Sabtu, 27 November 2010

Sugesti angka 27

Saya punya seorang teman di Purwokerto. Semalam saya membaca statusnya di facebook. Di statusnya itu dia menulis begini: "Serasa tanggal 27, hhhh". Tanpa perlu bertanya kepada teman ini saya bisa langsung tahu kalau ia pasti sedang bergembira. Di statusnya itu ia pasti sedang ingin mengungkapkan perasaan gembiranya karena kemarin (tanggal 26) ia menerima gaji yang seharusnya dibayar tanggal 27. Namun berhubung tanggal 27 jatuh pada hari Sabtu hari ini, hari libur kerja, maka gajinya dibayar sehari lebih cepat. "2,5%-nya bolehlah dikirim ke aku", begitu komentar saya di statusnya itu.

Saya juga mengalami kegembiraan yang sama dengan teman tadi. Kebetulan kami bekerja di satu perusahaan yang sama. Sehingga jika di Purwokerto sana tanggal 27 terasa lebih cepat datangnya, maka di Makassar sini pun demikian.

Nah, kemarin itu, mungkin karena hari gajian atau karena apa, saya merasakan sesuatu yang lain dari hari-hari biasanya. Ini tentang urusan kampung tengah, atau yang dalam bahasa ilmiahnya diistilahkan abdomen (perut). Seperti biasa jika telah lepas waktu Dzuhur, urusan saya dan beberapa teman di kantor pastilah soal mencari makan apa dan makan dimana. Tak terkecuali kemarin. Setelah shalat Jum'at, seorang teman memberikan isyarat untuk mencari tempat makan siang, namun anehnya, lambung di perut saya belum menginstruksikan untuk itu. Lha, ini aneh, pikir saya. Pada jam-jam seperti itu biasanya lambung ini sudah memberikan tanda peringatan untuk segera diisi. Maka, atas isyarat makan siang yang diberikan oleh teman tadi, saya menjawab, "Saya belum lapar, sebentarlah dulu!"

Pada saat itu, di dalam pikiran saya, kalimat inilah yang terlintas: "Sebentar itu mau makan dimana atau mau makan apa tidak usah pusing. Amunisi di dompet sudah terisi, tenang saja". Saya kemudian mengusut kejadian aneh ini. Saya menghubungkannya dengan kalimat yang melintas di pikiran saya pada saat itu. Saya mendiskusikanya dengan teman tadi yang mengajak makan. Kami memaparkan beberapa fakta, menceritakan beberapa kejadian, dan menghubung-hubungkannya dengan beberapa pengalaman yang polanya mirip. Lalu, akhirnya kami menemukan sebuah kesimpulan yang kami sebut sugesti. Untuk kejadian kemarin, kami menyebutnya dengan sugesti rasa aman. Perasaan aman itu mensugesti lambung saya yang kosong untuk merasakan hal yang sama ketika ia telah diisi makanan.

Saya tidak tahu bagaimana pola kerja dari sugesti rasa aman tersebut. Saya hanya bisa mencocok-cocokkan dengan pengalaman-pengalaman saya yang dahulu. Misalnya seperti ini. Saat berkuliah dulu, salah satu moment yang paling saya tunggu-tunggu adalah moment pulang kampung. Kenapa? Karena menurut kami yang mahasiswa rantau, pulang kampung adalah moment berharga untuk melakukan recovery gizi, atau istilah kami adalah masa penggemukan kembali. Untuk mensukseskan program penggemukan kembali ini, maka yang kami lakukan adalah memperbaiki pola makan. Jika biasanya kami makan dua kali atau bahkan tak jarang hanya satu kali sehari, maka dalam program ini bisa rutin menjadi tiga kali sehari. Menu makanannya pun disesuaikan dengan anjuran empat sehat lima sempurna.

Namun, ketika telah berada di kampung halaman dan dengan membawa daftar program penggemukan yang telah disusun dengan rapi, rencana-rencana yang ada dalam program tadi tidak bisa dilaksanakan dengan baik. Misalnya program makan tiga kali sehari dengan menu empat sehat lima sempurna. Program ini praktis tidak berjalan sama sekali. Bukan karena sarana dan prasarananya yang tidak tersedia, tetapi lagi-lagi karena sugesti hadir disana. Sugesti rasa aman, seperti yang saya tuliskan di atas. Jika saatnya makan, tiba-tiba sugesti tadi muncul: "Tenang saja, tak perlu terburu-buru untuk segera makan. Sebentar juga bisa. Lagipula makanan selalu tersedia, tenang saja. Kamu tak akan kelaparan".

Sugesti barangkali bisa menciptakan rasa aman, namun rasa aman juga bisa memanipulasi jika ia tidak didukung oleh realitas yang nyata. Maka, menikmati realitas di tanggal 27 hari ini, biarkanlah saya mengingat pesan Rasulullah SAW tentang 5 perkara sebelum 5 perkara. Muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati.

Dan satu lagi tambahan dari saya, ingat tanggal 27 sebelum tanggal 27 lagi, hehehe.

Minggu, 21 November 2010

After *The North London Derby

Begitu damai. Begitulah yang saya rasakan ketika menuliskan catatan ini. Di luar sana, bunyi suara kodok bersahutan dengan bunyi jangkrik. Di dalam sini, di kamar ini, bunyi detak jam weker kecil terdengar jelas mengabarkan detik demi detik yang dilaluinya. Sesekali desisan cicak membuyarkan konsentrasi pendengaranku ke detak detik jam weker tadi. Sementara jari-jariku menari-nari dalam tempo lambat di atas tuts-tuts laptop.

Sekarang belum waktunya tidur. Ini kan malam minggu. Ada banyak hal yang bisa dilakukan dimalam seperti ini. Tapi tak ada yang bisa memaksa saya untuk beranjak dari kamar ini, kecuali siaran sepak bola. Itu pun kalau teman yang punya televisi di kamarnya dan juga hobi bola, juga belum tidur. Hanya itu syarat yang harus kau penuhi untuk mengajakku beranjak dari kamar ini, kawan.

Namun bila kau tak bersedia memenuhi syarat itu dan memilih untuk tetap berada dikamar ini, kau boleh mengajakku berbincang. Kita bisa bernostalgia soal teman-teman lama kita. Tentang kerja dimana mereka sekarang, berapa anak yang sudah mereka punya, tentang siapa lagi yang akan menyusul menikah. Atau, kau mau bercerita tentang perusahaanmu. Adakah lowongan yang lagi dibuka disana. Siapa teman-teman yang bisa kau ajak bergabung disana. Atau kamu mau mendengar masing-masing kita menertawakan diri sendiri. Saya mau. Kau tahu, sejak saya terbiasa menertawakan diri sendiri, kini saya mulai akrab dengan diriku ini. Satu persatu kekuranganku memunculkan dirinya untuk saya tertawakan, kalau perlu saya ejek. Setelah itu sunyi, hanya sunyi.

*Derby London Utara: Arsenal vs Tottenham Hotspur (2:3)

Sabtu, 13 November 2010

Hari ini ada berita

Ada berita kematian
Pengabar pengingat mati

Ada berita kelahiran
Penyemangat bahwa hidup adalah berjuang

Setiap hari setiap hari


Selasa, 02 November 2010

Cinta Segitiga

Kukira di dunia ini
hanya ada satu kamu

Kusangka hati ini
hanya bisa buat kamu

Senin, 01 November 2010

Pewaris Bumi

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh. (QS. Al-Anbiya’: 105)

Mengharap Keberkahan

"Tanda sesuatu yang kita miliki dianugerahi keberkahan oleh Allah adalah dijadikannya kemanfaatan yang banyak pada sesuatu yang menjadi milik kita itu", begitulah pesan-pesan para alim.

O iya.. alhamdulillah, hari ini saya menerima penghasilan pertama atas kerjaan baru yang saya jalani. Barangkali nominalnya hanya (baru) sedikit. Tetapi pada yang sedikit itu, saya berharap Allah memberikan keberkahan-Nya.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, Kami pasti akan menambah (nikmat) kepadamu," begitulah Allah berfirman.

