Kamis, 17 Januari 2019

Pendidikan Membaca pada Anak

Assalamu'alaikum, apa kabar 2019?

Tulisan berikut ini saya salin dari beranda facebook seorang Teman.


* * *


Dulu,  saat saya masih aktif jadi guru privat,  saya pernah terkejut saat mendapati anak usia 4 tahun belum bisa menyebutkan nama binatang dan sayuran yang umum dilihat yang ada di sebuah buku cerita anak.  Setelah ditelusuri,  ternyata anak itu belum pernah dibacakan buku apapun dari bayi. Empat tahun usianya,  belum pernah dibacakan buku! 

Bukan,  saya bukan sedang mengkritisi kecerdasannya. Saya mengkritisi kenapa hingga usia 4 tahun orang tuanya gak pernah membacakan buku apapun ke anaknya. Dan kemudian, tiba-tiba mengeleskan anaknya baca tulis hitung!

Anak usia 4 tahun, sebelumnya gak pernah dibacain buku, lalu mau les calistung! 

Masya Allah

Kalo boleh saya ibaratkan, ini sama aja kayak gelas kosong yg dingin lalu tiba2 disiram air panas mendidih dari kompor. Apaa yg terjadi? Retak, pecah, umeb lah otaknya. 

Belakangan,  seiring bertambah seringnya jam terbang ngelesin, saya semakin terkejut karena kasus seperti ini ternyata UMUM terjadi. Banyak sekali orang tua yg gak pernah membacakan buku pada anaknya dari bayi,  kemudian ujug2 tiba2 mengeleskan anaknya membaca. Atau membiarkan anaknya masuk TK/SD untuk diajari membaca.  Usia 5tahun, 6tahun, belum pernah dibacain buku dan tiba2 disuruh cepet bisa baca. 

Pak, Bu yang bijaksana
Sungguh anak itu bukan kelinci percobaan yang bisa kita coba-coba kemampuan otaknya sesuka hati. 

Anak itu baruuu boleh diajarkan membaca saat sudah seriiiiing dibacain buku,
saat sudah luluuus kemampuan pra membacanya seperti menggunting, menghubungkan titik-titik, memahami konsep cerita dll. 

Emang apa bedanya anak yg biasa dibacain buku dan yg gak biasa dibacain buku saat mereka belajar membaca? 

BEDA. Saya membuktikan sendiri keduanya berbeda. 

Anak yg biasa dibacain buku akan fokus MEMAHAMI BACAAN. Sedangkan anak yang gak biasa dibacain buku akan fokus MEMBACA TULISAN.

Misal,  ada gambar buku yang di bawahnya bertuliskan B-U-K-U
Anak yg biasa dibacain buku akan dengan spontan berkata BU-KU meski belum diajari mengeja. Dia tahu kalo itu gambar buku, maka tulisan di bawahnya adalah buku. 

Sementara anak yg gak biasa dibacain buku, akan dengan susah payah mengeja tulisan itu. 

be u BU
ka u KU
BU KU

Ya.  Dia fokus pada tulisan. Bukan konteks. 

Maka,  mengajari anak yg gak biasa dibacain buku ituuu lebih susah karena si anak lebih fokus MEMBACA TULISAN,  bukan MEMAHAMI BACAAN. 

Yang model begini,  kalo udah mahir membaca lalu disuruh membaca satu cerita utuh, dia hanya akan sekadar membaca tulisannya.  Saat ditanya,  apa isi ceritanya? Dia gak tau. 

Murid les saya banyak yg begini.

Beda dengan yg biasa dibacain buku, dia MEMBACA untuk MEMAHAMI. Saat sudah mahir membaca dan disuruh membaca satu cerita utuh, dia akan bisa menjelaskan ulang isi cerita tersebut. Bahkan ditambahin komentarnya tentang cerita tersebut. Atau bahkan melontarkan pertanyaan2 terkait cerita yg dibaca.

See?

Logika yang benar itu, biasain membacakan buku pada anak dulu dari kecil, baruuu ajarin anak membaca. 
Bukaaan bisa baca dulu baru dibiasain baca buku! 

Efeknya apa di masa depan kalo ujug-ujug diajarin baca?

