Senin, 13 November 2017

Teman Perjalanan bernama Gita

Alhamdulillah, hari ini adalah hari ke dua puluh tiga usia pernikahan kami. Masih baru memang, bahkan belum bisa disebut seumur jagung, karena umur jagung adalah tujuh puluh hari, heheh. Namun di usia pernikahan kami yang baru dua puluh tiga hari ini telah ada begitu banyak hal yang layak ditulis sebagai pengingat bagi saya dan isteri.

Pernah disuatu pagi saya minta dibuatkan sarapan telur mata sapi untuk dimakan di kantor. Saat tiba di kantor, saya mengirim WA ke isteri. 

"Alhamdulillah saya sudah di kantor. Sudah sarapan juga. Enak pake banget telur mata sapinya."

Pernah juga dipagi berikutnya, di meja sarapan, saya bilang ke isteri. Ternyata begini ya enaknya jika punya isteri. Padahal dulu sebelum menikah saya sarapan juga. Tapi beda rasanya jika sarapannya dibuatkan dan dimakan bersama-sama dengan isteri tercinta. Bukan cuma hal sarapan saja. Dari bangun tidur, ngopi atau ngeteh pagi, berangkat kantor,  bertukar kabar saat di kantor, pulang kantor, bahkan sampai ke hal-hal sederhana lainnya, terasa berbeda ketika telah menikah.

Saya mengibaratkan, jika sebelum menikah seperti ada ruang-ruang kosong dalam diri ini, ruang-ruang kosong yang tak kasat mata. Maka setelah menikah, ruang kosong tadi menjadi terisi oleh kehadiran peran seorang isteri.

Saya menyadari bahwa untuk menjadi suami terbaik bagi isteri saya, dan ayah terbaik (insya Allah) bagi anak-anak kami kelak, tidaklah mudah. Tapi saya akan belajar, begitu pula isteri saya. Perjalanan masih jauh. Hari ini baru hari ke dua puluh tiga. Bahtera rumah tangga kami baru saja berlayar. Tapi apapun di depan sana, kami telah mantap untuk memilih menjadi suami isteri.

Sebelumnya kami memang tidak pernah menjalani pacaran. Kami dipertemukan dengan jalan ta'aruf. Dan memang seperti inilah sebenarnya yang telah disyariatkan agama. Setelah menikah kami sepakat menjadi suami isteri sekaligus menjadi teman dan sahabat dalam berbagi.

Pernah disuatu siang isteri saya mengirimkan pesan WA ke saya. Beberapa baris pesan itu tertulis seperti ini:

Terima kasih sudah memilih sy jadi 
istri Mas. Bersusah payah menambah 
amanah utk dijaga, dibina dan 
dilindungi.

Semoga kebersamaan ini dapat saling 
menguatkan, menumbuhkan dan 
mengembangkan masing-masing 
dari kita menjadi pribadi yg lebih baik
dan memberikan manfaat yg lebih 
luas.

Terima kasih Mas, sudah 
menggenapkan separuh agama sy.
Maafkan istrimu ini... dengan segala 
kelemahan, keanehan dan sok
kuatnya.

Ana uhibbuka fillah

* * *

Saya membaca pesan WA isteri saya tadi, tetapi baru sembilan hari kemudian mampu saya kirimkan balasannya. Saya membalasnya dengan sebuah kalimat pendek. Aamiin Allahumma Aamiin. Begitu bunyinya. Semoga Allah mengabulkannya. Walaupun setiap hari bersama dan berkomunikasi, namun untuk beberapa pesan yang hendak kami kenang, kami meyampaikannya lewat pesan tertulis melalui WA. Kadang kami mengirimkan pesan melalui WA, padahal kami sedang duduk berdampingan. Begitulah kami. Kadang lucu juga, wkwkwk.