Senin, 11 Oktober 2010

Ala bisa karena biasa

Tidak sering saya bisa bangun pagi, seperti hari ini. Apalagi selama bertahun-tahun ketika masih mahasiswa, begadang telah menjadi salah satu hal yang boleh dibilang telah menjadi rutinitas. Padahal, Bang Rhoma telah berpesan: "Begadang jangan begadang kalau tiada artinya".
Maka suatu kebiasaan baru yang tidak ringan jika kini saya melatih diri untuk bangun pagi, bahkan lebih pagi lagi. Ala bisa karena biasa. Begitulah pepatah itu.

Kamis, 07 Oktober 2010

Syukur itu...

Hingga hari ini, ada begitu banyak hal yang semestinya saya syukuri. Namun, betapa jarang saya mengingat syukur itu.

Minggu, 03 Oktober 2010

Anak Tangga Kehidupan

Jika mengibaratkan kehidupan seperti anak tangga, maka ketika saya berhenti sejenak lalu menoleh ke bawah ke anak tangga yang telah saya lalui, saya akan mendapatkan begitu banyak orang-orang yang telah merelakan dirinya agar diri ini bisa berada pada anak tangga yang saya pijaki sekarang.

Jika diibaratkan seperti sebuah film, maka orang-orang tadi barangkali ada yang bermain pada peran utama, peran pembantu, pada posisi protagonis ataupun antagonis. Saya barangkali akan mudah untuk menyebutkan siapa-siapa pemeran utama yang ikut bermain dalam film kehidupan yang saya perankan. Namun, untuk menyebutkan mereka-mereka yang bermain sebagai peran pembantu, pastilah akan memakan waktu beberapa lama. Selain karena pemeran pembantu ini begitu banyak jumlahnya, juga karena kemunculan mereka yang barangkali hanya beberapa detik saja pada layar.

Jika membayangkan diri saya sebagai seorang jagoan dalam film, maka mereka-mereka yang ada diperan pembantu tadi boleh jadi hanyalah pemilik kedai kopi yang saya singgahi berteduh, supir taksi yang saya tumpangi, orang-orang di ruang tunggu rumah sakit, atau penjaga toko dimana saya membeli kacamata hitam. Pokoknya, mereka-mereka itu adalah orang-orang yang tidak akan diceritakan ulang setelah kita menonton sebuah film. Namun pun demikian, mereka-mereka itulah yang membuat adegan saya dari satu setting cerita ke setting cerita berikutnya menjadi menarik dan enak untuk ditonton.

Saya terkadang berpikir bahwa orang-orang ini adalah orang-orang yang segaja diutus oleh Tuhan, untuk mensukseskan misi hidup yang saya emban. Mereka diutus sebagai kurir yang membawakan saya sebuah peta. Sebuah petunjuk jalan. Sebuah pengingat. "Misimu harus tuntas, semoga sukses", begitu kata orang-orang tadi kepada saya. Mereka barangkali menuntut kepada Tuhan untuk diberi peran utama dalam misi saya. Namun kesuksesan misi saya barangkali tergantung oleh peran pembantu yang mereka mainkan. Dan akhirnya mereka pun rela. Kepada mereka-mereka diperan pembantu inilah biasanya saya lupa berterimakasih.

Rabu, 29 September 2010

Diam

Telah beberapa hari saya lebih banyak diam. Tak banyak bicara. Saya hampir tak pernah kemana-mana. Sesekali saja, kadang pagi atau sore, saya pergi ke kios kecil di sebelah kontrakan saya. Jaraknya hanya beberapa meter saja. Selalu tidak banyak yang hendak saya beli. Paling-paling cuma sabun mandi, pasta gigi, dan sampo. Atau mie dan kopi instan.

Sore tadi saya ke kios kecil itu lagi. Lampu di kamar saya tiba-tiba saja mati, tak menyala lagi. Saya mendapatkan bola lampu yang baru di kios itu. Kini, anak bungsu si pemilik kios telah berumur 2 tahun. Ia kini sudah pandai bicara. Meskipun belum jelas apa yang dibicarakannya. Benda apapun yang dipegangnya selalu diajaknya berbicara.

Hari ini saya masih lebih banyak diam. Dibeberapa hari ini, setiap kali ke kios kecil itu dan menyebutkan nama-nama benda yang hendak saya beli, setiap kali itu juga saya selalu mendengar suara asing. Nadanya berat dan serak. Sumbernya tak berjarak dengan diri saya. Bahkan dengan urat leher saya sekalipun. O, bukan, suara itu bukan suara siapa-siapa. Suara itu suara saya sendiri.

Beberapa hari ini tenggorokan saya memang terasa gatal, sangat gatal. Karenanya saya terpaksa tak banyak berbicara. Kata-kata yang selalu terdengar hanyalah: uhuk, uhuk, uhuk. Jika melihat dengan kacamata medik, maka pastilah ada virus atau bakteri yang sedang menyerang teggorokanku itu. Jika melihat fenomena cuaca yang tak menentu, maka barangkali diakibatkan oleh fenomena cuaca tadi.

Namun, apa pun penyebab uhuk-uhuk tadi, terpaksa saya memang harus diam. Saya mungkin disuruh tak banyak bicara dulu buat beberapa saat. Buat menyadari diri dari kata-kata yang telah saya perdengarkan selama ini. Adakah kata-kata itu bermanfaat atau tidak.

Minggu, 12 September 2010

Perjalanan dari malam ke malam

Saat ini saya sedang berada di tanah kelahiranku, Raha. Seperti biasa, sejak merantau ke Makassar 8 tahun lalu, mudik Lebaran telah menjadi agenda khusus. Tiga tahun terakhir ini, alhamdulillah saya bisa merutinkannya setahun sekali.

Dengan menumpang kapal laut, perjalanan ke kotaku ini akan menempuh waktu kurang lebih 15 jam. Namun pada kepulangan kali ini, saya menumpang kapal yang lajunya sedikit lebih lambat. Dengan menempuh waktu 27 jam akhirnya pada pukul 12 malam pada dua hari sebelum lebaran saya berlabuh di pelabuhan Raha. Saya menyebut mudik kali ini sebagai perjalanan dari malam ke malam.

Melalui pengeras suara dari kantor pelabuhan, kami disambut alunan lagu dari sebuah radio tape. Lagu itu dinyanyikan oleh suara serak seorang perempuan muda. Mungkin banyak yang tidak peduli. Tetapi barangkali ada juga yang tersentuh disinggung lagu itu.

Mesin kapal telah dimatikan. Perlahan kami merapat ke dermaga. Tali kapal dilemparkan untuk kemudian ditangkap oleh beberapa orang yang telah menunggu di dermaga. Tangga kapal belum juga diturunkan. Satu persatu penumpang mendekati pintu tangga, berdesakan dan mencoba untuk mengantri. Namun tampak dari wajah-wajah itu bahwa perasaan hampir tak bisa lagi diajak bersabar. Dermaga telah disesaki oleh para penjemput. Jumlahnya mungkin tiga kali lebih banyak dari penumpang yang akan turun. Teriakan mulai terdengar bersahut-sahutan. Dari atas kapal. Juga dari dermaga. Jika si penumpang melihat sosok penjemputnya berdiri di dermaga, maka ia akan meneriakinya. Jika si penjemput melihat sosok yang akan dijemputnya berdiri di dek kapal, maka ia akan meneriakinya. Begitulah biasanya. Begitulah adanya hingga tangga kapal diturunkan.
 
Saya pun mengambil posisi diantara penumpang yang akan turun. Turut terdesak, turut berdesakan. Lagu tadi masih tetap mengalun. Suara serak perempuan tadi masih tetap menyanyikan bait-bait di lagu itu.

Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berganti
Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura
Mengapa kita bersandiwara
.......

Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Selasa, 10 Agustus 2010

Horeee.. Ramadhan lagi !

Sore ini saya mendapatkan sms dari beberapa teman. Intinya mereka ingin mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa. Di sms itu, mereka tak lupa memohon maaf kepada saya atas khilaf dan salah mereka selama ini.

Satu diantara beberapa sms itu bunyinya seperti ini:
"Marhaban yaa Ramadhan, mohon maafkan kesalahan temanmu yang gagah ini, ya.."

Saya tersenyum membaca sms dari teman ini, lalu saya membalasnya:
"Sesama orang gagah memang harus selalu saling memaafkan."

Selamat menunaikan Ibadah Puasa

Writer's Block

Seorang teman bilang kalau dirinya lebih suka menulis langsung ke komputer. Jika tiba-tiba ada ide yang muncul, ia akan segera menyalakan komputer dan mulai menulis. Dengan mengetikkannya langsung ke komputer, katanya, ia bisa dengan mudah memindahkan kalimat yang tidak pada tempatnya ke tempat kalimat itu seharusnya berada. Begitupun dengan paragraf yang salah tempat.