Yaaa kayak timeline kita sekarang ini. Mudah terprovokasi,  mudah diadu domba,  mudah tersulut emosi, mudah dipecah belah sama informasi apapun yg dibaca. Karena membacanya hanya sekadar membaca,  gak ditelaah dulu,  gak di tabayun dulu. Duuuh

Nah,  balik lagi ke pentingnya membacakan buku pada anak dari kecil,  kita gak mau kan jadi orang tua yg dzalim?
Kita gak mau kan ngerusak otak anak kita sendiri?
Kita gak mau kan anak kita CUMA sekadar bisa MEMBACA?

Maka, 
Pak,  Bu yang bijaksana
Luangkanlah waktumu sejenak
Tatap beningnya mata anak-anak
Penuhi fitrah cinta ilmu sang anak
Ceritakanlah kisah-kisah teladan penuh hikmah yang membutuhkan semangat menyeruak
Bermainlah bersamanya tunjukkan betapa indahnya dunia sambil mensyukuri ciptaan Sang Rozzak
Bacakanlah satu dua buku untuknya jangan mengelak

Pak,  Bu yang baik hatinya
Sediakanlah fasilitas baca yg mumpuni di rumah sendiri
Atau kalo tak bisa,  ajaklah balitamu ke perpus kota minimal seminggu sekali
Sekarang jangan banyak beralasan lagi!

Anak kita berhak memiliki orang tua yang peduli pada kecintaan membaca,  bukan sekadar mahir membaca.

~Novika Amelia

(*)

Selasa, 26 Juni 2018

Libur adalah Kerja

Besok libur lagi. Padahal baru dua hari ini saya ngantor lagi. Besok libur lagi, libur karena pilkada. Padahal di kotaku yang sekarang, Manado, sedang tidak ada pilkada.

Memang asyik Pemerintahan yang sekarang. Nama kabinetnya: Kabinet Kerja. Slogannya: Kerja, Kerja, Kerja. Namun seingat saya, Pemerintahan yang sekaranglah yang paling banyak memberikan kebijakan hari libur nasional.

Besok libur lagi. Walaupun begitu, libur besok bukan berarti kita tidak bikin apa-apa. Bagi yang di daerahnya ada pilkada, datangilah Tempat Pemungutan Suara. Siapa pun Pilihan Anda, pokoknya besok ke TPS, jangan Golput. Begitu pesan Teman saya.

Tulisan ini saya buat saat saya sedang nongkrong disebuah lapak pangkas rambut. Setiap saya berada di pangkas rambut, saya selalu teringat nasehat ini. Salah memilih Pangkas Rambut menyesal selama dua minggu. Salah memilih di pilkada, menyesal selama lima tahun.

Besok libur lagi. Pilihan kita di pilkada besok akan mewarnai kerja kita lima tahun kedepan.

Dan setelah besok, setelah hari-hari sudah mulai bekerja lagi. Mampirlah di lapak Pangkas Rambut kami ini. (*)






Senin, 13 November 2017

Teman Perjalanan bernama Gita

Alhamdulillah, hari ini adalah hari ke dua puluh tiga usia pernikahan kami. Masih baru memang, bahkan belum bisa disebut seumur jagung, karena umur jagung adalah tujuh puluh hari, heheh. Namun di usia pernikahan kami yang baru dua puluh tiga hari ini telah ada begitu banyak hal yang layak ditulis sebagai pengingat bagi saya dan isteri.

Pernah disuatu pagi saya minta dibuatkan sarapan telur mata sapi untuk dimakan di kantor. Saat tiba di kantor, saya mengirim WA ke isteri. 

"Alhamdulillah saya sudah di kantor. Sudah sarapan juga. Enak pake banget telur mata sapinya."

Pernah juga dipagi berikutnya, di meja sarapan, saya bilang ke isteri. Ternyata begini ya enaknya jika punya isteri. Padahal dulu sebelum menikah saya sarapan juga. Tapi beda rasanya jika sarapannya dibuatkan dan dimakan bersama-sama dengan isteri tercinta. Bukan cuma hal sarapan saja. Dari bangun tidur, ngopi atau ngeteh pagi, berangkat kantor,  bertukar kabar saat di kantor, pulang kantor, bahkan sampai ke hal-hal sederhana lainnya, terasa berbeda ketika telah menikah.

