka saya tidak perlu lagi untuk tak tega mengusir mereka.

* * *