Kelebihan lain menulis langsung ke komputer adalah kita bisa melihat pratinjau atau penampakan tulisan kita jika nantinya diprint out. Berapa jumlah katanya, ataupun berapa jumlah halamannya. Dengan menggunakan cara ini kita pun akan mudah mengakses tulisan tersebut jika sewaktu-waktu kita hendak mempublikasikannya.

Belakangan saya mulai mengikuti cara teman ini. Awalnya, sebelum setiap saat bisa mengakses komputer, ide-ide yang mau dituliskan saya tuangkan dalam sebuah buku kecil. Diary, kita sering menyebutnya. Catatan di buku tadi baru saya pindahkan ke komputer jika saya menemukan komputer. Entah di kampus, entah di kost-an teman.

Akhirnya saya akrab dengan cara menulis langsung ke komputer. Pelan-pelan saya melupakan kebiasaan saya menulis di buku diary. Namun, suatu hari ketika ingin mencoba-coba menulis cerpen, saya mengalami kebuntuan (writer's block) jika harus menuliskannya langsung ke komputer. Ide yang saya pikirkan tiba-tiba saja menghilang saat jari-jari hendak menyentuh huruf-huruf di keyboard. Kejadian ini bukan hanya sekali, tetapi terjadi berkali-kali, sehingga menyebabkan saya berhari-hari untuk menemukan kembali ide-ide yang hilang tadi.

Saya berusaha mencari tahu penyebab kejadian ini.

Dalam pencarian itu, saya kembali mencoba menggunakan cara menulis saya yang dulu (menulis dalam buku kecil). Tentang sebuah ide cerpen yang tiba-tiba muncul di suatu pagi, saya menuliskannya dengan cara ini. Kalimat pembuka berhasil saya tuliskan. Kemudian menyusul kalimat berikutnya. Tangan saya terus menulis. Dari yang awalnya beberapa kalimat, tanpa terasa tulisan saya telah menjadi beberapa paragraf. Tangan saya dengan cekatan dapat menangkap setiap lintasan ide yang lewat. Lalu tidak berapa lama kemudian, lahirlah sebuah cerpen saya di pagi itu.

Setelah menyelesaikan menulis cerpen di pagi itu, saya kemudian merenung-renung tentang peristiwa writer's block yang sebelumnya saya alami. Saya kemudian mengambil kesimpulan bahwa kebuntuan tersebut disebabkan karena kecepatan mengalirnya ide di kepala saya tidak diimbangi oleh kecepatan tangan saya dalam menangkap ide itu melalui tuts-tuts keyboard.

Hmm, nampaknya suatu saat ketika mengalami kejadian yang sama, saya mungkin harus menulis ke komputer sambil mengendarai motor dalam kecepatan tinggi agar ide-ide saya bisa terkejar.

Bagaimana dengan Anda ?


Foto: www.infostradasports.com

Sabtu, 07 Agustus 2010

Fiksimini (4)

Tanda Tangan Terakhir


Mulai hari ini aku akan berhenti mengirimkan surat cinta padamu. Kau tahu kan, untuk menjaga keaslian surat-surat itu aku harus selalu membubuhkan tanda tanganku di bagian akhirnya.

Namun hari ini setelah kuperiksa isi lemariku, kurogoh saku celanaku, kubongkar laci mejaku, ternyata tak ada lagi tanda tanganku yang tersisa. Kecuali sebuah di sela-sela fotomu di dompetku, yang hampir saja aku taruh di surat cinta yang baru saja aku tulis. Surat cinta itu akhirnya batal aku kirimkan padamu karena aku teringat bahwa nanti di buku nikah kita masih diperlukan tanda tanganku itu.

* * *

dia belum akan lahir pagi ini

Sedang menantikan kelahiran cerpenku yang akan mengikuti lomba di sini.
Akhirnya setelah begadang dua malam saya kini bisa merasakan kaki dan tangannya bergerak-gerak. Oh, belum, belum... dia belum akan lahir pagi ini.

Selasa, 03 Agustus 2010

Ke Jakarta aku kan kembali

Ceritakan padaku tentang kotamu
Kota yang katanya tak pernah tidur
Kota tua dengan gairah anak muda

Ceritakan apa saja tentang kotamu
Tentang gedung-gedung melangitnya yang mencakar
Tentang jalan-jalannya, tentang orang-orangnya

Ceritakan padaku tentang kotamu
Alamatmu
Tempat aku bisa menemui senyummu

Jumat, 30 Juli 2010

Lomba Menulis Cerpen

Saat aktif di lembaga kemahasiswaan saya mulai gemar menulis catatan-catatan pendek. Catatan-catatan itu saya tulis dan saya tempelkan di tembok-tembok kampus. Tujuannya untuk menyampaikan beberapa pokok pikiran saya yang tidak tersampaikan lewat bahasa lisan. Mula-mula malu-malu, memang.

Saya tidak tahu seberapa besar pengaruh tulisan saya itu terhadap kawan-kawan mahasiswa. Namun, pernah suatu ketika saya mendapati di samping tulisan yang saya tempel itu, tertempel pula sebuah tulisan yang isinya sebagai tanggapan atas tulisan yang saya buat. Lalu ada beberapa teman yang mulai mengikuti cara saya tersebut untuk menyampaikan uneg-uneg mereka. Tak jarang pula, tulisan-tulisan itu menjadi topik diskusi kami saat menongkrongi koridor kampus.

Begitulah awalnya, hingga kemudian saya terus mencoba membiasakan diri dan belajar menulis hingga hari ini.

Namun, untuk melombakan tulisan saya, baru sekali saya melakukannya. Ketika itu pada sebuah Lomba Cerpen yang diadakan oleh Bagian Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin. Tema yang diangkat pada saat itu tentang Kearifan Lokal. Alasan saya mengikuti lomba adalah karena tergiur oleh jumlah hadiah yang disediakan oleh panitia. Motif ekonomi, saya menyebutnya.  

Demi hadiah yang disediakan, dalam semalam saya berhasil menyelesaikan menulis cerpen yang akan saya lombakan. Dan setelah melalui tahapan penjurian akhirnya cerpen saya dinyatakan sebagai juara kedua. Saya dihubungi oleh panitia untuk menghadiri acara penyerahan hadiah. Saya mendapatkan selembar piagam penghargaan dan sebuah amplop. Di amplop itu tertulis nominal Rp. 750.000,-. Rasa tidak percaya dan rasa senang seolah bercampur dalam amplop itu. He..he..he..

Cerpen saya itu bisa dibaca DI SINI.

Saat itu saya sempat bingung, kenapa cerpen saya bisa masuk nominasi dan menjadi juara kedua. Padahal saya tidak mempunyai kiat khusus. Saya hanya menulis. Mengalir begitu saja. Yang ada di kepala saya waktu menulis adalah menang dan meraih salah satu hadiah yang disediakan. Itu saja.

Baru setelah mengikuti lomba tersebut, saya mencari-cari di internet bagaimana Kiat MENJUARAI Lomba Penulisan. Salah satunya saya temukan di situs milik Jonru, founder/pendiri SEKOLAH-MENULIS ONLINE

Untuk lebih jelasnya silahkan baca Kiat Jitu  MENJUARAI Lomba Penulisan.

Setelah membaca kiat tersebut Anda mungkin tertarik mengikuti lomba penulisan cerpen berikut ini. Jika gambarnya kurang jelas, silahkan di-zoom, ya ... :)

Tentang informasi lomba silahkan baca pada indonesiaindonesia.com atau inioke.com

Okelah kalau begitu. Selamat Menulis.


Fiksimini (3)

Pemindahan Ibukota Negara

Setelah menyetujui usulan pemindahan Ibukota Negara, DPR kemudian memanggil semua tukang pikul dari seluruh Indonesia.

Fiksimini (2)

Gol Bunuh Diri

Ia tak habis pikir, kenapa timnya dinyatakan kalah. Padahal, dipertandingan itu ia mencetak tiga gol.

Selasa, 27 Juli 2010

Fiksimini (1)

Patah Hati

Setiap kali sendiri, ia selalu mematahkan hatinya menjadi dua. "Biar hatiku tidak sepi", katanya.