Saya mengibaratkan, jika sebelum menikah seperti ada ruang-ruang kosong dalam diri ini, ruang-ruang kosong yang tak kasat mata. Maka setelah menikah, ruang kosong tadi menjadi terisi oleh kehadiran peran seorang isteri.

Saya menyadari bahwa untuk menjadi suami terbaik bagi isteri saya, dan ayah terbaik (insya Allah) bagi anak-anak kami kelak, tidaklah mudah. Tapi saya akan belajar, begitu pula isteri saya. Perjalanan masih jauh. Hari ini baru hari ke dua puluh tiga. Bahtera rumah tangga kami baru saja berlayar. Tapi apapun di depan sana, kami telah mantap untuk memilih menjadi suami isteri.

Sebelumnya kami memang tidak pernah menjalani pacaran. Kami dipertemukan dengan jalan ta'aruf. Dan memang seperti inilah sebenarnya yang telah disyariatkan agama. Setelah menikah kami sepakat menjadi suami isteri sekaligus menjadi teman dan sahabat dalam berbagi.

Pernah disuatu siang isteri saya mengirimkan pesan WA ke saya. Beberapa baris pesan itu tertulis seperti ini:

Terima kasih sudah memilih sy jadi 
istri Mas. Bersusah payah menambah 
amanah utk dijaga, dibina dan 
dilindungi.

Semoga kebersamaan ini dapat saling 
menguatkan, menumbuhkan dan 
mengembangkan masing-masing 
dari kita menjadi pribadi yg lebih baik
dan memberikan manfaat yg lebih 
luas.

Terima kasih Mas, sudah 
menggenapkan separuh agama sy.
Maafkan istrimu ini... dengan segala 
kelemahan, keanehan dan sok
kuatnya.

Ana uhibbuka fillah

* * *

Saya membaca pesan WA isteri saya tadi, tetapi baru sembilan hari kemudian mampu saya kirimkan balasannya. Saya membalasnya dengan sebuah kalimat pendek. Aamiin Allahumma Aamiin. Begitu bunyinya. Semoga Allah mengabulkannya. Walaupun setiap hari bersama dan berkomunikasi, namun untuk beberapa pesan yang hendak kami kenang, kami meyampaikannya lewat pesan tertulis melalui WA. Kadang kami mengirimkan pesan melalui WA, padahal kami sedang duduk berdampingan. Begitulah kami. Kadang lucu juga, wkwkwk.

Sebelum menikah dulu, di pertemuan ta'aruf kami pernah terlibat diskusi singkat tentang apa itu pernikahan. Isteri saya yang saat itu belum menjadi isteri dengan tegas menjawab: Pernikahan itu bukan hanya sekedar bersama di dunia saja, namun berharap kemudian dapat dikumpulkan bersama dengan anak cucu keturunan di syurga-Nya kelak. 

Setelah diskusi itu, beberapa hari kemudian saya bersilaturahim ke kedua orangtuanya. Menyampaikan maksud untuk melamar anak perempuan mereka. Pantun  berbalas, maksud berjawab. Alhamdulillah lamaran saya diterima. Dua bulan kemudian kami menikah. Tanggal 2 Shafar 1439 H. Perjalanan pun dimulai. Bismillah.

Menikah memang bukan perjalanan singkat. Menikah adalah perjalanan jauh, menempuh batas-batas dunia untuk mencari keridhaan Allah sehingga berharap dipertemukan kembali di syurga Allah kelak.

Saya teringat sebuah pepatah yang mengatakan: If  you want to walk fast, walk alone. If you want to walk far, walk together. Jika kamu ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika kamu ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama.

Perjalanan sudah kami mulai. Dan, teman perjalanan jauh ini bernama Gita.

Semoga Allah selalu membimbing langkah kami. Aamiin Allahumma Aamiin. (*)

Jumat, 22 September 2017

Banyak Deadline

Di saat-saat seperti hari ini, benarlah apa yang dipesankan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." 
(HR. Al-Bukhari)

(*)