Sebelum menikah dulu, di pertemuan ta'aruf kami pernah terlibat diskusi singkat tentang apa itu pernikahan. Isteri saya yang saat itu belum menjadi isteri dengan tegas menjawab: Pernikahan itu bukan hanya sekedar bersama di dunia saja, namun berharap kemudian dapat dikumpulkan bersama dengan anak cucu keturunan di syurga-Nya kelak. 

Setelah diskusi itu, beberapa hari kemudian saya bersilaturahim ke kedua orangtuanya. Menyampaikan maksud untuk melamar anak perempuan mereka. Pantun  berbalas, maksud berjawab. Alhamdulillah lamaran saya diterima. Dua bulan kemudian kami menikah. Tanggal 2 Shafar 1439 H. Perjalanan pun dimulai. Bismillah.

Menikah memang bukan perjalanan singkat. Menikah adalah perjalanan jauh, menempuh batas-batas dunia untuk mencari keridhaan Allah sehingga berharap dipertemukan kembali di syurga Allah kelak.

Saya teringat sebuah pepatah yang mengatakan: If  you want to walk fast, walk alone. If you want to walk far, walk together. Jika kamu ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika kamu ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama.

Perjalanan sudah kami mulai. Dan, teman perjalanan jauh ini bernama Gita.

Semoga Allah selalu membimbing langkah kami. Aamiin Allahumma Aamiin. (*)





Jumat, 22 September 2017

Banyak Deadline

Di saat-saat seperti hari ini, benarlah apa yang dipesankan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." 
(HR. Al-Bukhari)

(*)

Kamis, 09 Februari 2017

Heheh

Sejak satu tahun terakhir ini, teman-teman kantor menjadi lebih antusias dan bersemangat setiap kali akhir pekan datang. Sebab, setiap akhir pekan kami punya agenda rutin bermain futsal. Pada awalnya kegiatan main futsal ini hanya sebagai ajang silaturahim teman-teman yang terpisah bekerja di beberapa kantor cabang dan anak perusahaan. Selain sebagai sarana silaturahim, beberapa teman juga punya tujuan lain, ada yang ingin mengasah kembali skill bermain futsalnya, menghilangkan kepenatan karena pekerjaan di kantor, menambah pertemanan baru, atau untuk mengurangi ukuran lingkar perut.

Untuk menjaga kesinambungan agenda futsal mingguan ini, saya bertanggung jawab untuk mencari lawan tanding di setiap pekannya. Lawannya tidak boleh itu-itu saja. Lawannya tidak boleh yang sekedar hanya untuk mencari keringat saja. Lawannya harus punya fighting spirit. Lawannya harus punya visi bermain.

Karena tanggung jawab tersebut, makanya setiap pekan paling lambat hari Kamis, saya sudah harus menemukan lawan tanding yang bersedia main di Jum'at malam atau di Sabtu pagi. Sepak terjang Tim Futsal kami juga sudah mulai diperhitungkan oleh lawan-lawan yang pernah kami hadapi. Seringkali kami ditantang untuk bertanding ulang pada kesempatan berikutnya. Gara-gara futsal ini juga, Alhamdulillah lingkaran pertemanan saya menjadi bertambah luas.

Minggu lalu agenda main futsal kami gagal karena lawan yang awalnya sudah bersedia main tiba-tiba membatalkan janji. Pembatalan itu terjadi di Jum'at pagi. Padahal janji bermain adalah di Jum'at malam sebentar lagi. Dengan sangat menyesal dan meminta maaf, teman saya di Tim Lawan itu menyampaikan kabar pembatalan main. Alasannya karena ada teman mereka yang malam sebelumnya mengalami kecelakaan mobil.

Beberapa minggu sebelumnya, kami juga pernah batal bermain futsal. Kali ini lawannya sudah ada. Janji bermainnya adalah di Jum'at malam juga. Namun hingga selepas Shalat Jum'at, beberapa lapangan futsal yang kami hubungi ternyata sudah full dibooking semua. Saya bahkan meminta barangkali ada lapangan cadangan yang bisa disewakan, ternyata tidak ada juga. Akhirnya, teman-teman kami hubungi ulang. Agenda futsal hari itu batal.