Senin, 26 Juli 2010

Tersesat

Hidup adalah kumpulan sejumlah saat
Suatu saat kita akan merindukan sesaat
kembali ke saat yang telah lewat
biar tepat memilih arah yang tidak sesat

Hidup adalah kumpulan sejumlah salah
Setiap saat kita butuh menyesal



Foto: http://2.bp.blogspot.com

Minggu, 18 Juli 2010

Songkolo Bagadang

Jalanan sangat lengang. Lampu lalu lintas tinggal menyisakan lampu kuning yang berkedap-kedip. Saya sangat menikmati berkendara motor dalam situasi jalan yang seperti ini. Saya tak perlu melambat. Dan saya pun tak ingin melaju. Kecepatan saya konstan. Tidak lambat, tidak cepat. Sekira 40 km per jam. Dalam kecepatan itu  saya bisa memandang hamparan jalan raya yang ditaburi cahaya kuning keemasan oleh lampu-lampu jalan. Pemandangan yang tak akan saya dapati  disiang hari.

Waktu memang telah dini hari. Bukan tanpa sebab saya harus menyusuri jalanan di waktu seperti ini. Ada sesuatu yang mendesak. Sesuatu itu menjadi mendesak karena keengganan saya untuk tidak makan selama seharian. Maka tujuan saya kali ini adalah sebuah warung songkolo bagadang. Sebuah warung yang pernah saya kunjungi sekira 5 tahun lalu. Harapan saya, warung itu masih tetap berada ditempatnya yang dahulu, sehingga usaha saya memenuhi hasrat yang mendesak tadi tidak menjadi sia-sia.

Songkolo bagadang adalah  kuliner khas Makassar. Terbuat dari beras  ketan merah yang dikukus. Biasa dihidangkan bersama ikan teri kering yang digoreng  dan kelapa parut yang disangrai, serta dengan sambal pedas secukupnya. Sederhana sekali. 

Saya  membeli 3 porsi. Seporsinya lima ribu rupiah. Masih hangat. Saya meminta agar dibungkus saja. Jalan pulang semakin lengang. Perut mendesak untuk ngebut. Saya pun sudah tak sabar. Ingin rasanya segera sampai dan menyantap songkolo bagadang tadi.

Ketika saya memposting tulisan ini, songkolo bagadang tadi masih tersisa sebungkus di atas meja. Jika sampai waktunya tiba dan belum juga ada yang mengeksekusinya, maka songkolo yang sebungkus itu akan saya embat juga. Tunggu saja.

Kalau Anda sempat berkunjung ke Makassar, sempatkanlah mencicipi kuliner ini. Tempat saya membeli songkolo bagadang yang saya ceritakan di atas tadi berada di persimpangan jalan Tamalate dan jalan Hertasning, depan kantor PLN. Walaupun disitu ada puluhan warung tenda namun Anda tidak akan sukar menemukannya, sebab warung songkolo bagadang hanya satu-satunya di tempat itu. Karena namanya juga bagadang, maka carilah dimalam hari.

* * *

Rabu, 14 Juli 2010

Apa yang mau saya tulis?

Berjalan-jalan ke Blog Sebelah, saya menemukan kalimat ini:

"Jangan Pikirkan Apa Yang Akan Kamu Tulis, Tapi Tulislah Apa Yang Ada Dalam Pikiranmu”

Bercermin


Jangan selalu melihat jam
Angka-angka di sana selalu diam
Takkan menjawab artinya menua
Memandanglah ke taman di sudut-sudut dada


Foto: motiflection.com

Senin, 12 Juli 2010

Episode Penting

Teman ini bukan seorang yang awam dalam soal tulis-menulis. Juga blog-ngeblog. Mungkin sebab itu, untuk sebuah episode penting dalam hidupnya ia membuat sebuah blog. Dan memulailah ia menuliskan episode penting itu.

Ia mungkin ingin mengatakan.  Ia mungkin ingin memberitahukan. Bahwa dalam jarak yang terpisah oleh jauh, kita masih bisa bersua. Lewat tulisan, lewat menulis. Mengabarkan hidup masing-masing. Hari ini, besok, dan besok..

Lihatlah bagaimana ia memulai menuliskan EPISODE PENTING itu.

* * *

Final Piala Dunia 2010

Teman saya si Fadli yang kerja di warung sari laut di samping rumah, menjagokan Belanda. Katanya, pemain-pemain Belanda punya tendangan yang bagus. Kalau Spanyol mainnya memang cantik, bagi-bagi bolanya mantabs, tapi susah kalau mau nendang ke gawang.

Kita lihat saja mainnya mereka nanti. Sekarang lagi closing ceremony...

Foto: www.adidas-group.com

Sabtu, 10 Juli 2010

Udhu Menikah

Hari ini si Udhu menikah.
Dia teman seangkatan saya di kampus. Dulu, dalam kepanitiaan kampus dia sering kebagian tugas mencari dana. Soal cari-mencari dana ini dia jagonya. Jangan takut soal kepanitiaan kekurangan dana kalau si Udhu ini sudah turun tangan...



Cuman sangat disayangkan, saya tidak sempat hadir... sorry ya, Udhu ...


Semoga Allah senantiasa melimpahkan Kasih Sayang-Nya dalam rumah tanggamu kelak.
Amin ya Rabbal Alamin.

Utak-atik blog

Ada saja yang ingin saya tambahkan setiap kali membuka blog ini. Malam ini, setelah berselancar ke beberapa blog, saya menemukan banner angingmammiri.org. Situs ini merupakan website komunitas blogger Makassar.

Cara menampilkan banner ini pada blog milik kita sangat mudah. Banner ini dapat kita temukan di halaman depan http://angingmammiri.org/. Di bawah banner ini terdapat javascript yang nantinya akan kita copy untuk ditambahkan pada gadget blog kita. Nah, javascript itu seperti ini ...


Sebelumnya, sudah tahu kan, cara menambahkan gadget javascript di halaman blog kita? Jika belum, saya akan beritahu caranya. Silahkan duduk yang manis hehe..

Pada dasboard blog pilih menu Rancangan, setelah kita masuk ke menu ini, pilih Tambah Gadget. Setelah itu pilih gadget HTML/JavaScript. Kemudian paste-lah javascript tadi pada kolom konten yang sudah disediakan. Setelah itu Simpan. Lalu lihatlah blog kita, maka akan nampak tampilan banner seperti di bawah ini ...


Sampai disini, bagaimana? Sudah dicoba? Mudah, kan?

Malam ini saya juga baru menambahkan banner berikut ...

Cara menambahkannya juga sama seperti banner angingmammiri di atas. Untuk mendapatkan javascript-nya silahkan berkujung ke http://www.ayongeblog.com/.

Oh, iya, jika blog kita bukan menggunakan blogger.com, saya kira caranya kurang lebih sama. Silahkan utak-atik blog Anda, dan temukan letak gadget/widget untuk menempatkan javascript tadi.

Okelah kalau begitu, cess. Selamat mencoba ya.. :) Semoga bermanfaat.
Teruslah menulis.

Kamis, 08 Juli 2010

Sepak bola bukan matematika

Karena tertidur saya tidak sempat menonton pertandingan semi final piala dunia subuh tadi antara Spanyol dan Jerman. Setelah membuka-buka situs di internet saya menemukan foto tim Matador Spanyol yang ternyata hampir mirip dengan foto skuad tim saya sewaktu masih mahasiswa.

Sepakbola bukan matematika. Pemenangnya tidak ditentukan oleh hitung-hitungan di atas kertas. Seandainya kita dapat menghitung dengan rumus matematika, maka kita tidak perlu berdebat tentang siapakah yang akan menang pada pertandingan antara Spanyol dan Jerman subuh tadi (pada pertandingan ini Spanyol menang 1-0). Kita hanya bisa memprediksi. Namun siapa yang menang hanya akan ditentukan di atas lapangan hijau.

Walaupun sepakbola bukan matematika, tetapi saya yang sewaktu kuliah mengambil jurusan matematika sangat senang bermain bola. Waktu itu saya ditempatkan pada posisi pemain belakang, memakai kostum nomor 6. Tugas saya adalah menjegal pemain penyerang lawan yang memasuki daerah pertahanan kami. Tugas yang tidak ringan namun tentunya dapat merefresh otak setelah dijejali oleh bermacam-macam rumus matematika.

