Ini hanya intermezo saja. Mudah-mudahan
catatan ini tidak akan panjang. Kalaupun nanti menjadi panjang saya akan
tetap melabeli tulisan ini sebagai catatan pendek. Saya
menulis catatan ini karena teringat kawan saya. Namanya Fadillah.
Namun orang-orang lebih sering memanggilnya dengan Bung Fadil.
O
iya, dulu saya hanya tahu kalau di Indonesia ini hanya ada tiga orang
yang dipanggil dengan sebutan Bung di depan namanya. Bung Karno, Bung
Hatta, Bung Tomo. Tapi belakangan ketika saya bertanya kepada seorang
teman tentang sebaiknya saya memanggil ia dengan sebutan apa. Apakah
Pak, Bang, Bro, atau Mas. Teman saya itu bilang panggil saja Bung, biar
kedengarannya selalu muda. Bukan saja kepada teman ini saya memanggil
mereka dengan sebutan Bung, kepada beberapa teman yang lain pun saya sering memanggil demikian. Termasuk kawan saya Bung Fadil tadi.
Saya pernah membaca kalau kata bung itu diambil dari kata rebung yang berarti anak-anak bambu. Panggilan Bung ini diberikan kepada pejuang-pejuang kemerdekaan yang waktu itu bersenjatakan bambu runcing.
Kita kembali ke kawan saya yang
bernama Bung Fadil itu. Sejak meninggalkan kampus, saya jadi jarang
bertemu dengan kawan yang satu ini. Biasanya komunikasi kami lakukan
melalui chat box di fb. Melalui chating-chating ini saya bisa tahu sedikit banyaknya kabar-kabar tentang kampus almamater saya dulu.
Melalui media sosial saya selalu
bisa mendapatkan kabar terkini dari teman-teman yang terpisah jauh. Saya
rutin mengikuti kabar teman-teman dari update status di akun media
sosial mereka. Memang sih, ada juga status-status yang tidak jelas yang
hanya untuk seru-seruan saja.
Kawan saya yang Bung Fadil itu sering menulis status: 17 menit yang lalu.
Saya tak tahu apa maksudnya. Setahu saya tentang angka 17 itu
seringkali muncul diawal film yang waktu kecil dulu saya dilarang untuk
menontonnya. 17 tahun keatas.
Belakangan saya tersadar bahwa
tulisan 17 menit yang lalu, yang sering ditulis oleh kawan saya itu,
akan tetap terbaca sebagai 17 menit yang lalu. Kapan pun kita
membacanya. Apakah besok, lusa, bulan depan, ataupun tahun depan.
Begitulah barangkali sifat tulisan itu. Ia akan abadi. Seperti kata
orang-orang bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Hanya penulis
yang tak akan mati.
* * *
Minggu
lalu ketika ke Makassar saya bertemu dengan kawan saya Bung Fadil tadi.
Kami saling menjabat tangan. Dalam jabat tangan itu saya bilang 17 menit yang lalu. Kawan saya itu tersenyum. Mungkin juga malu-malu. Saya tidak sempat menanyakan apa makna 17 menit yang lalu yang sering ia tulis. Jika nanti bertemu lagi saya mungkin akan bilang ini. "Hei Bung Fadil...! Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia bukan pada 17 menit yang lalu, tapi pada 17 Agustus 1945".
Seperti janji saya, tulisan ini hanya intermezo saja. Merdeka !
* * *