Berbeda dengan dua kejadian di atas tadi, sampai malam ini, malam Jum'at, belum ada satu pun Tim Futsal yang saya hubungi untuk melawan kami. Kami memang berencana tidak main futsal dulu untuk akhir pekan besok. Namun ajaibnya, sehabis Isya tadi ketika saya membuka ponsel, sebuah pesan masuk. Isinya adalah ajakan untuk bermain futsal. Lapangan sudah dibooking. Lawan siap, lapangan siap. Pokoknya tinggal datang bermain saja. Bukan hanya satu ajakan. Kali ini ada dua lawan yang mengajak bermain. Semuanya sudah menyiapkan lapangan. Dan kedua lawan ini bukan lawan sembarangan. Semuanya punya skill yang tidak main-main.

Heheh.. Membaca pesan ajakan bermain futsal selepas Isya tadi, saya jadi merenung dan tersenyum sendiri. Beberapa minggu sebelumnya kami bersusah-payah ingin main futsal, namun akhirnya tidak jadi karena lapangan full-bookingan semua. Sedangkan minggu lalu kami sudah hampir pasti bermain futsal, eh tiba-tiba lawan membatalkan janji tepat di hari H ketika sudah tidak memungkinkan lagi mencari lawan pengganti.

Heheh.. barangkali begitulah kehidupan ini. Kadang-kadang sesuatu itu perlu susah-payah kita usahakan, kadang-kadang pula sesuatu itu datang begitu saja tanpa kita sangka-sangka.

Heheh.. (*)


Rabu, 23 November 2016

Kebaikan-kebaikan sederhana

Hari ini saya banyak mendapat kebaikan-kebaikan sederhana dari orang lain.

Siang tadi, pas mau bayar makan siang di warung langganan saya, uang terkecil di dalam dompet hanyalah dua belas ribu, padahal harga makanan saya tiga belas ribu. Saya ingin membayar dengan uang yang lebih besar, tidak ada kembalian. "Nanti saja Mas seribunya, nanti makan berikutnya lagi", kata si Penjaga Warung.

Setelah makan, saya singgah di Tukang Tambal Ban. Saya hendak melakukan perjalanan motor ke kabupaten sebelah. Ban belakang motor saya sedikit kempes, mau saya tambah anginnya. Ceritanya hampir sama dengan di warung makan sebelumnya. Si Tukang Tambal Ban juga tidak punya uang kembalian. "Dibawa saja dulu duitnya Bang, nanti kalau lewat sini lagi baru dibayar", kata Si Tukang. Alhamdulillah, perjalanan saya ke kabupaten sebelah berjalan mulus dan urusan saya disana juga berjalan lancar. Saya tiba kembali di Manado menjelang maghrib.

Melakukan perjalanan motor ternyata bikin lapar. Malam ini saya singgah di gerobak nasi goreng milik teman kost saya dulu waktu masih indekos. Saya memesan nasi goreng putih pakai telur dadar, tidak pakai kecap, tidak pakai saus, tidak pakai vetsin. Saya makan lahap sekali, tak sebiji nasi pun tersisa di piring. Eh, pas mau bayar, teman ini tidak mau mengambil uang saya. "Dipakai buat beli bensin aja uangnya, Bang", kata teman saya itu.

Setelah dari makan nasi goreng, saya mampir sebentar ke kantor hendak mengambil carger hape yang ketinggalan. Saat mau pulang, teman-teman juga datang dari acara menjamu makan malam Bos dari Kantor Pusat. Eh ternyata, saya kebagian sekotak ikan woku hangat khas Manado. "Pak Luq, ini buat dibawa ke rumah", kata teman saya.

Di perjalanan pulang ke rumah, saya bertanya-tanya, kenapa begitu banyak kebaikan-kebaikan tak terduga yang saya terima hari ini. Lalu saya, kebaikan-kebaikan apa yang sudah saya lakukan hari ini? (*)