Di bawah ini adalah foto saya ketika bermain pada Kesebelasan Mahasiswa Matematika Universitas Hasanuddin. Ngomong-ngomong, kalau diadu, tim mana ya.. yang akan menang? Tim Spanyol yang di atas tadi atau tim yang di bawah ini... hehehe.




Sumber
foto atas: fifa.com
foto bawah: koleksi sendiri

Gelisah dan Bang Adi

Seharusnya sore seperti ini adalah waktu yang tepat untuk menenangkan diri. Namun ragaku boleh tenang, tetapi pikiranku tidak. Pikiranku kini gelisah. Setiap kali kegelisahan datang saya selalu teringat kepada teman ini, Bang Adi kami memanggilnya.Waktu itu kami masih mahasiswa. Setiap kami merasa gelisah, Bang Adi ini punya satu pembenaran agar kami tidak resah dengan kegelisahan kami. Menurutnya adalah wajar jika anak muda gelisah. Karena gelisah adalah tabiatnya anak muda. Menyadari ini, maka kami kemudian bergembira terhadap kegelisahan-kegelisahan yang menyinggahi diri muda kami.

Namun kini setelah menghitung-hitung jumlah kegelisahan saya, kegelisahan itu selalu berujung pada dunia. Bagaimana Bang Adi? Apakah dunia memang menggelisahkan?

* * *

Sumber foto: koleksi Bang Adi

Malam akan mengantar rindumu kembali

Malam akan membawa rindumu kemari
Jangan kau takut ia takkan tersesat
Aku hanya ingin bertemu rindumu sesaat
Sebelum malam mengantarnya kembali

* * *

Selasa, 06 Juli 2010

Hormati gurumu, sayangi temanmu

@ Warnet Arafah Sungguminasa

Anak-anak sekolah masih liburan. Biasanya jam segini anak-anak yang bersekolah di SMP tepat di depan warnet ini sudah nongkrong mengisi bilik-bilik warnet yang kosong. Tak pernah sebilik seorang. Selalunya berdua, bertiga bahkan hingga berlima. Sudah itu ributnya bukan main. Jika ada yang tak kebagian bilik mereka menunggu. Menunggu dengan tidak tenang sambil mengganggu dan mendesak teman-teman mereka yang lagi nge-net untuk segera berhenti.

Anak-anak itu masuk sekolah siang. Tempat nongkrong mereka sebelum masuk kelas adalah di warnet ini. Tempat bolos belajar juga di warnet ini. Hal ini sudah diketahui oleh guru mereka. Karena itu lima menit sebelum jam masuk kelas, seorang guru mereka selalu bergerilya mencari dan mengarahkan anak-anak itu untuk masuk kelas. Tempat gerilya yang pertama tentu saja ke warnet ini. Jika ada anak yang berniat bolos pada jam itu dan kedapatan oleh guru ini maka saya akan menyaksikan kepanikan yang luar biasa dari anak-anak tadi.

Ah, mengingatkan saya pada masa-masa sekolah dulu.

* * *

Senin, 05 Juli 2010

Membiasakan pulang

@ Warnet Arafah Sungguminasa

Sebenarnya saya tak tega "mengusir" anak-anak itu. Tetapi waktu telah dini hari. Kita sudah harus beristirahat. Saya, anak-anak itu, dan juga komputer-komputer di ruangan warnet ini. Saya bilang ke anak-anak itu: "kembalilah besok hari!"

Awalnya warnet ini buka dari pagi hingga pagi lagi, namun setelah mempelajari kebiasaan pelanggan di area ini yang rata-rata mengakses internet hanya sampai jam 12 malam, maka kami memutuskan untuk menutup warnet tepat jam 2 dini hari. Apalagi sekarang tarif listrik naik. Dengan menutup warnet lebih cepat dari biasanya, maka akan menghemat pemakaian listrik untuk komputer dan pendingin ruangan. Pola tidur kami juga akan lebih teratur dan dengan demikian kondisi stamina tubuh juga akan tetap terjaga. Begitulah harapan kami sehingga mulai bulan Juli ini kami menutup warnet lebih awal.

Kembali ke anak-anak tadi, soal "pengusiran" yang saya lakukan, saya lalu mencari sebuah pembenaran/rasionalisasi terhadap perlakuan saya kepada mereka. Bahwa anak-anak muda seperti saya dan juga mereka memang harus dibiasakan untuk selalu pulang ke rumah, lebih-lebih ketika malam hari. Disitulah fungsi rumah menurut saya. Rumah harus menjadi tempat kita berpulang. Seberapapun jauh kita menjelajah, rumah haruslah menjadi tempat kita kembali untuk menghimpun tenaga, pemikiran dan segala kebutuhan penjelajahan kita di bumi ini besok hari.

Tidak mudah memang untuk kembali ke rumah apalagi jika keindahan di luar rumah begitu menggoda. Itulah barangkali, kepada setiap kerabat yang baru saja melangsungkan hubungan pernikahan kita selalu mendoakan agar mereka menjadi keluarga yang sakinah, mawahdah warahmah. Ya, semoga limpahan kasih sayang Allah selalu tercurahkan kepada keluarga tersebut. Semoga dengan kasih sayang inilah yang akan membentengi kita dari godaan-godaan di luar rumah.

Saya dan juga anak-anak tadi saat ini barangkali tidak sedang membangun sebuah rumah tangga. Namun kebiasaan pulang ini, menurut saya, harus telah membiasa sejak masih muda. Sebab, di rumahlah kita bisa bertemu dengan diri sendiri secara lebih khusyu. Sehingga menciptakan sebuah rumah yang layak sebagai tempat pulang adalah wajib bagi setiap kita.

Maka dengan pembenaran yang saya tulis ini, semoga besok hari ketika anak-anak itu belum juga mau pulang saat malam telah larut, maka saya tidak perlu lagi untuk tak tega mengusir mereka.

* * *

Sabtu, 03 Juli 2010

Argentina vs Jerman (2)


Pertandingan Piala Dunia yang tadinya saya tunggu-tunggu antara Argentina melawan Jerman kini sudah berakhir. Pertandingannya dimenangkan oleh Jerman dengan skor 4-0. Dengan demikian, semua tim yang saya jagokan di Piala Dunia kali ini telah tersingkir. Piala Dunia belum berakhir memang, namun kegairahan saya menonton kini tidaklah sebergairah ketika tim-tim jagoan saya belum tersisih.

Walaupun demikian, saya harus tetap mengucapkan selamat kepada para pendukung Jerman. Kini saya akan menonton Piala Dunia dengan lebih santai. Saya akan tetap mencintaimu sepakbola.

***

Argentina vs Jerman (1)


Saya sedang menunggu pertandingan Piala Dunia antara Argentina melawan Jerman. Ini babak perempat final. Saya berharap Argentina yang memenangkan pertandingan dan melaju ke semifinal. Semalam salah satu jagoan saya, Brasil, telah tersingkir oleh Belanda.

Ya, saya berharap malam ini Argentina yang menang. Jika harapan saya terkabul, maka saya berjanji hanya akan merayakan dalam hati kemenangan Argentina tersebut. Ini untuk menjaga perasaan Anda yang barangkali menjagokan Jerman.

Okelah kalau begitu. Selamat menonton dan salam olahraga.

***

Ke bengkel


Hari ini baru dari bengkel, memperbaiki motor perusahaan (perusahaan dengan karyawan 3 orang, 3 orang karyawan ini masing-masing mempunyai bos bernama diri sendiri). Motor kami itu mendapat perbaikan pada fer di bagian tuas starter kaki. Fer ini sudah tidak nge-fer lagi sehingga pada waktu motor dinyalakan, tuas ini tidak kembali ke posisi semula, ia malah terus turun ke bawah menyerupai posisi tuas standar samping ketika kita memarkir motor. Posisi yang sangat tidak estetis sekali, memang.

Lalu, bagian yang juga mendapat pergantian adalah lampu depan motor. Lampu inilah yang akan dinyalakan jika kita mengendarainya dimalam hari. Lampu ini yang akan menunjukkan yang mana jalan berlubang yang harus dihindari, yang mana polisi tidur sehingga kita tidak membangunkannya, dan lampu inilah yang merupakan mata ke tiga kita saat mengendarai motor.

Yang mendapat pergantian berikutnya adalah stand kaki di bagian kanan. Karet pijakan pada bagian ini sudah aus sehingga perlu diganti dengan yang baru. Selain agar terlihat indah dipandang mata, pergantian ini juga bertujuan untuk kenyamanan kaki saat mengendara.

