Jumat, 22 September 2017

Banyak Deadline

Di saat-saat seperti hari ini, benarlah apa yang dipesankan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." 
(HR. Al-Bukhari)

(*)

Kamis, 09 Februari 2017

Heheh

Sejak satu tahun terakhir ini, teman-teman kantor menjadi lebih antusias dan bersemangat setiap kali akhir pekan datang. Sebab, setiap akhir pekan kami punya agenda rutin bermain futsal. Pada awalnya kegiatan main futsal ini hanya sebagai ajang silaturahim teman-teman yang terpisah bekerja di beberapa kantor cabang dan anak perusahaan. Selain sebagai sarana silaturahim, beberapa teman juga punya tujuan lain, ada yang ingin mengasah kembali skill bermain futsalnya, menghilangkan kepenatan karena pekerjaan di kantor, menambah pertemanan baru, atau untuk mengurangi ukuran lingkar perut.

Untuk menjaga kesinambungan agenda futsal mingguan ini, saya bertanggung jawab untuk mencari lawan tanding di setiap pekannya. Lawannya tidak boleh itu-itu saja. Lawannya tidak boleh yang sekedar hanya untuk mencari keringat saja. Lawannya harus punya fighting spirit. Lawannya harus punya visi bermain.

Karena tanggung jawab tersebut, makanya setiap pekan paling lambat hari Kamis, saya sudah harus menemukan lawan tanding yang bersedia main di Jum'at malam atau di Sabtu pagi. Sepak terjang Tim Futsal kami juga sudah mulai diperhitungkan oleh lawan-lawan yang pernah kami hadapi. Seringkali kami ditantang untuk bertanding ulang pada kesempatan berikutnya. Gara-gara futsal ini juga, Alhamdulillah lingkaran pertemanan saya menjadi bertambah luas.

Minggu lalu agenda main futsal kami gagal karena lawan yang awalnya sudah bersedia main tiba-tiba membatalkan janji. Pembatalan itu terjadi di Jum'at pagi. Padahal janji bermain adalah di Jum'at malam sebentar lagi. Dengan sangat menyesal dan meminta maaf, teman saya di Tim Lawan itu menyampaikan kabar pembatalan main. Alasannya karena ada teman mereka yang malam sebelumnya mengalami kecelakaan mobil.

Beberapa minggu sebelumnya, kami juga pernah batal bermain futsal. Kali ini lawannya sudah ada. Janji bermainnya adalah di Jum'at malam juga. Namun hingga selepas Shalat Jum'at, beberapa lapangan futsal yang kami hubungi ternyata sudah full dibooking semua. Saya bahkan meminta barangkali ada lapangan cadangan yang bisa disewakan, ternyata tidak ada juga. Akhirnya, teman-teman kami hubungi ulang. Agenda futsal hari itu batal.

Berbeda dengan dua kejadian di atas tadi, sampai malam ini, malam Jum'at, belum ada satu pun Tim Futsal yang saya hubungi untuk melawan kami. Kami memang berencana tidak main futsal dulu untuk akhir pekan besok. Namun ajaibnya, sehabis Isya tadi ketika saya membuka ponsel, sebuah pesan masuk. Isinya adalah ajakan untuk bermain futsal. Lapangan sudah dibooking. Lawan siap, lapangan siap. Pokoknya tinggal datang bermain saja. Bukan hanya satu ajakan. Kali ini ada dua lawan yang mengajak bermain. Semuanya sudah menyiapkan lapangan. Dan kedua lawan ini bukan lawan sembarangan. Semuanya punya skill yang tidak main-main.

Heheh.. Membaca pesan ajakan bermain futsal selepas Isya tadi, saya jadi merenung dan tersenyum sendiri. Beberapa minggu sebelumnya kami bersusah-payah ingin main futsal, namun akhirnya tidak jadi karena lapangan full-bookingan semua. Sedangkan minggu lalu kami sudah hampir pasti bermain futsal, eh tiba-tiba lawan membatalkan janji tepat di hari H ketika sudah tidak memungkinkan lagi mencari lawan pengganti.

Heheh.. barangkali begitulah kehidupan ini. Kadang-kadang sesuatu itu perlu susah-payah kita usahakan, kadang-kadang pula sesuatu itu datang begitu saja tanpa kita sangka-sangka.

Heheh.. (*)


Rabu, 23 November 2016

Kebaikan-kebaikan sederhana

Hari ini saya banyak mendapat kebaikan-kebaikan sederhana dari orang lain.

Siang tadi, pas mau bayar makan siang di warung langganan saya, uang terkecil di dalam dompet hanyalah dua belas ribu, padahal harga makanan saya tiga belas ribu. Saya ingin membayar dengan uang yang lebih besar, tidak ada kembalian. "Nanti saja Mas seribunya, nanti makan berikutnya lagi", kata si Penjaga Warung.

Setelah makan, saya singgah di Tukang Tambal Ban. Saya hendak melakukan perjalanan motor ke kabupaten sebelah. Ban belakang motor saya sedikit kempes, mau saya tambah anginnya. Ceritanya hampir sama dengan di warung makan sebelumnya. Si Tukang Tambal Ban juga tidak punya uang kembalian. "Dibawa saja dulu duitnya Bang, nanti kalau lewat sini lagi baru dibayar", kata Si Tukang. Alhamdulillah, perjalanan saya ke kabupaten sebelah berjalan mulus dan urusan saya disana juga berjalan lancar. Saya tiba kembali di Manado menjelang maghrib.

Melakukan perjalanan motor ternyata bikin lapar. Malam ini saya singgah di gerobak nasi goreng milik teman kost saya dulu waktu masih indekos. Saya memesan nasi goreng putih pakai telur dadar, tidak pakai kecap, tidak pakai saus, tidak pakai vetsin. Saya makan lahap sekali, tak sebiji nasi pun tersisa di piring. Eh, pas mau bayar, teman ini tidak mau mengambil uang saya. "Dipakai buat beli bensin aja uangnya, Bang", kata teman saya itu.

Setelah dari makan nasi goreng, saya mampir sebentar ke kantor hendak mengambil carger hape yang ketinggalan. Saat mau pulang, teman-teman juga datang dari acara menjamu makan malam Bos dari Kantor Pusat. Eh ternyata, saya kebagian sekotak ikan woku hangat khas Manado. "Pak Luq, ini buat dibawa ke rumah", kata teman saya.

Di perjalanan pulang ke rumah, saya bertanya-tanya, kenapa begitu banyak kebaikan-kebaikan tak terduga yang saya terima hari ini. Lalu saya, kebaikan-kebaikan apa yang sudah saya lakukan hari ini? (*)


Kamis, 06 Oktober 2016

Memandangi Hujan

Gambar ilustrasi. Sumber: mediashift.org
Ini bulan-bulan berakhiran ber
Musim hujan datang berember-ember
Orang-orang melangkah bergegas-gegas
Hujan mengguyur menghapus jejak-jejak
Kita berteduh membasuh peluh sejenak

Saling memandang kita saling bertanya
Apakah harus melanjutkan perjalanan
Atau membiarkan hujan hingga mereda
Kita hanya diam memandangi hujan
Ini bulan-bulan berakhir ber
(*)