Saya menunggu beberapa jam sampai semua pergantian itu selesai dilakukan. Ada yang beda memang setelah motor kami pulang dari bengkel dihari ini. Fungsi pada bagian-bagian yang diganti tadi kembali menjadi normal.

Jika motor saja bisa tampak berbeda setelah dari bengkel. Apa lagi kita yang manusia ini. Sepertinya kita perlu pula sesekali atau sering-sering untuk ke bengkel. Memeriksakan diri untuk kemudian mendapatkan perbaikan atau penggantian pada bagian diri yang sudah tidak normal lagi.

Kalau begitu, bengkel manusia dimana ya?

***

Minggu, 27 Juni 2010

Pada awalnya adalah berlari-lari kecil

Malam tadi saya memenuhi undangan seorang teman untuk bermain futsal. Seperti biasa sebelum bermain saya akan melakukan pemanasan dengan berlari-lari kecil menyusuri tepi lapangan. Hal ini merupakan prosedur standar yang saya tetapkan buat diri ini pada setiap kali akan bermain futsal. Ada beberapa manfaat dari pemanasan ini, salah satunya adalah untuk memanaskan otot-otot yang akan dipakai pada saat bermain sehingga nantinya dapat mencegah cedera pada otot-otot itu.

Sambil melakukan pemanasan tersebut biasanya saya akan mengecek sejauhmana ketersediaan stamina yang saya miliki saat itu. Setelah saya mengetahui ketersediaan stamina, kemudian saya akan menakar berapa lama saya akan dapat bermain sebelum nantinya mengalami kelelahan. Jadi, melakukan pemanasan sebelum bermain futsal adalah penting buat saya. Sebab dengan begitu saya akan tahu apakah saya akan bermain menyerang atau bertahan.

Malam tadi, setelah melakukan pemanasan selama kurang lebih 5 menit, akhirnya tibalah giliran saya untuk bermain. Menyadari kondisi stamina yang lagi oke, saya langsung mengambil inisiatif menyerang. Dan hasilnya sebuah gol tercipta melalui kaki saya. Dan saya pun tersenyum. Dan permainan pun berlanjut. Kali ini tetap dengan berlari-lari. Berlari-lari yang tidak lagi kecil.

* * *

Jumat, 18 Juni 2010

Catatan dari Pinggir Lapangan

Tertatih-tatih difase kualifikasi zona comenball, akhirnya Argentina bisa meraih satu tiket ke Piala Dunia 2010. Dan malam kemarin setelah mengalahkan Korea Selatan 4-1, Argentina memastikan diri sebagai tim pertama yang lolos ke babak 16 besar. Prestasi ini seolah menjawab keraguan publik Argentina dan juga pencinta sepakbola akan prestasi kesebelasan ini difase kualifikasi yang lalu.

Jika ada negara yang paling banyak mendapatkan sorotan sebelum bergulirnya Piala Dunia di Afrika Selatan, maka negara itu adalah Argentina. Sebab, dengan memiliki latar belakang pemain yang matang di klub-klub raksasa Liga Eropa, serasa tidak mungkin Argentina harus tertatih-tatih untuk bisa lolos ke Piala Dunia.

Barangkali disinilah ujian dan konsekuensi menjadi tim yang mempunyai nama besar. Prestasi yang diraih harus berbanding lurus dengan nama besar yang dimiliki. Jika prestasi yang diraih kemudian adalah bertolak belakang dengan nama besar itu, maka sorotan dan kritikan akan sering terdengar. Dan konsekuensi dari kritikan selalu hadir bagaikan pisau bermata dua, tergantung pada bagaimana kita menyikapi kritikan tadi. Pada mata pisau yang satu, kritikan bisa mendorong ke prestasi yang luar biasa. Pada mata pisau yang satunya lagi, kritikan bisa membawa pada keterpurukan yang juga luar biasa.

Maka, jika semalam Argentina menjadi tim pertama yang lolos ke babak 16 besar, saya meyakini bahwa kesebelasan ini telah menjadikan kritikan dan keraguan publik sebagai sebuah pembelajaran dan pendorong ke arah pencapaian prestasi yang lebih besar. Tentunya, dengan pencapaian yang diperoleh malam kemarin, banyak kalangan berharap agar Argentina bisa terus menang hingga nantinya memenangi Piala Dunia.

Namun, Piala Dunia belum berakhir. Masih banyak pertandingan yang harus dilewati untuk menentukan siapa yang berhak mengangkat trofi dan menerima tepuk tangan. Kita masih akan menunggu, menonton, dan mendukung favorit kita masing-masing.

Saya pun menaruh harapan pada Argentina. Ini bukan berarti kesayangan saya adalah Argentina. Hati saya masih untuk Brasil, walaupun sesekali datang bisikan untuk memihak pada anak-anak muda Spanyol. Namun saya tak bisa membohongi diri kalau ternyata diam-diam saya telah jatuh cinta pada Argentina.

Jatuh cinta saya ini lebih kepada bahwa jika Argentina nantinya memenangi Piala Dunia 2010 maka inilah yang akan tertulis dalam sejarah:
Tertatih-tatih dibabak penyisihan pra piala dunia, dikritik dan diragukan bisa lolos ke Afrika Selatan lalu kemudian lolos. Meraih poin penuh dipenyisihan grup, bermain (berjuang) babak demi babak, lalu akhirnya Argentina memenangi Piala Dunia 2010.
Pencapaian Argentina ini nantinya akan dapat mengispirasi siapa saja. Ini akan memberitahukan kepada kita bahwa hidup ternyata bukan hanya persoalan nama besar. Hidup juga bukan hanya persoalan menang dan kalah. Tetapi hidup pastilah tentang perjuangan. Man jadda wajada.

***

Sabtu, 15 Mei 2010

Di Kamarku, Di Diriku

Nyamuk-nyamuk mabuk
Dengan perut penuh darah
Otak-otak muak
Dengan dada penuh marah

***

Selasa, 11 Mei 2010

Masyarakat Panjang Umur

Berapa tahunkah bilangan umur seseorang sehingga ia dikatakan berumur panjang? Apakah 40, 50, 60, atau 70? Jika, patokan umur manusia didasarkan pada umur Rasulullah Muhammad SAW (63 tahun), maka seseorang akan dikatakan berumur panjang jika ia bisa menyamai ataupun melebihi umur Rasulullah. Jika memang demikian, bagaimanakah caranya agar kita bisa sampai ke umur panjang itu? Ada banyak cara tentunya. Barangkali bisa dengan memelihara makanan, memelihara tubuh, memelihara pikiran dan memelihara hati. Namun, rahasia berumur panjang ini sebenarnya telah diungkap oleh Rasulullah SAW melalui hadist Beliau yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menjalin silaturrahim”.

Saya tertarik untuk menulis perihal panjang umur dan silaturrahim ini, karena minggu lalu dalam beberapa hari saya baru saja mengunjungi kota Sengkang Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Mengunjungi kota ini, saya menyaksikan pemandangan yang berbeda ketika saya mengunjungi kota-kota lainnya di Sulawesi Selatan. Di kota ini saya menemukan ada banyak sekali toko yang berdiri hampir disetiap sudut kota. Sehingga secara pribadi, saya menjuluki kota ini dengan kota sejuta toko. Aktifitas perdagangan di kota ini juga sangat ramai. Teringat hadist di atas saya lalu membuat asumsi sendiri, bahwa inilah kota yang masyarakatnya akan berumur panjang. Mengapa bisa demikian. Karena dengan aktifitas perdagangannya, maka setiap waktu masyarakat di kota ini akan banyak melakukan hubungan-hubungan dagang dengan pihak lain. Dan hubungan dagang ini akan bisa berjalan dengan baik jika dilakukan dalam hubungan kasih dan sayang (silaturrahim).

Maka, saya berharap akan ada pihak yang bersedia untuk membuktikan asumsi saya tadi bahwa masyarakat Sengkang adalah masyarakat yang berumur panjang. Barangkali mahasiswa yang lagi bingung dalam menemukan topik tugas akhir bisa mengangkat judul tentang hal ini.

***

Alfabet

Alfabet merupakan huruf-huruf yang dikembangkan oleh bangsa Inggris yang didasarkan pada alfabet Romawi yang usianya kira-kira 2.500 tahun. Sebelum alfabet-alfabet ditemukan, manusia menggunakan gambar-gambar untuk merekam peristiwa-peristiwa atau menyampaikan gagasan-gagasan. Sebuah gambar dari beberapa kijang bertanduk dapat berarti “Ini adalah daerah perburuan yang baik”. Jadi, ini sebenarnya adalah suatu bentuk penulisan. Tulisan gambar ini sangat dikembangkan oleh Bangsa-bangsa Babilonia, Mesir, dan Cina Kuno. Lambat laun, tulisan gambar mengalami perubahan. Gambar, bukan hanya berarti obyek yang digambar, tetapi juga mewakili gagasan yang berhubungan dengan obyek yang digambar tersebut. Misalnya, gambar kaki mungkin menunjukkan kata kerja “berjalan”. Tingkat penulisan ini disebut ideografik atau tulisan gagasan. Kesulitan pada jenis tulisan ini adalah bahwa pesan-pesan dapat ditafsirkan oleh orang yang berbeda-beda dengan makna yang berbeda-beda pula. (http://ceritakan.com)

Maka, hari ini saya musti berterimakasih kepada bangsa yang telah menemukan alphabet A-Z itu. Sebab, jika tidak karena mereka, maka saya tak tahu harus menggambar apa untuk sebuah maksud sederhana yang ingin saya tanyakan kepadamu: “Apa kabar?”

***

Kamis, 06 Mei 2010

Adakah ia Di Kotamu

Aku dapat tiba-tiba mencintai suatu kota. Ketika disana aku temukan perempuan-perempuan. Yang membuatku tiba-tiba jatuh cinta. Yang membuatku jatuh cinta diam-diam.

* * *

Minggu, 02 Mei 2010

Akan kuceritakan tentang kotaku

Kepada: Makassar (yang) Tidak Kasar

Saya lahir, bertumbuh, dan bersekolah hingga menamatkan SMU di kota Raha, Sulawesi Tenggara. Setelah itu, saya melanjutkan kuliah ke Makassar. Telah 8 tahun saya berada di kota ini. Ketika dulu mengunjungi Makassar untuk berkuliah saya diberikan sebuah nasehat sebagai bekal merantau. Nasehat ini mungkin terdengar lucu bagi orang-orang yang telah lama menghuni Makassar. Namun bagi kami yang berasal dari sebuah kota kecil, nasehat ini bisa begitu berharga. Disatu sisi, nasehat ini adalah wangsit bagi keselamatan kami. Disisi lain, nasehat ini bisa menghindarkan kami dari cap sebagai orang kampungan.

Nasehat itu berbunyi seperti ini: “Yang pertama kali harus kamu pelajari di Makassar adalah tentang bagaimana menyeberangi jalan. Karena Makassar bukan seperti kota kecilmu Raha. Di kotamu Raha, kamu masih dapat menunggu kendaraan sepi jika kamu hendak menyeberang. Namun di Makassar tidak. Maka pelajarilah cara menyeberang ini, atau kamu akan selamanya berdiri di tepi jalan. Atau jika kamu ingin selamat."

Nasehat ini masih saya ingat. Sebab menurut guru saya, di jalan raya orang bisa tiba-tiba menjadi punya hak untuk terburu-buru. Sehingga dalam keterburu-buruan ini, orang bisa jadi tidak peduli kepada orang lain, apalagi hanya kepada seorang penyeberang jalan. Maka, nasehat ini akan tetap saya simpan dan saya akan mewariskannya kepada anak-anak muda dari kotaku yang kelak akan mengunjungi Makassar.

Sebagai mahasiswa rantau, saya dihadapkan pada keharusan untuk bersosialisasi dan berkenalan dengan teman-teman baru. Dalam berkenalan ini saya juga dihadapkan pada sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Dan dalam pertanyaan-pertanyaan ini, ada satu pertanyaan yang selalu membuat saya jengkel. Mengetahui bahwa pertanyaan ini bisa menjengkelkan saya, maka saya telah mempersiapkan diri agar tidak jengkel jika saja pertanyaan itu benar-benar ditanyakan. Pertanyaan itu gampang saja sebenarnya. Karenanya, menjawabnya pun juga gampang. Namun, karena kegampangan ini-lah saya selalu saja menemui perasaan jengkel. Jika nasehat mengatakan bahwa dibalik kesukaran ada kemudahan, maka nasehat untuk perasaan saya ini adalah dibalik kegampangan ada kejengkelan.

Kejengkelan saya itu berawal dari pertanyaan ini: “Dari mana kamu berasal?” Hoho... lihatlah betapa sederhananya ia, hanya terdiri dari empat kata. Mendapat pertanyaan ini, kemudian saya akan menjawab “Raha”. Kemudian si penanya akan bertanya kembali “Raha? Dimana itu? Nusa Tenggara?” Lalu, saya akan menjawab lagi, “Bukan, Raha masih di Sulawesi, Sulawesi Tenggara”. Kemudian si penanya tadi akan bertanya lagi, “Sulawesi Tenggara? Kendari ya?” Saya akan menjawab lagi, “Bukan, Kendari itu Ibukota Propinsi, sedangkan Raha ada di Kabupaten Muna”.

Setelah itu biasanya tanya jawab tadi akan berakhir dan menyisakan kejengkelan yang menjengkelkan dalam diri ini. Oh, betapa kotaku itu tidak terkenal memang, tetapi jika ada yang meragukan apakah kotaku itu terdapat di peta Indonesia, maka pertanyaan itu akan menambah penderitaanku yang sejak awal memang sudah menderita dengan kejengkelan-kejengkelan di atas.

Akhirnya, belajar dari pengalaman itu, saya jadi tahu bahwa jika penderitaan bisa berawal dari hal-hal yang sederhana, maka jangan-jangan kebahagiaan juga bisa berawal dari kebaikan-kebaikan yang sederhana.

Tabik ... :))

Senin, 26 April 2010

Saya terkenang Robocop

Saya gemar bermain bola. Dan kegemaran ini telah saya mulai sejak kanak-kanak. Apalagi halaman rumah saya ketika itu cukup luas untuk memainkan bola sepak. Ditambah lagi, halaman itu ditutupi oleh rumput Jepang yang hijau dan empuk. Saking empuknya, bermain di halaman rumput ini terkadang menimbulkan keinginan untuk mensengajakan diri agar terjatuh. Sekedar untuk merasakan sensasi keempukan dari rumput tadi.


Ah, saya tidak tahu mengapa saya menggemari sepak bola. Mungkin karena saya laki-laki? Ah, mungkin saja. Dan lihatlah, bermain bola ini selalu saja bisa membujuk saya untuk memberinya jatah waktu. Sesibuk apapun kegiatan saya, jika ada teman yang mengajak bermain, saya selalu bisa mengatur ulang jadwal kegiatan saya agar bermain bola ini bisa dimasukkan atau diselipkan diantara jadwal-jadwal itu.


Lalu, inilah kelemahan saya dalam bermain bola. Saya memiliki naluri menyerang yang terlalu tinggi dan nafsu mencetak gol yang begitu besar. Kelemahan ini sebenarnya bisa jadi kekuatan jika ia bersemayam pada orang yang tepat. Namun karena ia bersemayam pada saya, maka jadilah ia kelemahan. Kelemahan yang akan berbuntut petaka kekalahan bagi tim yang saya bela. Betapa tidak, saya yang kerap kali dipasang sebagai bek harus menurutkan naluri untuk menyerang dan memuaskan nafsu mencetak gol itu. Okelah kalau penyerangan saya yang bernafsu tadi membuahkan gol, pastilah tidak mengapa. Nah, bagaimana jika tidak? Bagaimana jika tiba-tiba terjadi serangan balik dari lawan? Dan inilah yang sering terjadi : gol tidak tercipta dan tim lawan dengan tiba-tiba berbalik melakukan penyerangan. Dan hebatnya lagi, saya lebih sering kalah dalam beradu lari dengan penyerang lawan. Dan kalau sudah begini jadinya, maka tinggal menunggu hitungan detik saja bola sudah akan masuk menggelinding ke gawang kami.


Lantas, setelah menyadari kelemahan saya ini, apakah saya memperbaikinya? Oh.. ho.. tidak. Saya tetap saja mengulanginya. Sambil berharap bahwa pada penyerangan saya yang kesekian kalinya akan benar-benar tercipta gol dari kaki saya. Itulah mimpi saya setiap bermain. Karena walaupun umur saya telah beranjak, namun pemahaman saya masih tetap seperti masa kanak-kanak dulu. Bahwa siapapun yang mencetak gol, apalagi jika timnya kemudian menang, maka si pencetak gol itu yang akan dikenang sebagai pahlawan. Dan karena kepahlawanannya ini maka peluang dia untuk menjadi idola akan semakin besar. Bukankah ini manusiawi?


Ya, begitulah saya memandang soal idola-mengidolai sesuatu. Mesti ada sebuah aksi kepahlawanan sebelum sesuatu itu layak disebut sebagai idola. Maka, jika pada masa kanak-kanak dulu saya mengidolakan Robocop, ya, tadi itu alasannya. Ada aksi kepahlawanan yang telah dipertontonkan oleh Robocop dalam filmnya. Dan aksi itu telah mengisi salah satu ruang dalam hati saya.


Lalu, jika sang idola harus menunjukkan aksi kepahlawanan agar disebut sebagai idola, lantas apa yang harus dilakukan oleh seseorang agar disebut sebagai fans? Saya rasa, tak ada keharusan bagi seseorang untuk menunjukkan sesuatu agar ia disebut sebagai fans. Karena dengan naluri sebagai fans pastilah dengan sendirinya seseorang tadi akan memperlihatkan kepada orang lain bukti ke-nge-fans-annya pada idolanya.


Dan inilah bukti bahwa saya mengidolai Robocop. Ketika kecil dulu saya memiliki baju kaos yang bergambarkan Tokoh ini. Lalu dengan bangga saya memakainya dan memamerkannya pada teman-teman sepermainan saya. Mulai dari teman seperkelerengan, seperbolaan, seperhujanan, seperlayangan, hingga teman sepernakalan.


Namun, jika hanya sekedar idola, maka ingatan saya terhadap Robocop ini tidak akan seterang sampai hari ini. Sebab banyak idola saya ketika kecil dulu, kini tak terkenang lagi. Jika hari ini, saya masih mengenang Robocop, itu karena Robocop ini merupakan kata pertama yang berhasil saya eja dengan benar pada masa-masa dulu saya belajar membaca. Dan setelah berhasil mengeja kata Robocop tadi, saya kemudian menemukan betapa membaca adalah sebuah kesenangan.


Maka ketika hari ini dunia merayakan Hari Buku dan mengenang Shakespeare, saya terkenang Robocop-ku.


Selamat Hari Buku, 23 April :))

Selasa, 30 Maret 2010

Selamat Ulang Tahun

PADA setiap tahun yang tak berulang, kita berulang tahun
Merayakan usia yang seperti lilin
Menyala perlahan, memendek perlahan

Pada setiap ucapan selamat ulang tahun, berulang kali kita dikirimi doa
Doanya pendek, semoga panjang umur bunyinya
Namun kita yang berulang tahun tahu, bahwa usia bisa jadi sebentar saja




* * *

Sabtu, 13 Maret 2010

Bayarlah Dengan Uang Pas

Wahai Pak Sopir
Tak bosankah kau mendengar
Kata yang itu-itu lagi
Kata yang itu-itu saja

Oh, tentu saja, aku tak boleh bosan
Karena setiap kali kata itu aku dengar
Di setiap dengarku itu aku akan melihat senyum istriku

Di setiap kali kata itu diulang-ulang
Di setiap ulangan itu aku akan melihat
Tawa anakku yang berulang-ulang

Maka jika engkau sudah sampai
Teriakkanlah kata itu wahai Anak Muda
“Kiri, Pak Sopir !”

01/03/2010

Bertetangga

Semoga Allah mengampuni
atas perbuatanku selama ini

"Demi Allah, tidak beriman,
Demi Allah, tidak beriman,
Demi Allah, tidak beriman."

Ditanyakan kepadanya,
Siapakah dia itu ya Rasulullah?

Beliau menjawab,
"Yaitu orang-orang yang tetangganya
merasa tidak aman dari kejahatannya."

(H.R. Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

Senin, 08 Maret 2010

Pilih Mana

Apa yang lebih murah
daripada gratis
Tak ada yang lebih mahal
daripada ikhlas

(08/03/2010)

Minggu, 07 Maret 2010

Seperti Hujan Seperti Sajak

Aku ingin menjadi hujan
Membasahi hatimu yang sedang kemarau
Seperti peribahasa itu
Kemarau setahun dihapus hujan sehari

Aku ingin menjadi berarti
Pada hidupmu yang sendiri
Seperti sajak itu
Sekali berarti sudah itu mati

(07/03/2010)

Sabtu, 06 Maret 2010

Jika Tak Seberapa

Seberapakah jauh
engkau dapat melempar

Seberapakah kencang
engkau dapat berlari

Seberapakah kokoh
engkau dapat menahankan pukulan

Seberapakah lincah
engkau dapat menghindari lemparan batu

Jika tak seberapakah
berhentilah, pulanglah

(06/03/2010)

Jumat, 05 Maret 2010

Senin

DISINI tak ada kalender
sebab itulah waktu di tempatku
seenaknya saja datang dan pergi

Kecuali hari ini
Senin duduk betah disampingku
karena kuajak ia untuk bercerita
perihal pertandingan bola semalam

Di sampingku ia duduk bermanis-manis
menunggui Selasa yang akan menjemputnya

Rabu, 03 Maret 2010

MencintaiMU

Seperti tetes air melubangi batu keras
Setetes-setetes terus menetes
Seperti itulah aku ingin mencintaiMu


Seperti peribahasa itu
Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit
Seperti itulah aku ingin mencintaiMu


(03/03/2010)

Selasa, 02 Maret 2010

Rakib dan Atid

Sebelum kita benar-benar diam
Akan selalu ada yang merekam
Dari bahu kanan, juga dari bahu kiri

Tak perduli kita bergerak atau diam
Mereka akan tetap diam-diam merekam

Begitu seterusnya
Sampai kita benar-benar diam

(01/03/2010)

Mati Lampu

Aku terbiasa mencaci memaki
Ketika tiba-tiba lampu itu mati
Padahal jika aku yang tiba-tiba mati
Barangkali takkan ada lampu di alamku nanti


Ah, akan kutabung saja cahaya lampu
Yang tidak kupakai malam ini
Biar bisa kunyalakan nanti
saat aku mentraktir mungkar dan nangkir

(17/02/2010)

Tanggal Muda

Di umur yang perlahan mulai menua
Pada angka-angka kalender yang juga menua
Ada yang tak sabar merindukan tanggal muda

01/03/2010)

Apakah Anda Punya Obeng

1
Bagaimana berpuisi untuk
Menanyakan nama seorang gadis

Sederhana saja
Kau rangkai saja huruf-huruf
Yang menyatakan maksudmu itu

Atau kau tanyakan saja kepada si gadis
Seperti tanya teman saya
Apakah anda punya obeng

Kalau dia bilang tidak punya
Kau bertanya lagi
Obeng tidak punya tapi nama punya kan

Begitu saja
Sederhana bukan


2
Kalau nama sudah kenal
Lalu lama-lama ada rindu pada si gadis
Bagaimana berpuisi untuk
Menanyakan kabar pada si gadis

Sederhana saja
Kau rangkai saja huruf-huruf
Yang menyatakan maksud rindumu itu
Cukup itu saja

Apa kabar

Setelah Kata

Setelah kata amin, doa pun terpanjatkan
Setelah kata kiri, angkot pun tersetopkan
Setelah kata siap, tugas pun tertuntaskan
Setelah kata tak ada lagi, yang ada hanya diam

Izinkan Aku

Izikan aku, mohonku padaMU
Disuatu malam, dalam hatiku
Aku harus bisa, aku harus menang

Perempuan Kupu-kupu

Gambar Karya Michael Maier, Serenade of Love (2007)

Disepanjang tipis-gaunnya terpesonalah pantai itu

pada lekuk biola di sekujur semesta tubuhnya


Pada debur gesekan ombak

Bersenandunglah gelombang dawai dalam gemuruh bisikan pasir


Dibulatnya cahaya matahari bermainlah sepasang elang

Membujuk terbang perempuan kupu-kupu


Lalu, berkeluhlah ia hanya kepada putihnya buih:

Tak kulihat karang buat penambat

Ombang-ambingnya hatiku